HomeBeritaSiswa SMAN 4 Makassar...

Siswa SMAN 4 Makassar Belajar dari Korban Bom

Aliansi Indonesia Damai- Setiap orang tentu tidak pernah berharap musibah datang menimpanya. Namun apabila Tuhan berkehendak memberikan ujian yang datang bersama musibah, maka sabar dan ikhlas adalah solusi terbaik. Pelajaran ini disampaikan Wartini, korban Bom Kuningan 2004, kepada puluhan siswa SMAN 4 Makassar dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA secara daring pada Senin (09/08/2021).

Masih teringat jelas dalam benak Wartini, saat-saat di mana sang suami, Syahromi, sempat merasa was-was ketika akan berangkat bekerja sebagai petugas keamanan di kantor Kedutaan Besar Australia, 9 september 2004. Namun karena tanggung jawab pekerjaan, Syahromi memutuskan tetap berangkat bekerja.

Baca juga Pesan Damai Siswa SMAN 22 Makassar

Selang beberapa jam berikutnya, kabar mengejutkan datang dari tetangga Wartini. Telah terjadi ledakan bom di tempat suaminya bekerja. Tanpa pikir panjang ia langsung menuju lokasi kejadian. Ia mendapatkan informasi bahwa suaminya telah dibawa ke rumah sakit. Ia lantas menjumpai suaminya dalam keadaan lemas dengan tatapan kosong. Ternyata pendengaran suami cedera parah.

Selama dua tahun Syahromi menjalani rawat jalan. Namun ajal menjemputnya kala Wartini mengandung usia 6 bulan, sementara dua anaknya yang lain masih sangat belia. Wartini sempat merasa tak berdaya kala itu. Beruntung ia menyadari bahwa semuanya sudah digariskan Tuhan.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Makassar (Bag. 1)

Sejumlah peserta tampak larut haru dalam kisah Wartini. Sejumlah pertanyaan mengarah kepadanya. “Apakah Ibu menyayangkan keputusan suami Ibu tetap berangkat meski telah merasakan firasat? Bagaimana respons anak-anak Ibu setelah kejadian? Dan bagaimana Ibu bisa menguatkan hati sehingga bisa setegar ini?” Demikian salah seorang peserta memberondong pertanyaan.

Menanggapi hal tersebut, Wartini mengatakan bahwa ia tidak menyesal sama sekali atas keputusan suaminya yang tetap bekerja meski sempat merasakan firasat buruk. “Saya nggak bisa menyayangkan kepergiannya saat itu. Karena bagi saya itu mungkin sudah jalannya ya, sudah takdir. Dan suami saya seperti itu, saya terima apa adanya,” ucapnya dengan nada tercekat.

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMA Hang Tuah Makassar

Sebagai tulang punggung bagi ketiga buah hatinya, Wartini sadar harus bisa sekuat mungkin menghadapi suratan takdir agar anak-anaknya juga kuat dan tegar. Ia juga menasehati anak-anaknya untuk tidak menyimpan dendam.

“Anak-anak harus kuat seperti saya. Saya menekankan kepada anak-anak untuk jangan menyimpan dendam. Dendam tidak akan bisa mengembalikan Bapak. Akhirnya anak-anak sadar dan sudah tidak menyimpan amarah atau dendam lagi,” ucapnya.

Baca juga Semangat Ketangguhan dari SMKN 4 Makassar

Selain pertanyaan, peserta juga menghaturkan dukungan dan doa bagi Wartini. “Terima kasih Ibu atas inspirasinya. Mendorong kita untuk pantang menyerah, selalu sabar, tidak mendendam, serta selalu ikhlas akan semua ketetapan Allah SWT. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah tidak mungkin menguji hamba-Nya kalau tidak ada jalan keluarnya,” ucap salah seorang siswa di akhir kegiatan.[SWD]

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMAN 1 Makassar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...