HomeOpiniMendakwahkan Akhlak

Mendakwahkan Akhlak

Oleh: Faruq Arjuna Hendroy
Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat

Konon, ada seorang pemuda yang tinggal di suatu negeri. Dia jengah dengan kondisi negerinya yang dipenuhi dengan kerusakan moral. Melihat hal tersebut, dia bertekad untuk mengubah negerinya menjadi lebih baik. Sebuah negeri yang bebas dari kemaksiatan, kejahatan, dan kesewenang-wenangan.

Bertahun-tahun dia berupaya mengubah negerinya, namun yang dia dapati hanyalah kegagalan. Dia pun merenung. Dalam benaknya, barangkali mengubah negeri itu tugas yang terlalu berat. Akhirnya dia menurunkan targetnya, dari mengubah negeri menjadi mengubah desanya saja. Dengan harapan, targetnya untuk menghilangkan kerusakan moral bisa tercapai.

Baca juga Berjihad Mesti dengan Ilmu

Meskipun begitu, ternyata mengubah desa tidak semudah yang dia bayangkan. Sama seperti sebelumnya, bertahun-tahun dia berupaya mengubah desanya, mengajak mereka meninggalkan segala bentuk kerusakan moral, pada akhirnya yang dia dapati kembali adalah kegagalan. Dia bahkan sudah mengubah strateginya menjadi lebih keras dari sebelumnya, namun warga desanya justru berbalik memusuhinya.

Untuk kesekian kalinya, dia merenung. Apakah tugas mengubah desa masih terlalu berat baginya. Padahal cakupan desa jauh lebih kecil dari negeri, kok masih gagal. Syahdan, melihat kenyataan pahit itu, dia pun kembali menurunkan targetnya, dari mengubah desa menjadi mengubah lingkungan keluarganya saja. Kali ini, dia optimis cita-citanya akan terwujud.

Baca juga Kerendahan Hati Membangun Perdamaian

Saking ingin mengubah keluarganya, dia tak segan-segan melakukannya dengan tangan besi, lebih keras dari strategi yang dia pakai saat ingin mengubah desa. Dalam bayangannya, dia berkuasa penuh atas keluarganya sehingga dia bisa melakukan apa saja. Ternyata cara ini pun tidak berhasil. Alih-alih berubah, keluarganya justru pergi meninggalkannya seorang diri. 

Saat itu terjadi, usianya sudah tua renta. Dia semakin tak habis pikir, mengapa susah sekali menghilangkan kerusakan moral ini. Mengapa susah sekali mengajak orang meninggalkan maksiat. Dari usia muda hingga kini sudah tua renta, cita-citanya itu tidak tercapai. Tahun demi tahun yang dia lalui seolah sia-sia.

Hingga pada akhirnya dia menyadari sesuatu. Dalam upayanya mengubah orang lain, dia tidak pernah menengok apakah dirinya sendiri sudah bersih dari perangai buruk. Apakah ketika mengajak orang untuk berubah, dia sudah melakukannya dengan akhlak yang baik. Apakah dakwahnya itu menyejukkan atau malah melukai hati orang lain. Cita-cita yang mulia sekalipun tidak akan pernah tercapai jika dilakukan dengan cara-cara yang salah.

Baca juga Keutamaan Bersikap Kaya

Laki-laki yang sudah tua renta ini pun mulai memperbaiki akhlaknya. Di sisa usianya, dia lebih fokus melakukan kebaikan demi kebaikan, menebar manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar. Dia tidak lagi sibuk menyerang kesalahan orang lain, namun lebih banyak mencontohkan bagaimana menjadi pribadi yang baik dan bermoral. Tanpa disadari, banyak yang terpukau dengan akhlaknya yang terpuji, hingga sedikit demi sedikit mulai banyak orang yang mengikuti langkahnya.

Cerita di atas kurang lebih menggambarkan potret kelakuan sebagian umat Islam saat ini. Karena didorong oleh ‘nafsu’ ingin memperbaiki tatanan sosial masyarakat secara instan, mereka tak segan melakukan segala cara, termasuk menggunakan cara-cara di luar batas kemanusiaan. Maksud hati hendak menata moral masyarakat, tetapi justru masyarakat menjadi korban keganasan.

Baca juga Keistimewaan Musibah

Terorisme adalah bentuk nyata dari ilustrasi ini. Dalam berbagai studi tentang terorisme, hampir semua motif kelompok teror melakukan aksi adalah untuk menciptakan struktur masyarakat yang utopis, di mana umat Islam hidup dalam kejayaan. Mereka melihat umat Islam saat ini sedang berada dalam fase kesengsaraan, keterbelakangan, dan kerusakan. Mereka ingin mengubah itu semua dengan cara memaksa umat Islam menganut ideologi yang mereka yakini.

Satu hal yang mereka tidak pahami, aksi yang mereka lakukan justru kontraproduktif dengan tujuan yang ingin dicapai. Dengan melakukan aksi teror, citra kelompok mereka menjadi tercoreng. Bahkan Islam pun jadi ikut tercoreng, mengingat kelompok tersebut selalu membawa atribut agama dalam aksinya.

Umat Islam yang tidak ada sangkut pautnya ikut merasakan dampak dari tercorengnya identitas keislaman mereka, seperti maraknya kasus Islamophobia dan antiimigran. Mereka mendapatkan stigma negatif akibat perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Pendek kata, aksi teror justru hanya mengakibatkan kerugian bagi seluruh pihak, sementara tujuan utopis mereka tidak kunjung tercapai.

Baca juga Mengimunisasi Remaja

Strategi dakwah yang brutal itu tentu bertentangan dengan spirit perdamaian yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarahnya, Nabi selalu mengajak orang untuk menyembah Allah dengan cara-cara yang baik, bukan dengan cara-cara yang kasar. Pun ketika orang-orang menolak ajakan atau bahkan merundungnya, beliau hanya bersabar dan membalasnya dengan doa. Beliau selalu menjaga sikapnya dari menyakiti orang lain.

Karakter mulia itulah yang membuat Nabi Muhammad SAW dikagumi oleh musuh-musuhnya, hingga kemudian mereka berbalik mengikuti dan mencintai beliau. Walhasil, tanah Arab takluk di tangan beliau hanya dalam waktu 23 tahun. Bahkan, ajaran cinta kasih beliau menyebar hingga ke seluruh pelosok bumi. Bisa dibayangkan jika dulunya beliau berdakwah dengan keras dan kasar, pastilah orang-orang akan menjauhi beliau. Jika itu terjadi, mungkin Islam tidak akan berkembang seperti sekarang.

Baca juga Bersyukur Pantang Mengeluh

Maka dari itu, penting bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain dan memberikan sebanyak-banyaknya manfaat. Orang-orang di luar Islam akan melihat kemuliaan Islam yang terpatri dalam diri para pemeluknya. Dengan sendirinya, citra Islam pun akan ikut terangkat.

Jika orang bisa saja menghina sebuah agama karena kebobrokan para penganutnya, maka orang juga bisa menyanjung sebuah agama karena kebaikan para penganutnya. Ini mengingatkan kita pada sebuah kutipan yang menarik; “Orang-orang di luar Islam tidak membaca Al Quran maupun Hadist, tetapi mereka membaca dirimu (umat Islam). Maka jadilah muslim yang baik.”

Baca juga Guru dan Pendidikan Karakter

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....