HomeBeritaBerbagi Kisah Perdamaian Kepada...

Berbagi Kisah Perdamaian Kepada Guru Pandeglang

Saya tidak bisa membayangkan kepedihan yang ibu rasakan waktu Bom Bali terjadi. Seperti apa rahasia kebangkitan Ibu sehingga kuat menghadapi musibah itu?

Aliansi Indonesia Damai- Pertanyaan itu dilontarkan salah seorang peserta pelatihan guru bertema “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang digelar AIDA di Kabupaten Pandeglang, Banten, beberapa waktu silam. Sosok yang ditanya adalah Hayati Eka Laksmi. Suaminya, Imawan Sardjono, meninggal dunia dalam peristiwa bom 12 Oktober 2002. Tak pelak Eka harus berjuang sendiri membesarkan kedua putranya yang saat itu masih balita.

Baca juga Menyemai Virus Perdamaian di SMAN 1 Klaten

Eka mengaku bahwa kekuatan dirinya berasal dari kedua buah hatinya. Sakit yang dirasakannya tentu juga diderita oleh mereka. Karenanya Eka berupaya menyembuhkan diri sendiri terlebih dahulu dengan bantuan psikiater. Setelah merasa lebih baik, ia berusaha untuk memahami kondisi psikis anak-anaknya secara perlahan. “Kalau saya, ibunya, tidak sanggup, bagaimana orang lain? Itu yang saya pegang sampai saat ini,” ucapnya.

Eka juga menularkan metode penyembuhannya kepada rekan-rekannya yang senasib. Ia mengajak korban Bom Bali 2002 untuk berkumpul dan mengungkapkan perasaannya. Melalui ajang itu, para korban saling menguatkan hingga kemudian terbentuk Yayasan Isana Dewata, wadah para korban bom Bali.

Baca juga Geliat Perdamaian di SMAN 1 Dompu Bima

Peserta lain menanyakan tentang kondisi psikis kedua buah hati Eka yang kini telah beranjak dewasa. Apakah mereka memendam dendam terhadap pelaku? Menurut Eka, selama ini ia lebih mengutamakan memahami perasaan anak-anaknya dibandingkan dengan menasehati mereka. Keduanya juga tidak memendam amarah terhadap para pelaku.

Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari tersebut diikuti oleh 18 guru yang merupakan perwakilan dari beberapa sekolah menengah atas di Pandeglang. Selain Eka, AIDA juga menghadirkan Ali Fauzi, mantan pelaku ekstremisme, yang tiga saudaranya terlibat langsung dalam aksi Bom Bali 2002.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bukittinggi

Ali menjelaskan bahwa para pelaku terorisme terjangkiti ekstremisme karena pemikiran yang berlebihan sehingga menghalalkan segala cara, termasuk bom bunuh diri. Meski ia mengaku belum pernah menemukan satu dalil pun yang membolehkan pengeboman di wilayah aman (selain medan perang). “Tetapi bom dirakit, kemudian ditenteng dengan ransel dan diledakkan di tempat yang aman, ini kan tidak ada tuntunannya,” ujar Ali.

Seorang guru menyampaikan pengalamannya dulu. Ketika masih bersekolah, ia sempat mendapatkan doktrin yang mengarah kepada ekstremisme melalui forum pengajian yang ternyata isinya mengkritisi Pancasila dan kewajiban pendirian negara Islam. Namun lantaran merasa tidak mendapatkan ketenangan batin dalam forum itu, ia memutuskan keluar dan fokus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca juga Semangat Perdamaian SMA Al-Faqih Tasikmalaya

Alhamdulillah saya berhasil kabur, kemudian menyelesaikan kuliah saya, dan menjadi guru seperti saat ini. Melihat kasus bom seperti itu saya sedih, tidak tega lihatnya. Katanya jihad, tapi jihad apa? Itu kan juga saudara-saudara kita sendiri yang jadi korban,” ujar salah seorang peserta. [FL]

Baca juga Gema Damai Pelajar Pandeglang

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...