HomeOpiniCermat dengan Stigma Sosial

Cermat dengan Stigma Sosial

Oleh Faruq Arjuna Hendroy
Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan perdebatan tentang film animasi religi yang tayang di stasiun televisi swasta. Akarnya, salah seorang pegiat media sosial menuding film tersebut mempromosikan ekstremisme agama. Pasalnya dua tokoh utama film menggunakan jenis pakaian tertentu yang tidak khas Indonesia, melainkan lebih terlihat seperti pakaian anak-anak Taliban, salah satu kelompok ekstrem di Afghanistan.

Hanya karena cara berpakaian, film animasi dianggap sebagai bagian dari propaganda ekstremisme. Apakah benar cara berpakaian dapat menjadi indikator bahwa seseorang itu ekstrem dan berpotensi melakukan tindak terorisme? atau hanya merupakan stigma sosial saja?

Baca juga Jihad untuk Perdamaian

Dalam beberapa kesempatan, para pelaku terorisme, baik itu yang tertangkap ataupun yang tewas di tempat, memang kerapkali terlihat mengenakan atribut tertentu, misalnya berjenggot panjang, mengenakan gamis atau bercelana cingkrang di atas mata kaki, bagi pria. Adapun pelaku perempuan kerap berpenampilan dengan cadar dan gamis hitam polos. Tentu tak semuanya beratribut demikian.

Adalah kesalahan besar jika melabeli semua orang berjenggot, bercadar, mengenakan gamis atau celana cingkrang sebagai ekstremis, hanya karena ada pelaku teror berpakaian demikian. Ekstremisme jelas tidak bisa diukur dengan cara berpakaian, melainkan harus dicermati dari isi pikiran, pemahaman, dan ideologinya.

Baca juga Negara Madinah: Potret Ideal Pemerintahan Islam

Solahudin, peneliti jaringan terorisme dan penulis buku “dari NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia (2011), secara adil menempatkan soal Islam, pakaian, dan terorisme. Ia menolak sikap denial sebagian orang yang menyebut Islam tidak terkait dengan terorisme. Padahal, pelaku memang melandaskan aksi-aksinya itu pada interpretasi dalil-dalil Islam. Mengakui bahwa ada oknum di dalam Islam merupakan langkah awal sebelum memersiapkan konter narasi terhadap pemikiran oknum tersebut.

Namun ia juga menolak apabila pakaian muslim tertentu dikaitkan dengan terorisme. Kelompok teroris hanya bisa diidentifikasi melalui pemikiran mereka. Ketika seseorang mudah mengkafirkan pemerintah maupun orang yang menolak pandangannya karena mendukung Pancasila ketimbang formalisasi syariat Islam, dan dengan pelabelan kafir itu ia halalkan darah untuk ditumpahkan, maka itu indikasi utama seseorang berpaham ekstrem.

Baca juga Terapi Pemaafan

Mantan pelaku terorisme pun menolak terorisme diidentikkan dengan preferensi pakaian tertentu. Ali Fauzi Manzi, adik dari trio pelaku Bom Bali 2002, mengatakan bahwa sangat susah mengidentifikasi teroris dari lahirnya, karena mereka terkadang menyamar agar terlihat sama dengan masyarakat pada umumnya. Ciri-ciri teroris hanya bisa dibongkar dari pemikirannya.

Buktinya salah satu pelaku Bom Thamrin menggunakan kaos, celana jeans, dan topi berlambang Nike saat melancarkan aksi. Maka mengaitkan pakaian tertentu dengan ekstremisme dan terorisme tak lebih dari sekadar stigma sosial semata. Stigma sosial adalah penolakan terhadap seseorang atau kelompok karena kepercayaan orang atau kelompok tersebut melawan norma yang ada. Stigma sering mengakibatkan pengucilan hingga persekusi kepada orang atau kelompok yang bersangkutan.

Baca juga Pemuda dan Dakwah di Media Sosial

Stigma sosial kerap menimbulkan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Pasalnya, pemberi stigma suka menggeneralisasi suatu kelompok sebagai pelaku kejahatan, biang masalah, dan label-label negatif lainnya. Bahkan, pemberi stigma tak jarang memprovokasi untuk membenci kelompok tertentu, sehingga memicu gesekan yang membahayakan.

Merawat stigma sosial hanya akan menciptakan polarisasi yang berujung pada spiral kekerasan. Di satu sisi, pemberi stigma memicu terjadinya persekusi berbasis kekerasan terhadap kelompok tertentu. Sementara di sisi lain, kelompok yang terkena stigma, tidak menutup kemungkinan suatu saat akan jengah dan melawan. Kekerasan akan melahirkan dendam yang dapat memicu kekerasan lainnya. Begitu seterusnya sampai kekerasan itu mengoyak kedamaian.

Maka menghindari stigma sosial adalah satu dari sekian cara untuk menutup potensi konflik. Dalam Islam, ada kewajiban tabayyun saat menerima informasi yang diragukan, yaitu menelusuri kebenaran tentang sesuatu sampai jelas. Tabayyun inilah yang harusnya dikedepankan alih-alih langsung melontarkan tuduhan. Sebagai bangsa yang beradab, kehidupan hendaknya dibangun dengan pilar-pilar dialog dan kekeluargaan, bukan dengan curiga ataupun prasangka.

Baca juga Pendidikan Perdamaian (Tarbiyah Silmiyah): Memaknai Kembali Tujuan Jihad

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...