HomeBeritaDialog Mantan Napiter dengan...

Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMAN 1 Makassar

Aliansi Indonesia Damai – Kegiatan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” kembali dilaksanakan oleh AIDA, Senin (02/08/2021). Sebanyak 52 siswa-siswi SMAN 1 Makassar aktif menyimak paparan dari narasumber Tim Perdamaian yang terdiri dari mantan pelaku terorisme dan korbannya.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa siswa menunjukkan antusiasmenya dengan melemparkan beberapa pertanyaan kepada Choirul Ikhwan, mantan narapidana terorisme (napiter), yang menjadi narasumber.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Makassar dengan Korban Bom Thamrin

Salah seorang siswa menyampaikan kekhawatirannya apabila di kemudian hari ada temannya yang mulai terlihat mengarah ke dalam jaringan ekstrem. “Apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang individu, tanpa membahayakan keselamatan saya dan orang di sekitar saya?” ujarnya.

Irul, sapaan akrab Choirul Ikhwan, menyampaikan pentingnya untuk memastikan terlebih dahulu dan tidak asal menuding hanya karena ciri tertentu. Ia juga berpesan agar tetap berhubungan baik dengan orang tersebut. Jika memang sudah menunjukkan indikasi yang kuat, maka melaporkan ke pihak berwenang menjadi solusi yang paling aman.

Baca juga Menyemai Ketangguhan di SMK Budi Mulia Malang

Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat dari Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA, yang menjadi fasilitator kegiatan. Menurut dia, penting untuk mencoba merebut hati pihak-pihak yang terindikasi daripada langsung melaporkan. Ia juga menyarankan untuk menyampaikan dampak yang disebabkan oleh kelompok terorisme terhadap para korban.

“Gejalanya harus dipahami betul, seperti salah satu tandanya adalah mudah mengkafirkan sebagaimana yang dicontohkan oleh Choirul Ikhwan. Kalau bisa disampaikan dampaknya juga, kalau lanjut bisa menimbulkan korban, dan kita semua bisa menjadi korban. Ketika sekadar lewat, atau nongkrong di café, tidak pernah ada praduga bahwa akan menjadi korban,” ucap Hasibullah.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Malang dengan Mantan Ekstremis

Siswa lain bertanya terkait respons keluarga Irul ketika mengetahui dirinya telah bergabung ke dalam kelompok ekstrem. Menanggapi hal tersebut, Irul mengungkapkan rasa syukurnya karena berasal dari keluarga dengan latar belakang keislaman yang moderat. Pasalnya, banyak napiter yang memiliki keluarga jihadis sehingga sulit dan cenderung ditahan untuk kembali ke jalan perdamaian.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa keluarga berperan penting dalam proses kembalinya menuju jalan perdamaian. “Kasih sayang orang tua dan keluarga itu luar biasa, walaupun itu diungkapkan dengan hal yang berbeda dengan yang kita pikirkan,” ucap Irul.

Baca juga Generasi Muda Duta Perdamaian

Sebelum menutup dialog dengan para siswa, Irul mengingatkan agar para siswa tidak mudah merasa paling benar sendiri. Karena kebenaran bukanlah hal yang mutlak dan harus terus ditelusuri.

“Kebenaran itu tidak serta merta kita miliki. Kita harus terus mencari dan mencari. Bisa jadi hari ini kita menganggap apa yang kita lakukan benar, suatu saat kita menyadari itu salah. Kita tidak boleh sombong diri dengan hal itu, sehingga menyalahkan orang lain,” demikian pesannya. [WTR]

Baca juga Generasi Muda Cinta Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...