HomeBeritaTeror di Afghanistan Menyasar...

Teror di Afghanistan Menyasar Umat yang Merayakan Maulid Nabi

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Tanggal 20 November 2018 bagi masyarakat Muslim dunia merupakan hari yang sangat istimewa. Pasalnya hari itu bertepatan dengan hari lahirnya Nabi Muhammad Saw. atau yang dikenal dengan hari maulid Nabi. Umat muslim ramai memeriahkan hari itu dengan meneladani akhlak Nabi dengan cara memperdengarkan perjalanan hidupnya atau menyelenggarakan kajian keislaman di masjid atau musala. Akan tetapi, kesakralan peringatan maulid Nabi tahun 1440 Hijriah kemarin tercoreng dengan terjadinya bom bunuh diri yang menewaskan puluhan orang di Kabul, Afghanistan.

Pelaku bom bunuh diri menyasar kerumunan umat muslim yang sedang merayakan Maulid Nabi Saw. Dikutip dari kompas.com, setidaknya 50 orang tewas dan 70 lainnya terluka akibat aksi teror tersebut. Tragedi ini merupakan yang terburuk sejak jatuhnya pemerintahan Taliban di Afghanistan.

Seorang anggota pasukan keamanan Afghanistan menyelidiki di lokasi serangan bom bunuh diri kemarin di Kabul, Afghanistan.
Seorang anggota pasukan keamanan Afghanistan menyelidiki di lokasi serangan bom bunuh diri kemarin di Kabul, Afghanistan. Image: Reuters/Gatra

 

Menurut Juru Bicara Pemerintah, Najib Danesh, bom bunuh diri sangat bertentangan dan mencemari nilai dan ajaran Islam. “Bom bunuh diri meledak di dalam ruang serba guna saat para ulama berkumpul untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad,” ujarnya.

Salah satu korban selamat, Ahmad Fahim, mengaku sempat mendengar suara ledakan dan sempat berusaha membawa saudaranya yang terluka keluar dari dalam aula. “Saya mendengar ledakan itu, saya hanya berhasil membawa sepupu saya keluar dari sana yang terluka parah. Tapi ketika aku sampai di sini (rumah sakit), aku sadar kalau aku juga terluka,” kata Ahmad saat terbaring di rumah sakit.

Mengutip Aljazeera, seorang dosen ilmu agama, Mohammad Hanif, menuturkan bom meledak saat ayat-ayat Alquran dilantunkan. Menurutnya, saat itu kondisinya sangat kacau dan mengenaskan. “Mereka (korban) menderita luka bakar, semua orang di aula berteriak minta tolong,” ujar Hanif.

Pemerintah Afghanistan menetapkan hari berkabung atas peristiwa itu. Presiden Ashraf Ghani melalui juru bicaranya Haroon Chakhansuri menyatakan hari Rabu, 21 November 2018 sebagai hari berkabung nasional.

Sebagaimana dikutip dari Aljazeera sampai saat ini belum ada pihak yang mengklaim atas aksi ini. Para pengamat menilai bahwa aksi bom bunuh diri ini digerakkan oleh simpatisan ISIL. Target serangan di Kabul, tertuju kepada umat Islam dan para ulama yang melaksanakan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Mayoritas umat muslim di seluruh dunia mengutuk keras peristiwa ini. Maulid Nabi yang semestinya menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah Saw. malah dijadikan ajang untuk menebar kekerasan. [FS]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....