08/07/2022

Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- Idul Adha adalah syariat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Idul Adha juga dikenal dengan lebaran haji. Karena pada waktu bersamaan sebagian umat Islam melaksanakan ibadah haji di Tanah Haram.

Meskipun syariat haji turun kepada umat Nabi Muhammad SAW, namun rangkaian ritual ibadahnya banyak terinspirasi oleh kisah hidup Nabi Ibrahim AS, sebut saja ritual sa’i, lontar jumrah, dan penyembelihan hewan kurban. Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam dunia dan menjadi bagian dari ritual tawaf haji juga dipugar oleh Nabi Ibrahim AS. Oleh karena itu, sebagai muslim, kita wajib meneladani dan mengambil ibrah dari kisah perjalanan hidup Ibrahim AS.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Nabi Ibrahim lahir di kota Ur yang berada di wilayah Mesopotamia (sekarang Irak) sekitar tahun 2295 SM. Nabi Ibrahim diutus untuk mengajak kaumnya menyembah Allah SWT. Nabi Ibrahim mengalami tantangan yang berat dalam dakwahnya karena harus berhadapan dengan seorang raja yang kuat dan lalim bernama Namrud. Meskipun begitu, Nabi Ibrahim tetap sabar dan pantang menyerah dalam mengemban misi dakwah.

Nabi Ibrahim menyampaikan dakwahnya ke seluruh masyarakat di Babilonia. Tetapi tidak ada yang menerima dakwah beliau kecuali dua orang, yaitu Sarah yang kemudian menjadi istri beliau, dan Luth yang kemudian juga diangkat sebagai Nabi. Karena dakwahnya ditolak di Babilonia, Nabi Ibrahim diperintahkan hijrah ke wilayah sekitar Syam. Nabi Ibrahim mengajak serta istrinya Sarah dan tinggal di sebuah tempat bernama Harran. Petualangan dakwah di tempat ini membuka lembaran baru kehidupannya. Selain diuji dengan misi kenabian, Nabi Ibrahim juga diuji dengan persoalan keluarga yang tak kalah menuntut kesabaran.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Nabi Ibrahim sangat mencintai istrinya, Sarah. Selain karena parasnya yang cantik, Sarah adalah seorang wanita salihah yang berbudi pekerti luhur. Ia adalah sosok yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta senantiasa menemani suka duka perjalanan dakwah nabi. Sarah adalah wanita yang nyaris sempurna. Namun ada satu hal yang kurang, ia belum mampu memberikan Nabi Ibrahim seorang anak meskipun sudah lama menikah. Bagi Nabi Ibrahim sendiri, kehadiran sosok anak sangat ia nantikan sebagai pelipur lara. Nabi Ibrahim juga menghendaki keturunan yang mampu meneruskan perjuangannya.

Dengan rambut yang semakin memutih dan tubuh yang kian melemah, sementara kehadiran buah hati tak kunjung datang, Sarah menawarkan kepada Nabi Ibrahim untuk menikah lagi. Awalnya Nabi Ibrahim menolak. Kecintaannya kepada istri membuatnya tak ingin mendua. Namun karena Sarah terus mendesaknya, akhirnya Nabi Ibrahim mengiyakan.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Namun ia hanya ingin menikah dengan perempuan yang dipilihkan oleh Sarah. Sarah menjodohkan dengan Hajar, seorang pengikut Nabi Ibrahim yang berasal dari Mesir. Sejumlah riwayat menyebutkan, Hajar merupakan putri Raja Mesir yang diperintahkan untuk mengikuti keluarga Nabi Ibrahim. Perjumpaan pertama di antara mereka terjadi saat rombongan Nabi Ibrahim berdakwah ke Mesir.

Singkat cerita, apa yang diidam-idamkan oleh Nabi Ibrahim akhirnya terwujud. Dari rahim Hajar, Allah titipkan seorang anak laki-laki yang kelak dinamai Ismail. Nabi Ibrahim tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia mencurahkan rasa cintanya kepada Ismail dan Hajar. Akan tetapi, kelahiran Ismail lama-kelamaan memicu kecemburuan Sarah. Titik lemahnya sebagai perempuan terusik. Besarnya cinta Nabi Ibrahim kepada Ismail dan ibunya membuat Sarah merasa tersisih. Sarah enggan tinggal satu atap dengan Ismail dan Hajar.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Di tengah munculnya kekisruhan itu, datanglah wahyu kepada Nabi Ibrahim agar membawa Hajar beserta Ismail yang masih bayi ke arah selatan, tepatnya ke wilayah Hijaz (sekarang disebut Makkah). Tidak ada peradaban sama sekali di Hijaz saat itu. Jangankan ada peradaban, bahkan manusia saja tidak ada tinggal di sana. Wilayah yang dituju oleh Nabi Ibrahim beserta istri kedua dan anaknya itu sangat tandus. Tidak ada tanda kehidupan seperti air atau tanaman. Ketika mereka sampai di suatu lembah di Hijaz, Nabi Ibrahim menyuruh Hajar dan Ismail menetap di sana, sementara Nabi Ibrahim akan kembali ke Harran. Hajar dan Ismail ditinggal di gubuk dengan perbekalan seadanya.

Hajar menangis ketakutan. Ia bertanya, mengapa suaminya itu tega meninggalkan dirinya dan sang bayi di tempat yang sepi. Bagaimana mereka akan bertahan hidup di tempat yang gersang dan tandus seperti itu. Nabi Ibrahim tak menjawab. Ia terus melangkah meninggalkan Hajar dan bayi Ismail. Ada kegundahan yang luar biasa di dalam diri Nabi Ibrahim. Tapi ia harus menahannya karena ini semua adalah perintah Allah. Hajar kemudian bertanya kembali, apakah meninggalkan dirinya dan sang bayi adalah perintah Allah. Nabi Ibrahim hanya menjawab singkat, “benar”. “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” tutur Hajar.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag. Terakhir)

Ini ujian yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim. Meskipun Hajar adalah istri keduanya, Nabi Ibrahim tetap menyayangi Hajar. Apalagi Hajar telah menghadiahinya putra yang selama ini ia tunggu-tunggu. Baru saja dirinya bisa merasakan menggendong bayi, namun mereka harus berpisah. Nabi Ibrahim mengalami dilema yang sangat hebat.

Dalam benak seorang ayah, adalah manusiawi jika muncul rasa khawatir. Bagaimana anak dan istrinya bisa bertahan di tempat yang tidak berpenghuni lagi tandus? Bagaimana kalau nantinya anak istrinya diterjang oleh angin gurun atau diserang oleh hewan buas? Nabi Ibrahim hanya bisa berserah sepenuhnya kepada Allah, sang pemilik bumi dan seisinya.

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Nabi Ibrahim menengadahkan tangannya ke langit. Doa itu terekam dalam Q.S Ibrahim: 37. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di sisi rumah-mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Bersambung)

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *