HomeBeritaPendidikan Damai Sejak Dini

Pendidikan Damai Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Pendidikan perdamaian perlu dimulai sejak usia dini. Oleh karena itu, kampanye perdamaian penting melibatkan para guru agar mereka dapat menyemai perdamaian bagi anak-anak didiknya.

Demikian pesan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah (LPPA) PDA Banyumas, Mintarti, saat menjadi narasumber dalam bedah buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, yang digelar AIDA bersama PD Aisyiyah Banyumas akhir tahun 2020 lalu. Menurut dia, peran guru sangat signifikan untuk membentuk karakter siswa yang cinta damai.

Baca juga Aisyiyah Banyumas Dukung Pertobatan Mantan Teroris

“Perlu bagi guru-guru pendidikan usia dini untuk diberikan pemahaman, bagaimana mereka bisa menyampaikan bahaya dari aksi-aksi kekerasan,” kata Mintarti di hadapan puluhan kader Aisyiyah  Banyumas yang bergabung secara daring. Sebagian peserta berprofesi sebagai guru PAUD.

Dalam kegiatan ini hadir mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan, dan keluarga korban bom Bali 2002, Hayati Eka Laksmi. Hayati Eka berbagi kisah tentang perjuangan mendidik anak-anaknya usai suaminya meninggal dunia akibat Bom Bali Oktober 2002. Ia merasa bangga karena hingga usia dewasa, anak-anaknya mampu menjadi pribadi yang cinta damai, bahkan telah memaafkan pelakunya.

Baca juga Dukungan Pertobatan Mantan Teroris

Dari pengalaman Eka tersebut, Mintarti mengambil pembelajaran bahwa pendidikan damai sejak dini sangat penting untuk membentuk masyarakat yang cinta damai.  “Tadi pengalaman Ibu Hayati Eka Laksmi, ketika anaknya ditanya cita-cita, ternyata ingin menjadi polisi yang ingin menembaki teroris. Namun dengan pendidikan, mereka mampu memaafkan,” ujar pengajar sosiologi di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu.

Mintarti menilai, pendidikan damai sejak dini merupakan bentuk pencegahan dari potensi terjadinya aksi-aksi kekerasan. Dengan langkah itu ia berharap tidak ada lagi aksi-aksi kekerasan di masa mendatang, apalagi kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti terorisme.

Baca juga Perjumpaan Aktivis Aisyiyah dengan Penyintas Bom Bali

Ia juga menekankan bahwa kekerasan mengatasnamakan agama bukan hanya terjadi dalam Islam, akan tetapi juga terjadi dalam agama-agama lain. Padahal agama harus menjadi inspirasi untuk menjadi manusia yang cinta damai. “Terorisme bukan secara spesifik milik orang Islam, di agama-agama lain sebetulnya juga ada. Agama semestinya bisa menuntun kita, bukan menimbulkan terorisme,” ujarnya tegas.

Dari kisah pertobatan mantan pelaku dan pemaafan oleh korbannya, Mintarti mengajak aktivis Aisyiyah untuk menghindari sekaligus terlibat dalam pencegahan aksi-aksi kekerasan. “Kita bisa mengambil pembelajaran bahwa kita jangan sampai membalas kekerasan dengan kekerasan, dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan,” ucapnya memungkasi. [AH]

Baca juga Aktivis Aisyiyah Pejuang Pendidikan Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....