HomeInspirasiSuara Mantan Pelaku“Setiap Orang Punya Kesempatan...

“Setiap Orang Punya Kesempatan Sama untuk Menjadi Lebih Baik”

ALIANSI INDONESIA DAMAI – “Mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia. Beberapa tahun yang lalu saya dan kakak saya pernah terlibat dalam tindak pidana terorisme. Khususnya kepada Mbak Erni, juga Mbak Nanda, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Ali Fauzi dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Jakarta 1 November 2018. Dua orang yang ia sebut, Ni Luh Erniati dan Nanda Olivia Daniel, adalah penyintas aksi terorisme di masa lalu.

Pria asal Lamongan, Jawa Timur itu -serta sejumlah saudara dan rekannya- pernah tergabung dengan kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan jaringan terorisme internasional Alqaeda. Dua orang kakaknya telah dijatuhi hukuman mati, sementara seorang lagi divonis penjara seumur hidup atas keterlibatan mereka dalam aksi teror Bom Bali pada 12 Oktober 2002. Bertahun-tahun melanglang buana di dunia terorisme dan kekerasan, kini Ali Fauzi meniti jalan perdamaian.

Ali mengatakan bahwa tujuannya berbagi kisah masa lalunya adalah agar semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya menjaga kedamaian. Ia juga menekankan agar tidak ada lagi spekulasi yang menyatakan terorisme hanyalah rekayasa atau upaya pengalihan isu pemerintah, atau merupakan bagian dari konspirasi global. Menurutnya, kelompok teroris benar-benar nyata dan mereka ingin menggulingkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menggantinya menjadi negara yang berdasarkan ideologi yang mereka kehendaki.

Selama bertahun-tahun sejak 1991 kehidupan Ali Fauzi muda sudah terpapar paham ekstremisme. Ia tinggal dengan orang-orang pelarian atau yang bermasalah dengan hukum serta mengikuti pendidikan paramiliter yang dirancang oleh kelompok teroris di luar negeri. Di tempat-tempat berbeda itu ia menggunakan nama samaran agar tidak mudah tertangkap oleh aparat keamanan. Baginya pada waktu itu, aparat sebagai alat keamanan negara baik di Indonesia maupun luar negeri adalah thaghut (musuh Tuhan) yang halal darahnya untuk dibunuh.

Setelah cukup lama bergelut dengan kelompok ekstremis di Filipina dengan aman, sepak terjangnya di dunia terorisme akhirnya terendus oleh aparat keamanan. Dia ditangkap lalu ditahan di penjara oleh pemerintah Filipina. “Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga,” ujarnya.

Ali mengaku, selama ditahan ia mendapatkan perlakuan yang kasar dari aparat Filipina. Setelah beberapa waktu ia kemudian dideportasi ke Indonesia dalam kondisi sakit. Ia mengaku beberapa ruas tulang rusuknya patah karena penyiksaan selama masa tahanan.

Setibanya di Tanah Air, pihak kepolisian Repubik Indonesia langsung berinisiatif untuk membinanya. Ia dirawat hingga proses penyembuhan di rumah sakit Bhayangkara di Jakarta dan Surabaya. Ali mengaku tersentuh hatinya atas perlakuan polisi terhadapnya. Sosok polisi yang semula ia anggap sebagai musuh, justru menolong dan menjenguknya setiap hari, serta memperhatikan kesembuhannya. Sejak saat itu pandangannya mulai berubah secara perlahan.

Keyakinannya untuk meninggalkan ideologi kekerasan semakin mantap setelah dipertemukan dengan para korban terorisme. Korban-korban yang ditemuinya ada yang mengalami cacat permanen akibat serangan teror bom. Sebagian yang lain menjadi janda atau duda karena kehilangan pasangan akibat aksi teror. Ali pun menyesali kekeliruannya di masa lalu. Ia bertobat dan memilih hijrah dari jalan kekerasan menuju jalan perdamaian.

Pada tahun 2014, Ali bergabung dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Bersama AIDA Ali semakin sering bertemu para korban bom, baik yang ditinggal meninggal oleh keluarganya maupun yang mengalami cacat fisik parah. Bukannya merasa dendam terhadap pelaku, namun para korban justru memberikan semangat kepada Ali untuk berjuang bersama mereka dalam mengampanyekan perdamaian. Alasan inilah yang makin meneguhkan tekad Ali untuk mengampanyekan perdamaian di Indonesia.

Tidak hanya itu, semangatnya dalam membumikan perdamaian terus terpatri dalam hati, jiwa dan sanubarinya. Pada tahun 2016, semangat itu Ali wujudkan dengan membangun komunitas Lingkar Perdamaian di Lamongan, sebuah wadah khusus untuk orang-orang yang pernah menganut ideologi kekerasan. Melalui lembaga ini Ali memberdayakan orang-orang yang pernah terlibat dalam jaringan ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian.  

Menurut pria yang mengaku lebih mahir merakit bom daripada membuat layang-layang ini, terorisme merupakan sebuah penyakit yang sudah mengalami komplikasi. Dalam hal ini, ia bukanlah seorang dokter spesialis, namun ia pernah terjangkit penyakit itu namun berhasil sembuh dan kini berharap bisa menyembuhkan orang-orang yang memiliki gejala penyakit serupa.

Selain sebagai aktivis perdamaian, Ali Fauzi kini juga menjadi dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Lamongan. Ia juga tengah melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Muhamadiyah Malang. Ali yang dahulu pernah terlibat kekerasan selama 13 tahun dan selalu menggenggam senjata api, kini beralih memegang pulpen setiap hari. Menurutnya, tidak ada orang baik yang tidak mempunyai masa lalu dan  tidak ada orang jahat yang tidak mempunyai masa depan. “Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik,” pungkasnya. [SWD]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...