HomeBeritaDialog Korban Bom Thamrin...

Dialog Korban Bom Thamrin dengan Jurnalis Sumatera

Aliansi Indonesia Damai- Deni Mahieu menjadi salah satu korban ledakan Bom Thamrin 2016 silam. Berbicara di hadapan sejumlah jurnalis asal Sumatera peserta Short Course Daring Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media, yang digelar AIDA, akhir Juli lalu, Deni menceritakan kronologi dirinya terkena ledakan bom hingga kondisi yang ia alami akibat ledakan tersebut sampai saat ini.

Salah seorang peserta bertanya, apakah sejak peristiwa itu Deni menjadi lebih mudah curiga atau trauma dengan kondisi-kondisi tertentu. Deni menjawab, sejak kejadian itu, tentu dirinya menjadi lebih curiga pada keadaan di sekelilingnya. Namun ia lebih menyebutnya sebagai waspada batin.

Baca juga Dialog Jurnalis Sumatera dengan Korban Bom Kuningan

Terlebih dengan statusnya sebagai polisi, ia menganggap kecurigaan itu justru diperlukan. Jadi Deni akan terus meningkatkan kewaspadaannya agar masyarakat luas pun ikut terjamin keamanannya. Deni tidak menjadikan kecurigaannya sebagai kelemahan, tetapi alat agar bisa berkontribusi lebih baik lagi demi keamanan masyarakat.

“Karena saya seorang polisi, saya melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Jadi aspek perlindungan itu saya utamakan benar. Di pos itu, kalau seandainya saya tidak berbuat begitu (mengecek), padahal pos itu tempat penyeberangan jalan yang ramai jam segitu, walaupun ada korban mungkin tidak terlalu banyak. Polisinya kena tapi masih hidup,” ucap Deni yang terkena ledakan bom di pos polisi jalan MH Thamrin Jakarta Pusat.

Baca juga Dialog Eks Napiter dengan Jurnalis Sumatera

Peserta lain menanyakan tentang perasaan Deni saat ini apabila bertemu pelaku teror. Ia mengaku tidak menyimpan dendam sama sekali. Saat dirinya dipertemukan dengan sejumlah mantan pelaku dalam suatu forum, ia bahkan bercengkerama bersama mereka secara akrab. “Saya bilang, kamu sudah jadi saudara saya,” ucap Deni.

Puncak keikhlasan Deni terlihat ketika dirinya bertemu dengan Aman Abdurrahman, otak dari serangan yang melukai dirinya, di pengadilan. Usai memberikan kesaksian persidangan, Deni memeluk Aman.

Baca juga Liputan Media Mesti Berperspektif Korban

“Saya bilang ke dia, saya ini bukan orang yang harusnya Anda hancurkan. Saya bukan musuh. Orang lain mungkin berbuat jahat kepada saya, tetapi saya tidak akan balas berbuat jahat sama dia,” tutur Deni.

Ia bertekad ingin melanjutkan sisa hidupnya dengan damai. Bahkan saat pensiun beberapa tahun nanti, ia mengaku akan banyak menghabiskan kegiatannya dengan ibadah, sebagai bentuk ketundukannya pada takdir dan ketetapan Tuhan. [FAH]

Baca juga Bangkit Demi Masa Depan dan Keluarga

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....