HomePilihan RedaksiMerajut Hubungan Menggenggam Harapan...

Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 1)

Aliansi indonesia Damai- “Saya sekarang agak tenang, Mbak, karena bisa kenal banyak teman–teman korban lewat YPI (Yayasan Penyintas Indonesia). Dulu saya takut kalau tiba–tiba otot di tangan saya putus, terus tangan saya gak bisa di-pake gerak lagi. Saya bingung harus gimana dan menghubungi siapa.”

Sepenggal kalimat tersebut diutarakan oleh Suwarni (46 tahun) dalam obrolan kami selepas kegiatan Peringatan 19 Tahun Tragedi Bom Kuningan di Jakarta, awal September lalu. Ucapan itu terdengar jujur dan penuh harapan.

Baca juga Meresapi Hikmah di Balik Musibah

Aku mengenal Suwarni di awal tahun 2023 dalam salah satu kegiatan AIDA di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia belum lama bergabung dengan YPI sebagai wadah korban bom terorisme di Indonesia. Nama Suwarni “ditemukan” oleh Nanda Olivia (Sekrertaris YPI) melalui rekan sesama penyintas Bom Kuningan 2004 yang kala peristiwa terjadi sama-sama bekerja di gedung Plaza 89 Jalan HR. Rasuna Said Jakarta Selatan.

Pada Kamis 9 September 2004, Suwarni menjalankan tugas rutinnya sebagai petugas loket parkir gedung Plaza 89. Gedung ini berseberangan dengan kantor Kedutaan Besar Australia. Pagi menjelang siang, terdengar suara dentuman, suasana berubah menjadi gelap gulita, asap putih memenuhi udara. Teriakan-teriakan manusia bersahutan hingga membuat Suwarni ketakutan dan spontan menundukkan kepala. Usaha refleks melindungi diri dari hal buruk. Kala asap mulai memudar, ia menyaksikan reruntuhan gedung dan korban-korban yang bergelimpangan.

Baca juga Trauma dan Rasa Sakitnya

Suwarni lantas berusaha  mencari lokasi yang aman. Ia mendapati tangan kirinya mengucurkan darah, berlubang, hingga terlihat tulangnya. Beberapa serpihan kaca menancap di kepala dan beberapa bagian tubuhnya terluka. Setelah dilakukan operasi dan pemulihan di rumah sakit MMC selama beberapa hari, Suwarni diizinkan pulang.

Rasa syukur dipanjatkannya. Ia bisa kembali ke rumah dan bertemu kembali dengan 2 buah hatinya yang masih balita. Namun kegundahan menyelimutinya lantaran tangan kirinya yang belum bisa difungsikan. Ada perasaan tidak berguna sebagai seorang istri dan ibu. Ada banyak hal yang harus dilakukan tapi tidak bisa ditunaikan.

Baca juga Melawan Ketakutan demi Masa Depan

Suwarni kembali bekerja usai 3 bulan menjalani pemulihan pascaoperasi tendon tangan kiri. Ia menyadari kondisi fisiknya menurun, terutama pada bagian tangan yang sering kambuh dan hanya berfungsi sekitar 70%. Merasa membebani tempat kerja, Suwarni memutuskan mengundurkan diri pada tahun 2006 dan bekerja serabutan dengan membuka usaha semampunya di rumah.

Nyaris selama 19 tahun Suwarni terus dihantui rasa cemas dan khawatir atas dampak fisik di  tangan kiri. Aktivitas sehari–hari sebagai ibu rumah tangga dengan 2 anak menjadi sangat terbatas. Beberapa kali sempat kesal terhadap diri sendiri dan mencoba memaksakan diri untuk bisa beraktivitas normal tapi yang terjadi adalah rasa sakit pada tangan. (bersambung)

Baca juga Kesabaran Tak Bertepi Penyintas Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mensyukuri “Hidup Kedua”

Aliansi Indonesia Damai- Menjadi korban bom tentu tidak seorang pun menginginkannya....

Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Suwarni berupaya menjalani hari demi hari tanpa mengeluh....

Trauma dan Rasa Sakitnya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada pena dan tinta yang mampu menggambarkan...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...