HomeBeritaSiswa SMAN 5 Surakarta...

Siswa SMAN 5 Surakarta Belajar Makna Ketangguhan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar kegiatan kampanye perdamaian di SMAN 5 Surakarta, Jumat (25/03/2022). Kegiatan dihadiri oleh 75 siswa dari berbagai organisasi intra sekolah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membentuk karakter tangguh dalam diri siswa melalui kisah para korban terorisme dan mantan pelaku yang telah bertobat.

Usai mengikuti kegiatan yang bertajuk Diskusi Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh,” salah seorang siswa mengaku mendapatkan pembelajaran tentang faktor-faktor yang dapat membuat seseorang menjadi teroris. Menurut dia, faktor keluarga dan sahabat menjadi faktor dominan dalam memengaruhi seseorang.

Baca juga Penyintas Bom Bali Berbagi Ketangguhan di SMKN 3 Surakarta

Selain itu faktor guru juga berpengaruh. “Salah memilih guru pun bisa jadi menjerumuskan. Ditambah lagi dengan adanya ketidakpuasan yang dapat mendorong seseorang untuk membenci ideologi negaranya,” katanya.

Peserta lain mendapatkan pembelajaran tentang dampak-dampak yang ditimbulkan. Dalam hematnya, aksi terorisme membuat seseorang bisa kehilangan orang terdekat, kehilangan mata pencaharian, kehilangan tulang punggung keluarga, menimbulkan trauma dan depresi, menghancurkan fasilitas umum. “Bagi korban yang terkena langsung, fungsi anggota tubuhnya jadi menurun,” tutur siswa tersebut.

Baca juga Mencetak Generasi Muda Berkarakter Damai

Siswa lain terkesan dengan kisah korban yang kehilangan suami akibat ledakan bom. Karena peristiwa itu, sang istri harus membesarkan anak-anaknya seorang diri. Meskipun hidupnya sulit sejak saat itu, sang istri tetap sabar. “Kisah korban melatih saya untuk ikhlas, menahan emosi, dan tentunya bersyukur atas nikmat yang sudah kita dapatkan,” ungkap siswa tersebut.

Di akhir kegiatan, salah satu siswa mengaku merasakan ada perubahan yang terjadi dalam dirinya. “Saya lebih menuntut diri saya agar lebih terbuka, tidak memandang sesuatu dengan sebelah mata, dan lebih berpikir dalam mengambil sebuah keputusan. Entah itu dampak positif maupun negatif,” kata siswa tersebut.

Baca juga Generasi Muda Cerdas Bermedsos

Siswa tersebut juga mengaku akan lebih berhati-hati dalam bergaul agar tidak terjerumus dalam aktivitas-aktivitas ekstrem. “Setelah kegiatan ini saya akan fokus melakukan aktivitas-aktivitas yang positif saja, menjauhi pengaruh-pengaruh buruk, dan mengedepankan kepentingan orang banyak dibanding kepentingan diri sendiri,” katanya. [FAH]

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMKN 3 Surakarta

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....