HomePilihan RedaksiBerdamai dengan Trauma: Kebangkitan...

Berdamai dengan Trauma:
Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. II)

“Saya diminta untuk dirawat di rumah sakit. Tetapi saya tetap tidak mau. Saya dibujuk oleh orang-orang yang ada di situ, termasuk Kapolsek, dokter, kakak untuk dirawat di rumah sakit. Saya merasa tempat teraman adalah di rumah bersama keluarga,” ucap Andin.

Meski mengalami dampak serius akibat ledakan bom, Andin keukeuh pulang ke rumah. Ia enggan menjalani rawat inap. Beberapa pihak, termasuk dari instansi pemerintah dan kepolisian, merayunya agar mau dirawat di rumah sakit. Namun ia menolaknya. Baginya tempat paling aman adalah rumah. Pihak kepolisian pun mengabulkan permintaan Andin. Tenaga medis mendatangi rumahnya setiap hari selama satu bulan penuh. Anggota kepolisian juga menjaga rumahnya.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

Kala itu tangan Andin harus disokong kawat pengikat permanen agar kembali bisa digerakkan. Hingga kini ia tidak bisa mengangkat benda-benda yang berat. Sementara tulang kering kakinya sedikit bengkok. Ia sempat tiga bulan tidak bisa berjalan. Telinga sebelah kirinya yang sempat terus menerus berdengung selama berbulan-bulan, sekarang juga tak bisa mendengar sempurna.

Selain dampak fisik, trauma psikis juga mendera Andin. Ia berbulan-bulan insomnia. Ia baru bisa tidur di pagi hari selama beberapa saat. Itu pun harus ditemani oleh anggota keluarganya. “Saya hanya bisa tidur kalau dengar azan subuh. Oh berarti orang-orang sudah bangun. Kalau saya mau tidur suasana kamar harus ramai, tidak boleh sepi,” ujar Andin sembari terisak.

Baca juga Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Keluarganya terus membantu untuk dapat tertidur. Mereka bergantian menemani Andin, entah mengobrol atau melakukan hal lain. Saat Andin terbangun dengan kondisi kamar sunyi, ia langsung berteriak histeris. “Udah gila kali ya saya saat itu. Badan itu terasa seperti panas. Setiap hari kalau buka mata bukan melihat matahari tapi melihat api yang meledak. Itu berjalan dua bulan,” ucapnya.

Trauma psikis memperburuk kondisi mentalnya. Ia mengalami depresi dan ketakutan bertemu orang selain anggota keluarganya. Bahkan saat disapa oleh tetangganya yang melintas di depan rumah, Andin lari dan kabur ke dalam rumah.

Kondisi tersebut sempat membuat Andin terpikir untuk mengakhiri hidupnya. “Saya berpikir, ngapain saya hidup? Jalan nggak bisa, nyusahin keluarga, kuping berdengung gitu. Bagaimana saya mau melanjutkan hidup saya, kalau ngapa-ngapain saya nggak bisa?” ujar Andin mengenang krisis psikis yang pernah menerpanya. (Bersambung)

Baca juga Afirmasi Diri: Kisah yang Menjelma Makna dan Kata-kata

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....