HomeBeritaMenetralkan Paham Kekerasan

Menetralkan Paham Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- “Kayak es batu di dalam freezer, itu kan keras dan susah. Dia harus dikeluarkan dulu dari freezer supaya mencair. Seperti halnya menyadarkan rekan yang berpaham ekstrem, keluarkan dari komunitas. Kemudian baru kita berikan pembanding dengan cara menguatkan orang tersebut dengan bacaan literasi karya ulama. Insya Allah bisa sadar.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mukhtar Khairi, mantan penganut ekstremisme kekerasan, dalam Dialog Interaktif  Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA di SMAN 4 Makassar, Senin (09/08/2021). Sebelumnya salah seorang peserta menanyakan tentang strategi menyadarkan seseorang yang sudah terhasut oleh kelompok ekstremisme kekerasan.

Baca juga Siswa SMAN 4 Makassar Belajar dari Korban Bom

Menurut Mukhtar, cara tersebut cukup efektif bagi seseorang yang telah terinfeksi paham ekstrem namun belum merencanakan aksi. Sedangkan untuk seseorang yang sudah terhasut dan telah merencanakan aksi teror, agak sulit untuk menyadarkannya kecuali dengan izin Allah.

“Kenapa kelompok teroris yang di Sulteng seperti MIT (Mujahidin Indonesia Timur) bisa bertahan di situ lama dan menebar teror di situ?” ujar peserta lain melemparkan pernyataan kepada Mukhtar.

Baca juga Pesan Damai Siswa SMAN 22 Makassar

Merespons hal tersebut, Mukhtar memandang bahwa anggota MIT sangat terbatas mendapatkan informasi dan tidak update dengan perkembangan terkini. Sehingga pemikiran mereka yang terbentuk sejak dahulu, susah untuk berubah.

“Karena terbatas mendapatkan informasi, mereka tidak mengetahui betapa banyak perubahan dengan para tokoh kelompok mereka. Terakhir anggota MIT menghubungi teman saya untuk meminta dukungan, akan tetapi teman saya pemahamannya sudah lurus,” ucapnya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Makassar (Bag. 1)

Mukhtar menambahkan, sejak pemerintah memberikan berbagai fasilitas kepada mantan anggota terorisme di Poso, salah satunya pemberdayaan ekonomi, paham ekstremisme kekerasan di kalangan mereka semakin redup.

Seorang peserta lain mengaku penasaran dengan perasaan dan emosi teroris. “Apa rasa simpati masih ada dalam diri teroris ketika melakukan pengeboman terhadap targetnya? Apa mereka tidak berpikir perbuatannya dapat mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya?”

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMA Hang Tuah Makassar

Menurut Mukhtar, berdasarkan pengalamannya dulu, kelompoknya menganggap bahwa masyarakat saat ini berada dalam masa jahiliyah. Kelompok ekstremis berniat menyelamatkan masyarakat. Sayangnya hal itu dilakukan dilakukan dengan penuh kebodohan.“Kami dulu terlalu percaya diri dengan kebodohan itu, sehingga menimbulkan kerusakan yang banyak. Karena tidak didampingi tokoh ulama sehingga pemikiran kami jadi ngawur,” ucapnya. [SWD]

Baca juga Semangat Ketangguhan dari SMKN 4 Makassar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...