HomeInspirasiAspirasi DamaiMeneladani Kesabaran Nabi Ibrahim...

Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- Idul Adha adalah syariat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Idul Adha juga dikenal dengan lebaran haji. Karena pada waktu bersamaan sebagian umat Islam melaksanakan ibadah haji di Tanah Haram.

Meskipun syariat haji turun kepada umat Nabi Muhammad SAW, namun rangkaian ritual ibadahnya banyak terinspirasi oleh kisah hidup Nabi Ibrahim AS, sebut saja ritual sa’i, lontar jumrah, dan penyembelihan hewan kurban. Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam dunia dan menjadi bagian dari ritual tawaf haji juga dipugar oleh Nabi Ibrahim AS. Oleh karena itu, sebagai muslim, kita wajib meneladani dan mengambil ibrah dari kisah perjalanan hidup Ibrahim AS.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Nabi Ibrahim lahir di kota Ur yang berada di wilayah Mesopotamia (sekarang Irak) sekitar tahun 2295 SM. Nabi Ibrahim diutus untuk mengajak kaumnya menyembah Allah SWT. Nabi Ibrahim mengalami tantangan yang berat dalam dakwahnya karena harus berhadapan dengan seorang raja yang kuat dan lalim bernama Namrud. Meskipun begitu, Nabi Ibrahim tetap sabar dan pantang menyerah dalam mengemban misi dakwah.

Nabi Ibrahim menyampaikan dakwahnya ke seluruh masyarakat di Babilonia. Tetapi tidak ada yang menerima dakwah beliau kecuali dua orang, yaitu Sarah yang kemudian menjadi istri beliau, dan Luth yang kemudian juga diangkat sebagai Nabi. Karena dakwahnya ditolak di Babilonia, Nabi Ibrahim diperintahkan hijrah ke wilayah sekitar Syam. Nabi Ibrahim mengajak serta istrinya Sarah dan tinggal di sebuah tempat bernama Harran. Petualangan dakwah di tempat ini membuka lembaran baru kehidupannya. Selain diuji dengan misi kenabian, Nabi Ibrahim juga diuji dengan persoalan keluarga yang tak kalah menuntut kesabaran.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Nabi Ibrahim sangat mencintai istrinya, Sarah. Selain karena parasnya yang cantik, Sarah adalah seorang wanita salihah yang berbudi pekerti luhur. Ia adalah sosok yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta senantiasa menemani suka duka perjalanan dakwah nabi. Sarah adalah wanita yang nyaris sempurna. Namun ada satu hal yang kurang, ia belum mampu memberikan Nabi Ibrahim seorang anak meskipun sudah lama menikah. Bagi Nabi Ibrahim sendiri, kehadiran sosok anak sangat ia nantikan sebagai pelipur lara. Nabi Ibrahim juga menghendaki keturunan yang mampu meneruskan perjuangannya.

Dengan rambut yang semakin memutih dan tubuh yang kian melemah, sementara kehadiran buah hati tak kunjung datang, Sarah menawarkan kepada Nabi Ibrahim untuk menikah lagi. Awalnya Nabi Ibrahim menolak. Kecintaannya kepada istri membuatnya tak ingin mendua. Namun karena Sarah terus mendesaknya, akhirnya Nabi Ibrahim mengiyakan.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Namun ia hanya ingin menikah dengan perempuan yang dipilihkan oleh Sarah. Sarah menjodohkan dengan Hajar, seorang pengikut Nabi Ibrahim yang berasal dari Mesir. Sejumlah riwayat menyebutkan, Hajar merupakan putri Raja Mesir yang diperintahkan untuk mengikuti keluarga Nabi Ibrahim. Perjumpaan pertama di antara mereka terjadi saat rombongan Nabi Ibrahim berdakwah ke Mesir.

Singkat cerita, apa yang diidam-idamkan oleh Nabi Ibrahim akhirnya terwujud. Dari rahim Hajar, Allah titipkan seorang anak laki-laki yang kelak dinamai Ismail. Nabi Ibrahim tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia mencurahkan rasa cintanya kepada Ismail dan Hajar. Akan tetapi, kelahiran Ismail lama-kelamaan memicu kecemburuan Sarah. Titik lemahnya sebagai perempuan terusik. Besarnya cinta Nabi Ibrahim kepada Ismail dan ibunya membuat Sarah merasa tersisih. Sarah enggan tinggal satu atap dengan Ismail dan Hajar.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag.1)

Di tengah munculnya kekisruhan itu, datanglah wahyu kepada Nabi Ibrahim agar membawa Hajar beserta Ismail yang masih bayi ke arah selatan, tepatnya ke wilayah Hijaz (sekarang disebut Makkah). Tidak ada peradaban sama sekali di Hijaz saat itu. Jangankan ada peradaban, bahkan manusia saja tidak ada tinggal di sana. Wilayah yang dituju oleh Nabi Ibrahim beserta istri kedua dan anaknya itu sangat tandus. Tidak ada tanda kehidupan seperti air atau tanaman. Ketika mereka sampai di suatu lembah di Hijaz, Nabi Ibrahim menyuruh Hajar dan Ismail menetap di sana, sementara Nabi Ibrahim akan kembali ke Harran. Hajar dan Ismail ditinggal di gubuk dengan perbekalan seadanya.

Hajar menangis ketakutan. Ia bertanya, mengapa suaminya itu tega meninggalkan dirinya dan sang bayi di tempat yang sepi. Bagaimana mereka akan bertahan hidup di tempat yang gersang dan tandus seperti itu. Nabi Ibrahim tak menjawab. Ia terus melangkah meninggalkan Hajar dan bayi Ismail. Ada kegundahan yang luar biasa di dalam diri Nabi Ibrahim. Tapi ia harus menahannya karena ini semua adalah perintah Allah. Hajar kemudian bertanya kembali, apakah meninggalkan dirinya dan sang bayi adalah perintah Allah. Nabi Ibrahim hanya menjawab singkat, “benar”. “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” tutur Hajar.

Baca juga Fondasi dan Keutamaan Memaafkan (Bag. Terakhir)

Ini ujian yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim. Meskipun Hajar adalah istri keduanya, Nabi Ibrahim tetap menyayangi Hajar. Apalagi Hajar telah menghadiahinya putra yang selama ini ia tunggu-tunggu. Baru saja dirinya bisa merasakan menggendong bayi, namun mereka harus berpisah. Nabi Ibrahim mengalami dilema yang sangat hebat.

Dalam benak seorang ayah, adalah manusiawi jika muncul rasa khawatir. Bagaimana anak dan istrinya bisa bertahan di tempat yang tidak berpenghuni lagi tandus? Bagaimana kalau nantinya anak istrinya diterjang oleh angin gurun atau diserang oleh hewan buas? Nabi Ibrahim hanya bisa berserah sepenuhnya kepada Allah, sang pemilik bumi dan seisinya.

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Nabi Ibrahim menengadahkan tangannya ke langit. Doa itu terekam dalam Q.S Ibrahim: 37. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di sisi rumah-mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Bersambung)

Baca juga Support System Melewati Derita (Bag. 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...