HomeBeritaPionir Perdamaian dari Bandar...

Pionir Perdamaian dari Bandar Lampung

Aliansi Indonesia Damai- Kesadaran akan pentingnya merawat perdamaian penting ditanamkan bagi generasi muda di Indonesia. Sebagai penerus pembangunan masa depan bangsa, generasi muda diharapkan mampu menjadi pionir bagi kelestarian perdamaian di Indonesia.

Sebagai upaya mewujudkan cita-cita tersebut, AIDA menggelar safari perdamaian virtual di sejumlah sekolah di wilayah Bandar Lampung pada Januari 2022 lalu. Sekolah-sekolah yang menjadi mitra kerja sama penyelenggaraan kegiatan adalah MAN 1, MAN 2, SMAN 16, SMAN 5, dan SMAN 7 Bandar Lampung.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 16 Bandar Lampung dengan Mantan Ekstremis

Di tiap sekolah tersebut, AIDA menggelar “Dialog Interaktif Virtual: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” dengan menghadirkan narasumber dari mantan pelaku terorisme dan korbannya. Kedua pihak berbagi kisah ketangguhan hidup dari pengalaman mereka pernah terjerumus dalam kelompok kekerasan dan sebagai pihak yang menjadi korbannya. Kisah dari kedua belah pihak diharapkan menjadi pembelajaran bagi generasi muda agar mampu menjadi generasi yang tangguh dan tidak terjebak dalam kelompok kekerasan.

Direktur Eksekutif AIDA, Riri Khariroh, menegaskan, kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat ketangguhan generasi muda menghadapi berbagai persoalan, khususnya ancaman propaganda kekerasan yang kerapkali menyasar kalangan pemuda. Menurut Riri, membangun perdamaian harus melibatkan mereka. “Banyak kelompok yang ingin merusak perdamaian dan menjerumuskan generasi muda ke aksi-aksi kekerasan, terutama di media sosial,” katanya.

Baca juga Penyintas dan Mantan Ekstremis di Mata Pelajar Lampung

Pembina OSIS SMAN 5 Bandar Lampung, Yohanes Edi, bersyukur kegiatan itu digelar bersama anak didiknya. Kesempatan berdialog secara virtual dengan mantan pelaku terorisme dan korbannya adalah pengalaman berharga bagi para siswa. Karena itu ia berharap anak-anak didiknya dapat menyerap pembelajaran dan disebarluaskan ke lingkungan masing-masing. “Pengalaman orang lain mungkin buruk. Tetapi yang baik kita ambil. Jadilah diri sendiri dan jangan pernah menjadi orang lain,” ujarnya.

Selaras dengan hal itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas MAN 1 Bandar Lampung, Yuniarti, juga mengapresiasi kegiatan itu sembari berharap anak didiknya menjadi generasi yang cinta damai dan mampu menghadirkan moral dan etika yang baik bagi orang lain.

Baca juga Memupuk Karakter Damai

“Kesempatan yang bagus sekali. Apalagi AIDA sudah lama berkiprah bagi (pembangunan) perdamaian Indonesia. Semoga siswa kami bisa menjadi role model untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan. Menjadi insan dan generasi muda yang tidak hanya menguasai iptek tetapi juga imtak (iman dan takwa)-nya bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sementara Pembina OSIS SMAN 7 Bandar Lampung, Bram Rizaldi, meyakini pendidikan karakter sangat diperlukan untuk menumbuhkan generasi muda yang cinta damai. Apalagi kemajuan teknologi membuat masyarakat sulit mencerna informasi yang benar. “Dengan kemajuan teknologi, sekarang ini kita mudah mendapatkan informasi, tetapi sulit mendapatkan yang benar. Oleh karena itu kita harus tahu bagaimana mengedukasi siswa di sekolah sehingga bisa menerapkan habitus yang baik di rumah,” ucapnya.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bandar Lampung (Bag. 1)

Sedangkan Salah seorang siswa di SMAN 7 Bandar Lampung mengaku mengambil hikmah dari kisah-kisah narasumber, khususnya dari mantan pelaku. Ia menilai lingkungan dan pertemanan sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang. Maka ia berpesan agar generasi muda harus bisa memilih jaringan pertemanan yang menjunjung tinggi perdamaian. “Salut untuk mantan pelaku, karena bisa bangkit dari masa lalu yang kelam dan menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi,” tutur siswa kelas XI tersebut.

Pengurus OSIS MAN 1 Bandar Lampung mengungkapkan bahwa kisah korban memberikan pembelajaran bagi dirinya bahwa manusia harus terus menebarkan cinta kasih sekalipun terhadap pihak yang pernah melakukan kesalahan kepadanya. Ia kagum atas keikhlasan korban. Meski tak mudah, korban bisa bangkit dari berbagai keterpurukan. “Korban telah ikhlas menerima kejadian tersebut, dan kejadian itu dijadikan sebagai ladang untuk naik kelas dan menjadi lebih kuat,” tuturnya. [AH]

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bandar Lampung (Bag. 2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...