HomeInspirasiAspirasi DamaiMassiara’: Tradisi Bugis Menjaga...

Massiara’: Tradisi Bugis Menjaga Damai

Massiara’ merupakan tradisi warga Bugis berkunjung ke rumah keluarga dan handai tolan di hari raya. Biasanya saat massiara’, tamu akan dijamu makan bersama oleh tuan rumah. Setiap rumah seolah wajib mappanre’ (memberi makan) kepada para tamu yang datang.

Dulu penulis memaknai massiara’ bukan hanya merajut silaturahmi dan bermaafan di hari raya, namun juga momentum menghilangkan lapar minimal sehari dalam setahun. Itu karena tiap rumah terbuka untuk saling mengunjungi dan tiap bertamu dijamu dengan makanan khas hari raya. Biasanya disambut burasa (makanan khas Bugis-Makassar), olahan ayam/daging dan kue kering.

Baca juga Berdamai dengan Ketidaksukaan

Namun kini, penulis memahami bahwa massiara’ sebetulnya bukan hanya persoalan makan dan berkunjung. Tradisi yang dilakukan saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ini merupakan upaya menyambung kekeluargaan serta tata pergaulan dengan tetangga. Bukan tidak mungkin selama bertetangga kita jarang bertegur sapa karena kesibukan sehari-hari, sehingga melakukan massiara’ akan merekatkan hubungan yang renggang.

Begitu pun aktivitas makan dalam massiara’. Bukan hanya persoalan menyantap hidangan spesial hari raya, namun memiliki makna tertentu dari sisi psikologi yang teramat dalam. Makan bersama di hari spesial seperti hari raya mendekatkan satu sama lain, bahkan bisa sampai menyebarkan semangat perdamaian.

Baca juga Falsafah Bugis untuk Perdamaian Bangsa

Menurut Alice Julier, sosiolog dari Universitas Massachusetts, Amerika Serikat, aktivitas makan bersama bisa mengubah perspektif terhadap ketidakadilan dan saling menghormati satu sama lain dalam pergaulan sosialnya. Pendapat Alice didukung oleh beberapa riset psikologi, bahwa makan bersama membangun ikatan kedekatan (bonding) antarindividu. Kedekatan yang berjalan positif akan meminimalisasi potensi konflik.

Robin Dunbar dalam risetnya berjudul Breaking Bread: the Functions of Social Eating menemukan bahwa makan merupakan bentuk penting dari interaksi sosial yang positif. Makan bersama orang yang kita kenal dapat memunculkan perasaan yang lebih baik tentang diri sendiri, tingkat kepuasan hidup, dan memiliki jaringan sosial yang kuat.

Baca juga Siri’: Filosofi Perdamaian Bugis-Makassar

Kehadiran interaksi sosial yang positif akan mendorong perilaku damai antarindividu bahkan dalam hubungan bermasyarakat bisa melahirkan budaya kompak dan bergotong royong untuk memelihara lingkungan agar senantiasa aman, tenteram, dan damai.

Massiara’ sarana kembali fitri

Adanya ikatan kedekatan dengan orang lain, secara tidak langsung akan membawa kita membangun interaksi penuh empati, sehingga perlahan bisa saling memahami perasaan dan memulai sikap positif terhadap orang lain. Sejatinya itulah makna kembali menjadi insan yang fitri di hari raya, sebab kita mampu memperbaharui sikap dan memperbaiki perilaku kepada orang lain.

Baca juga Kritik Diri Bekal Pertobatan Ekstremis

Massiara’ mengajarkan kita bahwa orang yang telah kembali suci hatinya setelah melalui tempaan ketakwaan di bulan suci Ramadan adalah orang yang senantiasa merawat tali silaturahmi, mengakui kesalahan, dan meminta maaf lalu memperbaiki kesalahannya. Orang yang kembali suci juga senantiasa menunjukkan raut wajah bahagia kepada sesamanya seperti di hari raya dan juga membahagiakan orang lain.

Sebagai penutup, penulis kira tidak ada salahnya kita mencoba sama-sama mengamalkan tradisi massiara’ di lebaran tahun ini. Meski lewat virtual ataupun pertemuan fisik yang terbatas dengan protokol kesehatan, tidak akan mengurangi pesan cinta kita dalam berhari raya, yakni maaf, kasih sayang, damai, persatuan, penghormatan, dan silaturahmi.

Baca juga Fase-Fase Hijrah; Belajar dari Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...