16/06/2020

Reintegrasi Sosial Mantan Ekstremis

Ada begitu banyak mantan kombatan dan pelaku ekstremisme kekerasan yang menempuh jalan hidup baru dengan meninggalkan kelompok ekstrem, memilih kehidupan prososial, dan melakoni reintegrasi sosial. Mereka menempuh desistensi terorisme dengan banyak cara dan tahapan. Salah satu nama yang berhasil dalam reintegrasi sosial ini adalah Sumarno (44 tahun).

Pria asli Lamongan Jawa Timur ini terlibat dalam Jemaah Islamiyah (JI) sejak 1997. Ia ikut serta dalam penyiapan senjata dan bahan-bahan peledak yang digunakan kelompok ekstremis untuk konflik komunal di Poso dan Ambon serta aksi kekerasan lain di tanah air. Namun “karirnya” berakhir di balik jeruji besi pada tahun 2002 akhir. Dari Lembaga Pemasyarakatan Klas II Lamongan, ia mulai menjalani proses reintegrasi sosial.

Baca juga Menyelesaikan Masalah: Belajar dari Mantan Pelaku Ekstremisme

Menurut Stina Torjesen dalam Toward a theory of ex-combatant reintegration (2013), reintegrasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana para kombatan; (1) mengubah identitas mereka dari ‘pejuang’ menjadi ‘warga sipil’ dan; (2) mengubah perilaku mereka dengan mengakhiri penggunaan cara-cara kekerasan dan meningkatkan kegiatan yang disetujui oleh masyarakat pada umumnya (mainstream community).

Torjesen menjelaskan, perubahan perilaku tersebut dapat dilihat di tiga arena: sosial, politik, dan ekonomi (Torjesen, 2013, hal. 4). Menurut dia, secara sosial, para kombatan mengurangi kontak dan ketergantungan mereka pada jaringan milisi dan meningkatkan interaksi mereka dengan masyarakat dan keluarga.

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Semenjak menjalani pidana, Sumarno terputus dengan jaringan kelompoknya dan sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari mereka. Sementara orang tua dan keluarganya, tidak mengetahui keterlibatan Sumarno dalam organisasi bawah tanah (tanzhim sirri) tersebut. Organisasi ini diikuti secara rahasia oleh dirinya dan empat pamannya: Amrozi, Ali Ghufron alias Mukhlas, Ali Imran, dan Ali Fauzi.

Keluarga besar Sumarno (yang memiliki dan mengelola salah satu pesantren di Lamongan) menolak dan tidak merestui keterlibatan mereka dalam aksi-aksi kekerasan atas nama jihad. Sejak saat itulah Sumarno membangun hubungan sosial yang baru, dimulai dari narapidana umum, petugas Lapas, kepolisian, dan utamanya keluarga serta masyarakat sekitar. Hingga kini, Sumarno telah menjalin hubungan sosial yang sangat luas, termasuk dengan para penyintas terorisme.

Baca juga Agama sebagai Pelopor Perdamaian

Kemudian dalam bentuk ekonomi, menurut Torjesen, reintegrasi mensyaratkan perpindahan kombatan dari mekanisme dukungan mata pencaharian yang terkait dengan jaringan milisi, kepada reintegrasi ekonomi di mana para kombatan dapat memeroleh pekerjaan dan kegiatan-kegiatan produktif yang sah yang memungkinkan mereka untuk mendukung dirinya sendiri dan tanggungan apa pun.

Setelah bebas dari Lapas tahun 2005, Sumarno menjalankan aneka bisnis dan usaha, seperti jual beli sepeda motor, jual beli mobil, usaha pertanian, peternakan, hingga tambang galian C. Beberapa dari usaha tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat, NGO/LSM, dan pengusaha di Jawa Timur. Berbagai bisnis tersebut dilaksanakan bersama sejumlah mantan kombatan dan narapidana kasus terorisme di Lamongan, yang dalam banyak hal telah memberikan contoh tentang keberhasilan program ekonomi dan reintegrasi sosial mantan napiter dan kombatan di Indonesia (AIDA & ISPI, 2018; Soleh dkk, 2018).

Baca juga Perdamaian sebagai Fitrah

Secara politik, para kombatan memasuki politik arus utama di tingkat lokal, regional, atau nasional baik sebagai pemilih atau sebagai pendukung politik atau perwakilan dari kelompok yang lebih besar (Torjesen 2013). Sumarno dan kawan-kawan tidak saja menjadi pemilih dan pengikut sistem demokrasi di Indonesia (berpartisipasi dalam setiap pemilihan legislatif, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah), melainkan juga terlibat dalam selebrasi dan perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia sejak tahun 2017. Baginya kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaan terhadap bangsa dan tanah air, salah satu ibadah sosial yang dianjurkan Islam. Tulen, ia benar-benar telah menjadi warga sipil.

Baca juga Tradisi Dialog dan Perdamaian

Sumarno tidak berjalan sendiri. Reintegrasi sosial mantan kombatan dan eks napiter membutuhkan kerjasama di antara mereka dan dukungan banyak pihak. Sumarno dkk telah membentuk Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) pada November 2016. YLP tidak saja menandai reintegrasi sosial Sumarno dkk, namun juga menjadi wadah bagi para eks kombatan dan napiter yang baru/akan bebas untuk hidup normal kembali ke masyarakat. Bagi para napiter yang berniat kembali hidup normal, maka YLP akan membantu dan memfasilitasinya: ekonomi, sosial dan pendidikan.

Sumarno merasakan nikmatnya integrasi sosial dan perdamaian. “Saya bersyukur kepada Allah SWT dapat bergabung dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), karena dengan kegiatan seperti ini saya dapat lebih banyak melakukan amal baik,” ucap pria 7 anak ini pada awal tahun 2020. Sumarno telah resmi menjadi duta perdamaian untuk Indonesia yang lebih damai.

Baca juga Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *