HomeOpiniKerendahan Hati Membangun Perdamaian

Kerendahan Hati Membangun Perdamaian

Oleh Muhammad Saiful Haq
Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah

Hampir semua lapisan kelompok masyarakat sangat rentan terpapar narasi-narasi yang mengarah pada kebencian bahkan tindak kekerasan kepada kelompok lain. Tantangan menjaga perdamaian semakin berat, apalagi narasi provokatif menyebar luas di tengah kita. Narasi itu berseliweran dengan mudah di beberapa forum, daring maupun luring.

Segudang tantangan tersebut menuntut kita untuk tak sekadar cerdas mengolah informasi, melainkan juga kerendahan hati untuk tidak membalas narasi-narasi provokatif itu dengan hal yang sama.

Baca juga Keutamaan Bersikap Kaya

Dalam kajian psikologi, konsep rendah hati dikembangkan bersamaan dengan pendekatan intelektual sehingga melahirkan konsep intellectual humility. Oleh para pakar, intellectual humility dianggap sebagai sikap dan perilaku positif dalam menyikapi ketidaksetujuan.

Pada dasarnya, tidak ada larangan memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain. Setiap orang berhak mempercayai sesuatu dan memiliki rasa tidak setuju pada pandangan hidup orang lain. Namun dalam interaksi sosial, ada pembatasan-pembatasan tertentu yang harus kita praktikkan agar perdamaian tetap utuh di tengah masyarakat dan demi kemaslahatan bersama.

Baca juga Keistimewaan Musibah

Bagi orang yang memiliki sikap intellectual humility, narasi-narasi ketidaksukaan atau ketidaksetujuannya pada sebuah kelompok, tidak menjadikannya memunculkan perilaku buruk. Sebaliknya ia menunjukkan sikap dan perilaku  positif seperti mau untuk memahami perbedaan, memiliki pikiran terbuka, dan keberanian mengakui kesalahan pemahamannya.

Peneliti yang dilakukan Hook dan kawan-kawan di tahun 2016 berjudul Intellectual Humility and Religious Tolerance menemukan bahwa toleransi beragama ditemukan pada individu yang memiliki tingkat intellectual humility tinggi.

Individu dengan intellectual humility yang baik akan mampu bersikap terbuka terhadap informasi baru, melakukan komparasi pengetahuan dan kebenaran dari sumber lain bahkan keyakinan yang berbeda dengannya. Intellectual humility mendorong kita memiliki kecenderungan perlakuan yang damai dan hormat kepada yang berbeda.

Baca juga Mengimunisasi Remaja

Oleh karena itu, orang-orang yang tidak bisa menyaring informasi provokatif memiliki intellectual humility yang rendah. Pada tahapan yang paling berbahaya, orang yang rendah intellectual humility-nya akan mudah ikut menyebarkan provokasi bahkan mendorong terjadinya aksi-aksi kekerasan yang berujung penyerangan pada individu atau kelompok yang berbeda pandangan.

Lantas bagaimana menumbuhkan karakter intellectual humility? Kita harus mampu menggabungkan antara kerendahan hati, mau mengakui kesalahan, dan penghayatan sosial terutama terkait keberagaman, serta menjauhi diri dari perasaan paling benar, angkuh dan egois. Hal ini sejalan dengan ajaran islam yang senantiasa mengajak kita untuk bersikap tawadhu’. Bukankah sebagai mukmin yang baik, kita diminta untuk tawadhu’ dan tidak ujub dan takabur kepada orang lain meskipun kita merasa benar?

Baca juga Bersyukur Pantang Mengeluh

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...