HomeBeritaDialog Pelajar Malang dengan...

Dialog Pelajar Malang dengan Penyintas Bom Bali

Aliansi Indonesia Damai- AIDA bekerjasama dengan Kemendikbud Ristek menggelar Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” pada Rabu (06/10/2021). Kegiatan diikuti oleh 55 siswa perwakilan dari SMAN 4 Malang, SMAN 5 Malang, dan SMAN 6 Malang.

Ni Luh Erniati, istri dari korban Bom Bali 2002, dihadirkan sebagai narasumber untuk berbagi inspirasi ketangguhan kepada para peserta. Erni, begitu sapaan akrab Ni Luh Erniati, mengisahkan lika-liku kehidupan usai suaminya meninggal akibat serangan pengeboman di Pulau Dewata. Ia terpaksa menjadi single parent untuk membesarkan dua anaknya yang saat itu masih kecil.

Baca juga Kemendikbud: Generasi Muda Jangan Terseret Ekstremisme

“Saya memberi judul paparan saya dengan ‘Kulapangkan Dadaku’ karena dalam hidup ini saya harus berlapang dada dan menerima kenyataan hidup yang mau tidak mau memang harus saya jalani,” katanya.

Erni mengatakan, status janda yang ia sandang di usia yang relatif muda bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Muncul stigma negatif dari lingkungan sosialnya. Ia merasa sakit dan sedih menghadapi omongan orang-orang di sekelilingnya. Saat itu ia mengaku sensitif jika berbicara tentang status.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Malang (Bag. 1)

“Tapi saya jelaskan bahwa saya menjadi seorang janda bukan kemauan saya. Saya bukan seperti janda lain yang status itu memang dengan sengaja dibuat. Saya menjadi janda bukan kemauan saya, melainkan karena kehendak dan takdir Tuhan yang harus saya terima,” kata Erni.

Karena status itu, ia bahkan nyaris kehilangan hak asuh atas anaknya. Keluarga besar suaminya hendak menarik pengasuhan kedua putranya sebab meragukan kemampuan Erni. Sebagai ibu kandung, ia tegas menolak permintaan itu dan bertekad membesarkan anaknya seorang diri. “Setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Saya kini bisa jadi wanita yang mandiri. Awalnya memang terpuruk dan sakit,” katanya menambahkan.

Baca juga Buah Kesabaran Penyintas Bom

Usai menceritakan kisahnya, berbagai pertanyaan muncul dari peserta. Salah satunya dari siswi SMAN 6 Malang. Siswi tersebut menanyakan motivasi kebangkitan Erni. Perempuan asli Bali itu menjelaskan bahwa anak, keluarga, dan teman memberikan dukungan besar padanya. Ada salah satu kalimat temannya yang membuatnya bersemangat untuk menjalani hidup. “Ni Luh, kamu tidak boleh mati sebelum kamu benar-benar mati. Karena anak-anak kamu membutuhkan kamu.”

Kalimat itu seolah menjadi mantra kebangkitan Erni. Ia kerap mengucapkannya berulang-ulang pada dirinya sendiri. “Jadi ketika saya ucapkan, itu merasuk dalam diri saya dan saya berpikir saya harus bangkit. Tak boleh nangis terus. Kondisi tidak akan berubah dengan saya nangis. Itu yang membantu saya untuk bangkit,” ucap Erni.

Baca juga Penyintas Bom Bali Berbagi Ketangguhan di SMKN 3 Surakarta

Pertanyaan juga muncul dari siswi SMAN 6 Malang lainnya. Ia bertanya tentang cara Erni mengelola perasaannya saat tiba-tiba ingat dengan peristiwa menyakitkan itu, dan timbul kemarahan marah atau dendam. Erni mengatakan, selama ini sudah ikhlas dan lapang dada menerima semuanya. Ia juga sudah memaafkan pelaku.

Jika ia mengingat masa lalu pahitnya, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan usahanya dan mengalihkan pikiran dengan bermain bersama anak-anaknya. “Saya ingatkan lagi pada diri saya. Kenapa saya harus sedih, semua itu sudah terjadi. Kalau pun saya menangis darah, marah, benci atau melakukan sesuatu atau dendam kepada orang yang membuat kejadian itu terjadi, kondisi tidak akan berubah. Suami saya tak akan pulang lagi. Saya harus memikirkan masa depan. Saya harus membuat diri saya lebih baik ke depan,” katanya.

Baca juga Mencetak Generasi Muda Berkarakter Damai

Pada akhir sesi, Erni berpesan kepada para siswa agar tidak pernah menyimpan dendam dan tidak membalas kekerasan dengan jalan kekerasan. “Jika kekerasan dibalas dengan kekerasan, semua ini tidak akan pernah berakhir karena justru akan timbul dendam dan tragedi yang lain. Damai itu indah. Damai itulah surga  yang perlu diciptakan, disebarkan, dipertahankan. Ini semua ada tugas kita untuk saling menyayangi, mencintai, dan menghormati,” kata Erni memungkasi. [LADW]

Baca juga Generasi Muda Cerdas Bermedsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...