HomePilihan RedaksiMerajut Hubungan Menggenggam Harapan...

Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Suwarni berupaya menjalani hari demi hari tanpa mengeluh. Secara perlahan ia berada di fase belajar untuk menerima luka fisik dengan segala dampaknya dan mulai bisa mengontrol kapasitas diri atas aktivitas yang dijalani.

Suwarni menyadari betul bahwa karya Tuhan jauh lebih sempurna mau bagaimana pun bentuknya, dibandingkan dengan karya manusia seperti hasil operasi pada tangannya yang masih menyisakan rasa sakit dan entah bertahan hingga kapan. Harapan dan semangat Suwarni kala itu hanya berasal dari keluarganya dan hati kecil yang terus merapal doa agar tidak ada hal buruk terjadi pada tangannya.

Baca juga Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 1)

Takdir Tuhan lantas memertemukan Suwarni dengan teman–teman senasib yang lebih dulu tergabung dengan YPI dan mengikuti kegiatan-kegiatan AIDA. Kecemasan dan rasa takut yang selama ini menghantuinya terluapkan meskipun harus menggali kembali peristiwa yang menyakitkan.

Bagiku kelapangan hatinya tidak perlu diragukan. Keikhlasan menerima takdir rasanya tidak semua orang mampu menjalani. Mungkin sebagian orang akan meluapkan amarah jika berhadapan dengan sosok-sosok yang sudah membuatnya menderita. Suwarni justru sebaliknya, tidak ada sedikit pun ungkapan kecewa atau amarah saat berhadapan dengan mantan pelaku terorisme.

Baca juga Meresapi Hikmah di Balik Musibah

Dalam perjumpaan perdana itu, ia kembali mengungkapkan perasaan takutnya jika sewaktu–waktu otot tangannya putus dan menyebabkan cacat permanen. Hal yang menghantuinya selama bertahun–tahun yang kali itu diutarakannya sambil tersedu-sedu. Kalimat lain tentunya asa supaya tidak ada tragedi serupa yang menimpa dirinya di kemudian hari.

Kita mungkin kerap mengabaikan dan menyepelekan hal–hal sederhana yang bisa jadi itu menghidupkan harapan bagi sebagian orang untuk meyakinkan diri bahwa hidup layak diperjuangkan. Bagi Suwarni, sekadar mengenal dan berbagi cerita dengan rekan-rekan sesama korban terorisme mampu mengobati rasa takut yang menghinggapinya sekian lama. Lebih dari itu membuahkan ketenangan dan harapan baru bagi hidupnya.

Baca juga Trauma dan Rasa Sakitnya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mensyukuri “Hidup Kedua”

Aliansi Indonesia Damai- Menjadi korban bom tentu tidak seorang pun menginginkannya....

Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 1)

Aliansi indonesia Damai- “Saya sekarang agak tenang, Mbak, karena bisa kenal...

Trauma dan Rasa Sakitnya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada pena dan tinta yang mampu menggambarkan...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....