HomeBeritaDua Kutub untuk Indonesia...

Dua Kutub untuk Indonesia Damai

Aliansi Indonesia Damai- “Ini hal yang tidak terpikirkan. Ada dua kutub yang benar-benar bisa duduk di satu meja. Ada korban kemudian pelaku. Mestinya tidak mungkin, karena luar biasa efek psikologis bagi korban. Tetapi karena semangat kebersamaan, agar tercipta Indonesia damai, kita menurunkan ego masing-masing.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang, Dr. Werhendri, saat memberikan sambutan dalam Kegiatan “Halaqoh Perdamaian: Belajar dari Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di UIN Imam Bonjol, Rabu (29/06/2022). Acara tersebut diikuti 150 peserta dari beberapa kampus di Sumatera Barat. Di antara narasumbet yang dihadirkan adalah Nanda Olivia Daniel, korban Bom Kuningan 2004, dan Ali Fauzi Manzi, mantan pelaku terorisme.

Baca juga Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Penyintas Bom Kuningan

Menurut Werhendri, kegiatan ini sangat penting bagi mahasiswa. Pertama, sebagai penguatan akademik secara teoretis. Kedua, memberikan perspektif secara empiris dari peristiwa terorisme, “Apa yang kita bahas ini, mari kita belajar untuk diri, masyarakat, dan bangsa ini,” katanya.

Ia mengapresiasi para korban terorisme yang mampu menaklukkan emosinya. Korban sejatinya harus bertarung secara moral, karena pernah tersakiti. Biasanya rasa sakit itu akan diwariskan ke generasi di bawahnya, namun itu bisa diputus.

Baca juga Warek ITT Purwokerto Ajak Mahasiswa Lestarikan Perdamaian

Dalam kesempatan itu, Ali Fauzi Manzi menceritakan pengalamannya selama bergabung dengan kelompok ekstrem. Ia pernah menempuh pendidikan militer di Mindanao, Filipina. Ali belajar merakit bom dan menggunakan senjata api. Sampai akhirnya ia ditangkap dan ditahan otoritas Filipina. “Di penjara saya disiksa dengan luar biasa, sampai akhirnya dipulangkan ke Indonesia” ujarnya.

Siksaan berat tersebut belum mengubah pemahamannya. Justru perubahan terjadi di Indonesia. Ali memutuskan meninggalkan kelompok ekstrem karena pelbagai faktor. Salah satu faktor yang menguatkan kesadarannya adalah pertemuan dengan korban bom yang menderita sakit seumur hidupnya. “Air mata saya tumpah. Hati saya teriris-iris, saya tidak tahan,” tuturnya dengan bersedih.

Baca juga Mencegah Pemuda Terpapar Paham Ekstrem

Sementara Nanda Olivia Daniel mengisahkan musibah yang menimpanya pada 9 September 2004. Ia harus mengalami disabilitas di bagian jari tangannya akibat bom yang meledak di depan kantor Kedubes Australia di Jakarta. “Para teroris itu mempunyai pilihan untuk tidak mengebom. Tetapi saya dan para korban yang lain tidak mempunyai pilihan. Saya hanya ingin kuliah, tapi harus kena bom karena ulah mereka,” katanya tegas.

Nanda pernah sangat marah dengan para pelaku terorisme. Ketika dirinya dipertemukan pertama kali dengan Ali Fauzi, ingin rasanya ia melampiaskan kekesalan kepadanya. Namun ia lantas menyadari bahwa kemarahan tidak akan membuat jarinya kembali seperti semula. “Akhirnya saya tekankan dalam diri saya bahwa harus belajar memaafkan. Bukan karena orang lain, tetapi karena diri saya. Saya memaafkan diri saya untuk ikhlas, sadar, dan bangkit,” tuturnya. [FKR]

Baca juga Meluruskan Stereotip Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...