HomeBeritaBersinergi Melawan Provokasi Kekerasan

Bersinergi Melawan Provokasi Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai – Rentetan aksi teror terus terjadi di Indonesia. Salah satu pihak yang kerap menjadi target serangan adalah aparat negara, khususnya kepolisian. Salah seorang peserta “Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” memertanyakan alasan aparat negara menjadi target teroris.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh AIDA secara daring pada Kamis (08/07/2021). Lebih dari 100 tokoh agama di wilayah Sulawesi berpartisipasi aktif. Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Ali Fauzi Manzi, mantan pelaku terorisme.

Baca juga Pentingnya Saling Menyalehkan

Merespons pertanyaan di atas, Ali mengungkapkan bahwa teroris menganut paham takfiri, yaitu pengkafiran terhadap sistem politik dan hukum yang berlaku di NKRI, serta menganggapnya sebagai thaghut. Walhasil aparat negara dianggap sebagai ansharut thaghut (pembela thaghut). TNI dan polisi yang menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI boleh diserang. “Menyerang polisi berpahala, karena polisi dianggap menghalangi visi misi untuk menegakkan khilafah islamiyah versi mereka,” ujarnya.

Ali menegaskan, publik jangan sampai terprovokasi terhadap narasi yang dikembangkan kelompok teror bahwa polisi adalah penindas umat Islam. Pasalnya kondisi inilah yang justru disukai oleh kelompok teror, sebab apa yang mereka lakukan seolah mendapatkan legitimasi dari umat. Tidak jarang, masyarakat tergiring dengan opini bahwa aksi teror merupakan hidden agenda dari aparat negara.

Baca juga Menyerukan Semangat Perdamaian kepada Ulama Sulawesi

Dalam pengamatannya, banyak orang yang masih meyakini bahwa terorisme hanya rekayasa, pengalihan isu, dan konspirasi. “Tidak ada campur tangan TNI, BIN, atau polisi. Dari pengalaman saya, tidak ada hidden agent yang punya niatan seperti itu,” katanya.

Menanggapi maraknya isu tersebut, Ali mengajak para peserta untuk tidak tinggal diam. Semakin masyarakat memilih untuk diam, maka akan semakin masif penyebarannya. Setidaknya, hal tersebut merupakan satu langkah kecil yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran hoax yang mengarah pada ekstremisme kekerasan.

Baca juga Islam Rahmat Identik Perdamaian

Ali menyatakan, harus ada sinergi antara pemerintah dengan kelompok Islam, salah satunya dengan melibatkan tokoh agama dalam penanganan terorisme di Indonesia. Salah satu faktor pendorong seseorang masuk ke dalam ideologi ekstrem adalah pemahaman tentang ideologi jihad yang kebablasan. Banyak yang hanya memaknai jihad secara mikro sehingga tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan hadis. Sehingga peran tokoh agama penting untuk meluruskan pemahaman yang keliru.

“Yang salah adalah memaknai jihad secara mikro, bahwa jihad itu hanya membunuh orang-orang kafir. Kalau dia bawa ransel dan diledakkan di pinggir jalan kemudian diklaim sebagai jihad, ya salah kaprah. Ada paham keagamaan yang salah yang perlu diluruskan. Siapa yang bisa meluruskan? Ya tokoh agama,” katanya menegaskan. [WTR]

Baca juga Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...