HomeTajukRefleksi Kurban: Menahan Ego...

Refleksi Kurban: Menahan Ego Demi Perdamaian

Pengurbanan Ibrahim atas buah hatinya kepada Allah sungguh peristiwa sejarah yang agung. Di dalamnya terdapat pelajaran berharga bagi umat manusia. Peristiwa kurban mengajarkan bagaimana seorang ayah, ibu, dan anak menahan ego sebagai perwujudan ketaatan yang hakiki.

Ibrahim diwahyukan untuk mengorbankan darah dagingnya sendiri. Padahal, kelahiran sang anak dalam rumah tangganya telah dinantikan bertahun-tahun lamanya. Allah menguji keimanan Ibrahim dengan “meminta” yang paling berharga darinya. Bila Ibrahim bukanlah hamba yang bertakwa, layaknya seorang bapak terhadap anak, tentunya tak akan tega menimpakan keburukan, apalagi sampai menghilangkan nyawa. Demikian pula Siti Hajar sebagai ibunda dari anak yang akan dikurbankan. Ismail sendiri sebagai sang anak tentu juga merasakan.

Namun, keluarga Ibrahim sukses menepikan ego dalam diri dan memenuhi perintah Allah dengan tulus, sehingga dari itu Sang Khalik memberikan ganjaran yang besar sebagaimana diabadikan dalam QS. Al-Saffat 102-107.

Dalam momen yang baik ini sudah selayaknya setiap individu memperbarui semangat ke-kurban-an. Secara kebahasaan, kata kurban bermakna sesuatu yang dekat. Pada Hari Raya Idul Kurban, setiap orang yang mampu diwajibkan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk peribadatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Ketika berkurban, secara lahiriah yang dilakukan adalah mengorbankan sebagian harta untuk kebaikan sosial, namun hakikatnya, aktivitas tersebut dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian yang tulus, serta upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Dari syariat kurban, manusia dididik untuk mampu mengalahkan ego serta segala dorongan negatif dalam diri.

Menahan ego bukan perkara mudah, sebab manusia memang dibekali dorongan ke-aku-an dalam dirinya. Sangat manusiawi bila orang ingin memiliki banyak harta, kuasa dan pengaruh yang luas, atau menjadi superior terhadap orang lain.  Namun, agama telah memperingatkan bahwa ketakwaan, dalam arti menahan dorongan keinginan yang berlebihan, jauh lebih baik dan dipandang oleh Allah. Peringatan dalam ayat ke-14 dan ke-15 dari QS. Ali Imron menyebutkan bahwa, meskipun segala perhiasan dunia -yaitu kecintaan terhadap lawan jenis, keturunan, tunggangan, harta serta kedudukan- sangat menggoda hati, namun manusia disediakan pilihan yang lebih baik oleh Allah.

Pribadi yang berkurban harus mampu menolak ajakan atau peluang untuk korupsi, menindas hak orang lain, menimpakan keburukan kepada liyan, atau kejahatan lainnya macam apa pun.

Aktualisasi kurban yang pada puncaknya adalah menahan ego harus terus diasah setiap insan. Pribadi yang berkurban harus mampu menolak ajakan atau peluang untuk korupsi, menindas hak orang lain, menimpakan keburukan kepada liyan, atau kejahatan lainnya macam apa pun. Jiwa yang berkurban mesti kuat menghindari cara-cara culas, licik, serta kekerasan, dalam berupaya meraih cita.

Meskipun berat, menahan ego bukan sesuatu yang tak mungkin diusahakan. Salah satu inspirasi yang bisa diserap dalam menahan ego adalah kisah penyintas terorisme. Tidak semua korban aksi teror lantas terpuruk karena luka dan penderitaan yang dialami. Sebagian penyintas tegar dan ikhlas menjalani hidup dengan menanggung beban berat pascatragedi. Mereka menerima segala yang terjadi sebagai bagian dari takdir Allah, meskipun kondisi fisiknya berubah menjadi cacat, atau orang terkasihnya tiada sebagai dampak dari aksi terorisme.

Lebih dari itu, sebagian penyintas bahkan mampu memaafkan serta menjalin rekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme. Alih-alih membalas dendam, penyintas justru meredam kebencian serta mendukung mantan pelaku untuk semakin menjauh dari dunia terorisme. Para penyintas yang telah berekonsiliasi dengan mantan pelaku kemudian berkontribusi untuk mengampanyekan perdamaian di masyarakat.

Mereka berbagi kisah dan pengalaman hidup, dengan harapan publik dapat menimba pembelajaran agar di masa depan tidak terjadi lagi aksi kekerasan. Berbagi kisah bagi sebagian korban bukan perkara mudah, sebab hal itu ibarat membuka luka lama serta mengingat-ingat kesedihan. Upaya para penyintas untuk berbagi kisah demi terjaganya kedamaian oleh sebab itu harus terus didukung.

Kisah penyintas adalah inspirasi ketangguhan. Mereka tak hanya mampu bertahan dari cobaan hidup, namun juga bangkit dari kondisi tak menyenangkan. Dari ketangguhan mereka kemaslahatan sosial dapat terbangun.

Baca juga Belajar dari Nabi, Memupuk Semangat Perdamaian

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...