HomeInspirasiAspirasi DamaiGenerasi Z Menghadapi Ekstremisme

Generasi Z Menghadapi Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Anak-anak muda kelahiran tahun 2000-an dikenal dengan generasi Z. Mereka yang terlahir pada tahun-tahun itu pada umumnya memiliki karakter ingin dikenal dan motivasi tinggi untuk mengenal hal-hal baru.

Mereka menyukai tantangan dan sesuatu yang baru ketimbang apa yang diinisiasi oleh generasi terdahulu. Penggunaan medium teknologi bersamaan dengan derasnya informasi di sekelilingnya ikut membentuk karakter yang kuat di kalangan generasi Z.

Baca juga Dari Penyintas Muda untuk Perdamaian Indonesia

Adagium klasik “anak muda harapan bangsa” tetap relevan hingga kini. Tak ayal generasi Z diharapkan dapat membaca, mewaspadai, dan menangkal berbagai potensi negatif yang berkembang di sekitarnya, termasuk kekerasan atas nama agama. Saat ini penyebaran ekstremisme agama di kalangan generasi Z cukup mengkhawatirkan.

Dalam proses pencarian identitasnya yang sering dianggap gamang, generasi Z sangat getol dalam memanfaatkan teknologi internet. Melalui fasilitas inilah, terutama media sosial, sejumlah kelompok melakukan penyebaran ajaran kekerasan, termasuk ekstremisme agama. Media sosial dipilih lantaran berbiaya murah, memiliki daya pengaruh efektif, dan tidak mengenal sekat batas geografis.

Baca juga Mantan Ekstremis Bicara Jihad

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Seraphin Alava (dkk), dalam Youth and Violent Extremism on Social Media Mapping the Research (2020), generasi muda merupakan usia yang cukup rentan terpapar oleh paham radikalisme yang berpotensi kepada kekerasan. Menurut riset ini pula, cara yang efektif untuk mencegah generasi muda terpapar paham ekstremisme kekerasan adalah menyediakan literatur dan narasi alternatif  yang lebih kuat.

AIDA dalam pelbagai kegiatan kampanye perdamaian di sekolah-sekolah tingkat menengah atas menghadirkan penyintas terorisme dan mantan pelaku terorisme sekaligus. Harapannya para pelajar sebagai generasi Z dapat mengambil pembelajaran dari kisah kedua pihak tersebut.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar Dari Penyintas (Bag. 1)

Cerita pilu dari penyintas menyadarkan kita bersama, bahwa cukuplah mereka yang menderita atas aksi-aksi kekerasan yang merusak kehidupan. Ketika mendengar kisah-kisah mereka, terkadang saya meneteskan air mata dan bergumam dalam hati, jika saya berada di posisi tersebut, tak terbayang rasa kepedihan sepanjang hayat.

Dari para penyintas, generasi Z dapat melihat langsung dampak buruk aksi-aksi kekerasan, termasuk yang mengatasnamakan agama. Sementara dari mantan pelaku terorisme, generasi Z dapat memelajari pengalaman mereka yang pernah terjerumus dalam jejaring ekstremisme dan kemudian menyesalinya. Jejak pertobatan mereka yang harus diteladani, bukan apa yang dilakukannya dahulu.

Saya percaya generasi Z memiliki peran yang besar dalam menjaga perdamaian baik di lingkungan terdekat seperti keluarga, masyarakat sekitar, maupun negara.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar dari Penyintas (Bag 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....