HomeOpiniMedia Sosial sebagai Sarana...

Media Sosial sebagai Sarana Perdamaian

Oleh: Fahmi Suhudi
Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi bisa menjadi berkah sekaligus petaka bagi peradaban hidup umat manusia. Keterbukaan informasi di media sosial ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi bisa digunakan ke arah yang bersifat positif, namun di sisi lain bisa juga menjadi saluran/media propaganda bagi paham kekerasan.

Salah satu karakter media sosial adalah selalu mengikuti kecenderungan seseorang dalam hal apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Bila seseorang sering menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menggali nilai-nilai kebaikan, maka media sosial bisa berkontribusi dalam pembentukan karakter seseorang yang cinta perdamaian.

Baca juga Agen Sosialisasi Perdamaian

Sebaliknya, jika seseorang kerap mengikuti konten media sosial yang prokekerasan, maka bukan tidak mungkin akan membentuk wataknya yang keras dan mudah untuk menyalahkan pendapat orang lain. Fenomena ini disebut echochambers, yang mana berpotensi dapat menyebarkan satu pandangan yang hanya berada dalam satu frame dan menganggap pandangan lain salah.

Kelompok ekstremis dengan jeli melihat kesempatan ini untuk melakukan rekrutmen di media sosial. Sejumlah peneliti terorisme menyebutkan bahwa dalam tahun-tahun terakhir ada perubahan strategi rekrutmen dalam aksi-aksi kekerasan. Jika dahulu perekrutan anggota ekstremis penuh jalan berliku dan harus melalui berbagai pelatihan (tadribat asykari), maka hari ini hal itu bisa dilakukan dengan begitu cepat tanpa perlu pembelajaran langsung, yaitu melalui media sosial.

Baca juga Guru sebagai Penggerak Perdamaian

Oleh karena itu, demi menjaga perdamaian bersama, maka perlu pemahaman yang benar dan penggunaan yang tepat terhadap media sosial. Dengan demikian, konten-konten yang bersifat propaganda dan berpotensi mengarah pada kekerasan dapat diantisipasi sejak dini melalui kecerdasan kita bermedia sosial. Bila tidak dilakukan sejak dini, konten-konten yang prokekerasan dapat menyulut api dan menjadi pintu masuk terhadap paham kekerasan.

Kita tahu, bahwa salah satu spirit dalam al-Quran adalah terwujudnya perdamaian, dan salah satu tugas kenabian adalah untuk membawa perdamaian. Tugas kita sebagai umat manusia adalah saling mengenal satu sama lain untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada sehingga tidak ada pertengkaran dan konflik kekerasan terjadi lantaran perbedaan-perbedaan. Tentu saja untuk mengenal satu dengan yang lain, bisa kita mulai dengan bermedia sosial yang baik, yang mendukung pada terwujudnya perdamaian.

Baca juga Nalar Kritis Benteng Ekstremisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....