HomeInspirasiAspirasi DamaiTudang Sipulung: Musyawarah Masyarakat...

Tudang Sipulung:
Musyawarah Masyarakat Bugis

Salah satu cara menghindari konflik yang berujung pada tindak kekerasan adalah musyawarah. Ketidaksetujuan atau bahkan perselisihan paham adalah hal lumrah yang manusiawi. Namun hal tersebut harus dikelola dengan baik.

Manajemen konflik yang bermartabat dan penuh damai harus dikedepankan ketika terjadi masalah dalam kelompok masyarakat. Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia menyebutkan bahwa musyawarah adalah salah satu pilar dalam kehidupan berbangsa bernegara.

Baca juga Falsafah Bugis untuk Perdamaian Bangsa

Jauh sebelum termaktub dalam Pancasila , tradisi musyawarah sudah dipraktekkan dalam berbagai kehidupan masyarakat Nusantara. Salah satu contohnya adalah tradisi Tudang Sipulung dalam suku Bugis di Sulawesi Selatan. Tudang berarti duduk sedang sipulung artinya berkumpul. Tradisi ini dilakukan untuk bertukar pikiran dan berunding dalam rangka menemukan solusi suatu permasalahan.

Proses musyawarah untuk mencapai mufakat berlangsung secara demokratis di mana pemimpin Tudang Sipulung wajib meminta pendapat kepada seluruh peserta. Peserta yang dimintai pendapat berkewajiban mengemukakan pendapatnya walaupun mungkin sama dengan peserta lain atau telah dikemukakan terlebih dahulu oleh peserta sebelumnya. Apabila seorang peserta tidak setuju atas suatu hal, maka ia harus mengungkapkan secara langsung apa yang menjadi alasannya.

Baca juga ‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Kesepakatan yang tercapai dari Tudang Sipulung tidak dapat diganggu gugat dan bersifat mengikat. Siapa pun yang melanggar dikenakan sanksi makcerak, yaitu memotong hewan piaraan seperti ayam, kambing, sapi atau kerbau. Itulah kenapa Tudang Sipulung sejatinya adalah proses komunikasi yang merangkul.

Secara tidak langsung kegiatan Tudang Sipulung menjadi alat memersatukan masyarakat dalam perbedaan pendapat. Proses itu menjalin komunikasi dua arah dan terbuka terhadap pendapat yang beragam hingga mencapai titik kesepakatan mufakat untuk semua orang. Komunikasi merangkul ini menciptakan kebiasaan hidup saling berdampingan dalam perbedaan pendapat, tanpa adanya pertikaian-pertikaian fisik sebagai ekses negatifnya.

Baca juga Massiara’: Tradisi Bugis Menjaga Damai

Kita harus percaya bahwa ketidakadilan hanya akan dikalahkan dengan memberikan keadilan. Sebab jika ketidakadilan dibalas dengan ketidakadilan kita hanya memperlebar lingkaran setan.

Salah satu metode memberikan rasa adil dan keadilan adalah melalui Tudang Sipulung ataupun praktek musyawarah lainnya. Musyawarah senantiasa memberikan rasa saling menghargai dan rasa diperlakukan dengan adil dalam komunitas sosial.

Baca juga Berdamai dengan Ketidaksukaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....