HomeBeritaDialog Pelajar Malang dengan...

Dialog Pelajar Malang dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Mukhtar Khairi, mantan narapidana terorisme (napiter), membagikan kisah hidupnya kepada puluhan pelajar Malang, Jawa Timur, Rabu (06/10/2021). Mukhtar berharap agar generasi muda berhati-hati dan tidak salah langkah seperti dirinya dahulu.

“Jauhi pengajian tertutup, selektif memilih teman dan komunitas,” ujarnya berpesan kepada peserta Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan Kemendikbud Ristek. Kegiatan diikuti secara daring oleh perwakilan siswa SMAN 4, SMAN 5, dan SMAN 6 Kota Malang.

Baca juga Dialog Pelajar Malang dengan Penyintas Bom Bali

Setelah Mukhtar menceritakan sepak terjangnya di jaringan ekstremisme kekerasan, kehidupan di dalam Lapas, serta pertobatannya kembali ke jalan perdamaian, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan. Salah seorang siswa bertanya, apa yang membuat para pelaku tidak takut apabila disuruh melakukan bom bunuh diri.

Mukhtar menjelaskan, seseorang yang bergabung ke dalam kelompok teror tidak serta merta langsung disuruh melakukan aksi bunuh diri. Awalnya ia akan dicuci otak terlebih dahulu. Ketika dianggap sudah siap dan tidak takut, barulah diutus sebagai pelaku bom bunuh diri. Lantas apa yang membuatnya berani?

Baca juga Kemendikbud: Generasi Muda Jangan Terseret Ekstremisme

“Dalil-dalil, baik itu ayat Al-Qur’an ataupun hadis. Pelaku teror biasanya menggunakan dalil tersebut sebagai pembenaran. Contohnya hadis yang mengatakan bahwa orang yang mati syahid akan dikawinkan dengan 73 bidadari di surga. Ini yang menjadi motivasi kita. Merasa mendapat jalan pintas menuju surga,” ujar Mukhtar menerangkan.

Iming-iming surga itulah yang membuat para pelaku menjadi gelap mata. Mereka tidak takut mati, tidak memikirkan nasib orang yang menjadi korban, menolak nasihat dari orang selain kelompoknya. Dalam keyakinannya dulu, jalan pintas menuju surga adalah jihad. “Kita menganggap jihad sebagai tujuan. Padahal bukan. Jihad adalah salah satu sarana saja untuk menuju surga. Selain jihad, ada shalat, puasa, dan lain-lain,” tutur Mukhtar.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Malang (Bag. 1)

Ia membagikan tips agar generasi muda tidak mudah terpengaruh ajakan kelompok ekstrem. Cara paling mudah adalah dengan mengenali cara mereka merekrut orang. “Biasanya mereka mengajukan pertanyaan, kamu pilih Al-Qur’an atau Pancasila? Kebanyakan orang akan memilih Al-Qur’an. Baru setelah terpancing, mereka akan menjelek-jelekkan Pancasila,” ucap Mukhtar.

Pola tersebut digunakan untuk memerangkap orang ke dalam opini yang menyudutkan negara dan sistemnya. Dari situlah, target akan ditanamkan paham keagamaan yang esktrem untuk mengganti sendi-sendi negara dengan cara apa pun, termasuk cara-cara kekerasan.

Baca juga Buah Kesabaran Penyintas Bom

“Adik-adik juga bisa diiming-imingi dengan kenikmatan surga. Untuk mencapai itu, adik-adik ditawarkan cara-cara instan seperti meledakkan diri. Ketika sudah melihat hal yang seperti itu, hati-hati! Jangan sampai termakan oleh iming-iming mereka,” demikian petuah Mukhtar di akhir sesinya. [FAH]

Baca juga Penyintas Bom Bali Berbagi Ketangguhan di SMKN 3 Surakarta

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...