HomeBeritaDialog Siswa SMAN 1...

Dialog Siswa SMAN 1 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai – AIDA menggelar Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Surakarta pada pekan kedua bulan ini. Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Iswanto, mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang sudah bertobat dan kini aktif menyuarakan perdamaian.

Pada awal paparannya, Iswanto menceritakan sepak terjangnya bersama kelompok ekstrem di usia muda. Ia bahkan pernah terlibat langsung dalam konflik komunal yang terjadi di Ambon dan Poso pada tahun 1999-2000. Saat itu ia memiliki semangat jihad besar yang ia yakini sebagai perang untuk membela agama, sebagaimana yang ia pelajari dari gurunya.

Baca juga Siswa SMAN 1 Surakarta Belajar Ketangguhan dari Penyintas Bom

Namun, tragedi Bom Bali 2002 menjadi titik baliknya. Ia mulai menyoal konsep jihad yang ia pahami kala itu. Ditambah lagi Ali Imron, salah satu gurunya yang tervonis hukuman penjara seumur hidup karena keterlibatannya dalam aksi pengeboman di Pulau Dewata, juga memintanya untuk berhenti dari kelompok ekstrem. Sejak saat itu, ia mengkaji ulang makna jihad dari pelbagai sumber otoritatif. Puncaknya ia berkesimpulan, menuntut ilmu pun merupakan bagian dari jihad.

Setelah paparan Iswanto, muncul beberapa pertanyaan dari  siswa. Seorang peserta  mengungkapkan keingintahuannya mengenai proses pertobatan Iswanto dari kelompok ekstrem. “Apabila kita sudah telanjur masuk dan ingin keluar, kan tidak mungkin langsung bisa keluar karena pasti dicari, bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut?” ujarnya.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 1)

Iswanto membenarkan kondisi tersebut. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bahkan pernah dicari-cari hanya karena pindah kelompok. “Bahkan saya sudah pindah ke organisasi lain saja, meskipun sama-sama di medan perang dan hanya beda jalur saja, itu saya masih dicari oleh organisasi yang lama, masih ditanyakan,” katanya menjelaskan.

Saat sudah berhenti total, salah satu teman kuliahnya yang masih aktif di kelompok ekstrem pernah mencoba mengajak Iswanto kembali bergabung. Namun ajakan tersebut ditolaknya secara baik-baik hingga akhirnya mereka bisa mengerti keputusannya.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 2- Terakhir)

“Saya tolak, meskipun itu teman akrab saya. Saya lebih nyaman bersama masyarakat karena saya mendapatkan banyak kedamaian dan kenyamanan. Saya katakan, apabila kamu tidak suka dengan saya tidak apa-apa. Pada akhirnya, mereka tidak membicarakan masalah jaringan kepada saya. Tapi ya itu harus disampaikan dengan baik,” ucapnya kepada 55 siswa SMAN 1 Surakarta yang mengikuti kegiatan secara daring.

Siswa lain bertanya tentang bagaimana menyikapi teman yang terindikasi memiliki paham ekstrem. Iswanto menjelaskan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak berdialog untuk memastikan bahwa ia benar-benar terpapar paham ekstrem. Namun, jika tidak mampu melakukannya, ia menyarankan agar disampaikan kepada guru sebagai pihak yang lebih berwenang.

Baca juga Hikmah dari Kehidupan Penyintas dan Pelaku Terorisme

Iswanto juga mewanti-wanti seluruh siswa agar berhati-hati dan jangan sampai ikut terpapar ekstremisme. Terlebih di era digital, ia mengingatkan untuk tidak mudah terpengaruh dengan ajakan di media sosial.

“Saya yakin banyak generasi sekarang yang terpapar bukan karena mengaji, tapi justru dari media sosial. Kebetulan, mereka ini tidak mau bertanya kepada yang lebih paham tentang gerakan ini sehingga sangat mudah untuk mengikuti organisasi ekstrem,” demikian pesannya. [WTR]

Baca juga Hikmah dari Kehidupan Penyintas dan Pelaku Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...