HomeBeritaGenerasi Milenial Duta Perdamaian

Generasi Milenial Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Membangun perdamaian harus melibatkan semua komponen bangsa, termasuk generasi milenial. Generasi ini dapat menjadi duta muda perdamaian.

Demikian disampaikan Dosen Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, Nurus Shalihin, saat menjadi narasumber dalam acara bedah buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya yang digelar AIDA secara daring, Sabtu, (5/12/2020).

Shalihin meyakini, masa depan perdamaian Indonesia berada di pundak milenial. Oleh sebab itu, keterlibatan milenial dalam perdamaian di Indonesia sangat dibutuhkan. “Generasi muda, paling tidak di kalangan mahasiswa, merekalah nanti yang menjadi duta perdamaian,” katanya.

Baca juga Ketulusan dalam Pemaafan

Ia mengingatkan bahwa aksi-aksi kekerasan masih terus terjadi di Indonesia. Kasus terbaru adalah yang terjadi di Sigi Sulawesi Tengah. Kelompok Mujahidin Indonesia Timur melakukan pembantaian dan pembakaran terhadap sekelompok orang. “Sampai hari ini kekerasan atas nama agama, suku, atau atas nama apa pun masih terus berlanjut,” tuturnya.

Dalam konteks itu dia menekankan pentingnya generasi muda untuk lebih peduli dan memahami akar-akar kekerasan. Berdasarkan pengalamannya mengikuti kegiatan AIDA sebelumnya, Shalihin menyatakan bahwa perspektif korban harus menjadi kesadaran bersama. Pasalnya, korban adalah pihak yang paling menderita dan dirugikan dari aksi-aksi kekerasan.

Baca juga Dakwah Perdamaian sebagai Peran Keumatan Aisyiyah

Terlebih dalam persoalan terorisme, perspektif korban jarang ia temukan, baik dalam konteks akademis maupun sosial. Ia lantas mengajak para peserta kegiatan untuk merenungkan proses dehumanisasi yang dilakukan pelaku kepada korbannya.

“Saya mulai memahami bahwa persoalan kekerasan, apa pun bentuk dan latar belakangnya, adalah sesuatu yang sangat meruntuhkan kemanusiaan. Ada proses dehumanisasi yang dilakukan pelaku terhadap orang lain,” ucap alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang dilaksanakan AIDA secara virtual, Oktober silam.

Baca juga Membangun Perdamaian dengan Cerita

Dalam hemat Shalihin, aksi-aksi kekerasan tidak pernah memertimbangkan orang lain sebagai manusia, sehingga pelaku tidak merasa bersalah ketika menyakiti orang lain. “Ketika saya melakukan kekerasan, itu berarti menjadikan orang lain bukan bagian dari manusia. Maka dari perspektif mantan pelaku, dan terutama korban, kita diingatkan bahwa orang yang kita lakukan kekerasan juga manusia,” katanya.

Lebih jauh ia berharap generasi muda dapat mencari titik-titik persamaan di antara perbedaan-perbedaan yang ada. Menurutnya, selebar apa pun jurang perbedaan itu pasti ada titik kesamaannya. “Orang yang sering melakukan kekerasan seringkali mencari perbedaan,” ujarnya.

Baca juga Islam Rahmat Identik Perdamaian

Ia mengakhiri paparannya dengan mengajak para peserta -yang didominasi kalangan mahasiswa- untuk menghormati orang lain. Sebab menjaga kehormatan manusia adalah perintah agama dan menjadi salah satu cerminan keimanan seseorang. “Jika pikiran kita menempatkan orang sebagai manusia, maka di saat itu tindakan kekerasan dapat dicegah. Menghormati manusia pada harkat dan martabatnya adalah keimanan yang luar biasa,” katanya memungkasi.

Selain Shalihin, AIDA menghadirkan peneliti kajian terorisme UI Solahudin, mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo, penyintas bom Kuningan 2004 Nanda Olivia Daniel, dan penulis buku La Tay’as Hasibullah Satrawi sebagai narasumber kegiatan ini. [AH]

Baca juga Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....