HomeBeritaDialog Mahasiswa UMP dengan...

Dialog Mahasiswa UMP dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- Ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengikuti kegiatan Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as; Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, pada Selasa (27/04/2021). Kegiatan daring ini merupakan hasil kerja sama AIDA dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat UMP.

Salah satu narasumber yang hadir adalah mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi. Setelah panjang lebar menceritakan perjalanan hidup bersama kelompok ekstremisme kekerasan dan keputusannya bertobat, sejumlah mahasiswa memberondong Ali dengan beberapa pertanyaan.

Baca juga Mahasiswa Unsoed Meneladani Ketangguhan Penyintas

Salah satu mahasiswa menanyakan tentang hal-hal yang melatarbelakangi terjadinya aksi terorisme. Berdasarkan pengalamannya, Ali Fauzi mengutarakan tiga faktor pemicu. Pertama, pemahaman keagamaan. Kelompok teror meyakini bahwa jihad adalah amal ibadah yang paling utama. “Mereka menganggap jihad hukumnya fardhu ‘ain. Sama seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Maka kelompok teror tak ragu melancarkan aksi,” katanya.

Faktor yang kedua adalah ketidakadilan. Banyak sekali ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Lebih-lebih dalam perkara hukum Indonesia tidak menerapkan syariat Islam. Indonesia lebih berlandaskan pada KUHP dan Pancasila yang mereka anggap sebagai bagian kesyirikan. Sistem demokrasi termasuk dalam target pelabelan syirik.

Baca juga Dialog Mahasiswa Unsoed dengan Penyintas Bom Bali

Adapun faktor yang ketiga adalah konflik global. Kelompok teror banyak yang merujuk pada kekerasan yang dialami oleh umat Islam di Timur Tengah untuk melegitimasi serangan-serangan mereka di Indonesia. “Tidak bisa dipungkiri, setiap ada konflik global, di Suriah, Palestina, selalu berimbas pada aksi teror di Indonesia,” ungkap Ali.

Mahasiswa lain bertanya tentang ciri atau karakteristik teroris. Ali mengatakan, cukup sulit membedakan antara masyarakat biasa dengan teroris, kalau dilihat dari fisiknya saja. Sebab teroris juga kerap melakukan kamuflase atau strategi penyamaran untuk menyembunyikan identitasnya.

Baca juga Berbagi Pengalaman Bertemu Korban dan Pelaku Terorisme

Bahkan tak jarang masyarakat terkecoh dengan penampilan. “Biasanya pascapenangkapan teroris, tetangganya diwawancarai, lalu menjawab ‘oh dia baik, sopan sama tetangga, selalu ke masjid’, ya memang secara kasat mata seperti itu,” kata Ali.

Namun, ketika dibedah pemahamannya, baru akan ketahuan keterkaitan seseorang dengan terorisme. “Jika mengarah kepada pemikiran takfiri, benci terhadap Indonesia, tidak mau hormat bendera, tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, itu merupakan bagian dari pintu- pintu yang mengarah pada pemikiran teroris,” ucapnya.

Baca juga Dialog Mahasiswa Unsoed dengan Mantan Napiter

Oleh karena itu, Ali menyayangkan jika penampilan fisik diidentikkan dengan terorisme. Ia mencontohkan penggunaan cadar. Banyak perempuan bercadar yang justru berpikiran moderat dan menolak aksi terorisme. Cadar, baginya, hanya preferensi berpakaian. Sehingga generalisasi semacam itu tidak dibenarkan.

Di akhir sesi, Ali Fauzi mengajak masyarakat untuk ikut berperan menanggulangi terorisme. Salah satu caranya yang paling mudah adalah dengan menunjukkan empati dan simpati. Ali meminta masyarakat untuk tidak menuduh aksi terorisme sebagai konspirasi elit.

“Jangan kita berpandangan, ini (terorisme) rekayasa, ini pengalihan isu, ini operasi intelijen. Bukan. Jangan ada yang berasumsi macam-macam. Semuanya jelas dilakukan oleh grup-grup yang ingin menggulingkan Indonesia. Dukungan yang kuat terhadap pihak keamanan itu penting,” ujar Ali tegas. [FAH]

Baca juga Merangkul Mereka yang Bertobat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...