HomeBeritaInspirasi Penyintas untuk Universitas...

Inspirasi Penyintas untuk Universitas Peradaban Bumiayu

Aliansi Indonesia Damai- Josuwa Ramos, penyintas Bom Kuningan 2004, dihadirkan dalam kegiatan Bedah Buku La Tay’as : Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya” yang diselenggarakan secara daring oleh AIDA bekerja sama dengan Universitas Peradaban Bumiayu, Jumat (16/04/2021). Ia berbagi kisah hidupnya sebagai korban pengeboman.

Kamis 9 September 2004, Jo, sapaan akrab Josuwa, menjalankan kewajiban sebagai petugas sekuriti di kantor Kedubes Australia kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Sekitar pukul 10.30 pagi, ledakan terjadi. Dalam ingatannya, suaranya tidak terlalu keras. Namun dampak kerusakannya sangat parah. “Ledakan itu mengguncang gedung sebelah sampai habis. Kaca jatuh seperti hujan sampai 20 menit tak berhenti,” ujarnya mengenang situasi kritis yang dialaminya.

Baca juga Membangun Perdamaian di Universitas Peradaban Bumiayu

Posisi Jo saat itu sekitar 7 meter dari titik ledakan yang bersumber dari mobil yang berhenti di depan Kedubes Australia. Ia melihat rekan-rekannya bergelimpangan. Darah berceceran di banyak tempat. Jo membantu mengevakuasi seorang temannya menuju RS MMC yang tak jauh dari lokasi ledakan. Ia sempat ingin kembali ke kantornya untuk menolong rekannya yang lain. Niat mulia itu urung dilakukan. Ia terjatuh karena kakinya terluka.

Dari pemeriksaan awal, ia diizinkan pulang untuk menjalani rawat jalan. Ia khawatir keluarganya akan panik dan mencarinya. Keluarga Jo bersyukur melihat kondisinya yang terlihat baik-baik saja setelah ledakan yang begitu dahsyat. Akan tetapi 3 hari setelah kejadian, terjadi keanehan dalam tubuhnya. “Kaki saya membengkak, paha sampai betis ukurannya sama. Rasanya panas dan membengkak. Ternyata masih ada serpihan bom dalam tubuh saya,” kata Jo.

Baca juga Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Penyintas Terorisme

Tahun 2007 ia sempat menjalani operasi untuk mengambil proyektil di bagian lututnya karena jika tidak diambil akan merusak jaringan lutut. Hingga saat ini Jo masih harus menjalani perawatan. “Engsel kaki  baru dapat operasi kecil lagi, selaput ligamennya sudah rusak. Harus disuntik cairan sampai ada operasi lagi nanti berikutnya,” ucapnya.

Sempat ada kemarahan dan kebencian dalam diri Jo setelah kejadian yang menimpanya. Namun ia terus berusaha untuk bisa menerima keadaan. Jo belajar meneladani kisah Nabi Muhammad saat disakiti oleh orang lain. “Saya belajar dari riwayat ketika Nabi disakiti, beliau tetap memaafkan. Proses pemulihan saya juga berkat dukungan dari keluarga,” kata Jo.

Baca juga Belajar dari Kehidupan Korban Kekerasan

Kepada 83 mahasiswa peserta kegiatan, Jo berpesan agar selalu berhati-hati dalam pergaulan supaya tidak terjerumus dalam ekstremisme. Ia juga berpesan agar tidak pernah menyimpan dendam kepada yang sudah menyakiti. “Apa pun yang dilakukan, anggaplah itu menjadi suatu ujian. Berpikir positif bahwa itu adalah ujian agar kita terus memerbaiki,” ujarnya memungkasi. [LADW]

Baca juga Generasi Intelektual Duta Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...