HomeOpiniInvestasi pada Guru untuk...

Investasi pada Guru untuk Pendidikan Berkualitas

Oleh: Catur Nurrochman Oktavian,
Bendahara PB PGRI; Wakil Ketua Dewan Eksekutif APKS PGRI

Investasi pada guru vital dalam peningkatan kualitas pendidikan. Ini akan berdampak besar terhadap pembangunan SDM.

Semua negara di dunia sepakat bahwa pendidikan merupakan hal terpenting dalam membentuk masyarakat yang beradab dan berbudaya. Dalam sistem pendidikan, guru memiliki peran yang sangat strategis dalam menghasilkan generasi penerus yang unggul dan berdaya saing.

Pendidikan berkualitas tanpa guru yang baik bagaikan sayur tanpa garam. Guru yang berkualitas dalam mendidik dan mengajar menjadi prasyarat penting bagi kemajuan dunia pendidikan. Kalau mau meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah harus fokus berinvestasi pada guru dimulai dari perekrutan, distribusi, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan, serta kejelasan dan kepastian jenjang karier.

Baca juga Tragedi Gaza dan Masa Depan Geopolitik Global

Sudah saatnya pemerintah menginvestasikan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas guru. Jangan berpikir untung dan rugi dalam berinvestasi pada guru karena pembangunan terhadap sumber daya manusia sangat dibutuhkan dan penting selain pembangunan pada aspek fisik.

Investasi pada guru dapat menyasar pada tiga aspek. Pertama, investasi guru dengan memberikan gaji dan tunjangan yang layak dan dapat memenuhi kebutuhan hidup minimal. Selain memberikan kesejahteraan yang cukup, investasi pada guru dapat dilakukan dengan mengembangkan kemampuan profesionalisme mereka. Ketiga, investasi pada guru dapat dilakukan dengan memberikan jaminan kepastian perlindungan hukum saat mereka bertugas.

Penghasilan minimum guru

Memberikan kesejahteraan yang layak dan memenuhi kebutuhan minimum guru merupakan instrumen investasi pertama yang penting dilakukan. Perlu ada regulasi mengenai perbaikan sistem penggajian yang memberikan kepastian penghasilan minimum yang diperoleh guru agar memastikan keluarganya dapat jaminan kehidupan yang layak. Jangan sampai tugas berat seorang guru dalam mendidik anak bangsa, harus menghadapi kenyataan hidup yang berat karena ketidakmampuannya dalam menyekolahkan anak kandungnya.

Penghasilan minimum guru harus memberikan keamanan finansial dan jaminan perlindungan kesehatan terhadap risiko-risiko yang mungkin dihadapi para guru selama menjalankan tugasnya. Dengan memastikan kesejahteraan yang memadai diberikan kepada guru, akan membuat guru nyaman dan aman mencurahkan segala kemampuannya dalam memberikan layanan terbaik di dunia pendidikan sehingga kualitas pendidikan akan meningkat.

Baca juga Membumikan Perjanjian Al-Mizan

Penghargaan terhadap para guru tidak hanya dimaknai dalam bentuk materi semata. Apresiasi dan dukungan secara menyeluruh terhadap kontribusi para guru dari orangtua murid, masyarakat, dan pemerintah akan membantu meningkatkan motivasi dan semangat para guru dalam menjalankan tugas mereka yang sangat berat.

Jadi, penghasilan minimum guru tidak hanya dilihat sebatas angka, tetapi ditinjau dari apresiasi yang besar karena beban tanggung jawab yang diemban guru dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Revitalisasi LPTK

Perbaikan tata kelola guru harus dimulai dari hulunya, yaitu lembaga pendidikan pencetak guru yang kita kenal dengan Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Penghapusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan perubahan status Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas sebaiknya menjadi bahan kajian, apakah berhasil menaikkan mutu guru dan memperbaiki tata kelola guru ataukah tidak?

Sejauh ini, penulis belum pernah membaca kajian penelitian yang menyimpulkan bahwa dengan tidak adanya secara spesifik sekolah khusus pencetak guru, menjadikan tata kelola guru lebih baik atau malah sebaliknya.

Baca juga Mengurai Rantai Kekerasan di Pesantren

Pemerintah sudah saatnya merevitalisasi LPTK. Pembatasan izin pendirian LPTK baru dan mengevaluasi LPTK yang sudah ada penting dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selain itu, pendataan terhadap keberadaan dan kebutuhan guru harus dilakukan agar supply dan demand guru terjaga.

Perekrutan dosen-dosen yang berkualitas dengan jaminan kesejahteraan memadai dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan tentu sangat berpengaruh besar dalam meningkatkan kualitas lembaga pendidikan pencetak guru. Dengan regulasi saat ini, semua sarjana dari berbagai disiplin ilmu dapat menjadi guru asalkan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Hal ini menjadi dapat dimaknai ”ancaman” ataukah peluang dan tantangan bagi LPTK untuk melakukan pembenahan diri.

Baca juga Puasa, Kedewasaan, dan Korupsi

Perbaikan sistem dalam PPG juga perlu dilakukan dengan melibatkan banyak praktisi dari organisasi profesi guru atau asosiasi guru yang bernaung di dalam organisasi guru tersebut. Dengan melibatkan banyak praktisi guru dalam PPG, akan memberikan nuansa pengalaman lapangan yang kental karena para guru sebagai praktisi telah memiliki bekal pengalaman yang banyak untuk ditularkan kepada para mahasiswa PPG. Hal ini lebih bermakna mendalam bagi para mahasiswa PPG sebagai bekal penting saat terjun di lapangan.

Peran organisasi profesi guru

Menghadapi perubahan dan tantangan yang semakin kompleks dalam dunia pendidikan, peran organisasi profesi guru tidak dapat dikesampingkan. Organisasi profesi guru memiliki potensi yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan guru menjadi motor perubahan yang penting dalam sistem pendidikan.

Organisasi profesi guru seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang usianya setara dengan Republik Indonesia tentu memiliki rekam jejak yang panjang dalam dunia pendidikan nasional. Organisasi profesi guru memiliki tanggung jawab membantu pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru dan pendidikan.

Baca juga Putus Sekolah dan Pembangunan Berkelanjutan

Dalam hal penyiapan calon guru dan guru dalam jabatan, peran organisasi profesi guru sangat penting dalam menetapkan standar profesi, kurikulum PPG, dan memastikan pendidikan profesi guru siap menghadapi tantangan dunia pendidikan yang kian kompleks di era VUCA (volatile, uncertainty, complexity, dan ambiguity).

Pelibatan peran organisasi profesi guru seperti PGRI dalam PPG sangat vital salah satunya untuk memonitor dan memastikan bahwa LPTK sebagai lembaga penyelenggara PPG memiliki kurikulum yang relevan, tenaga pendidik berkualitas, dan fasilitas pendukung yang memadai.

Baca juga Aksi Perundungan Siswa Semakin Mencemaskan

Selain berperan mengembangkan standar profesi yang menjadi acuan dalam PPG, seharusnya organisasi profesi guru turut dilibatkan dalam perumusan kurikulum, pedoman praktik pengajaran, dan kode etik yang harus diinternalisasi mendalam oleh para guru dan calon guru. Dengan pelibatan secara mendalam dari organisasi profesi guru dalam proses penyiapan calon guru, mereka akan menerima pendidikan yang sesuai dengan tuntutan profesi guru yang sebenarnya.

Organisasi profesi guru juga memainkan peran penting dalam memberikan kesempatan kepada semua guru untuk mengembangkan diri. Dengan berbagai seminar, bimbingan teknik, dan lokakarya yang diadakan organisasi profesi, para guru dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi mereka secara berkelanjutan sehingga ilmu dan wawasannya selalu update.

Baca juga Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme

Peran organisasi profesi guru sebagai wadah berorganisasi para guru dalam memperjuangkan hak-hak mereka dan memberikan rasa aman serta perlindungan hukum. Organisasi profesi guru menjadi tempat para guru berkolaborasi, bersatu, berbagi pengalaman, mengeluarkan pendapat, dan menyalurkan aspirasi untuk menjawab berbagai isu pendidikan yang sangat penting. Organisasi profesi guru seperti PGRI menjadi sandaran utama para guru dalam menghadapi berbagai kasus hukum yang dialami mereka ketika menjalankan tugasnya.

Kerja sama yang dikembangkan organisasi profesi dengan beragam pemangku kepentingan untuk meningkatkan kompetensi, perlindungan hukum, dan peningkatan kesejahteraan guru akan membantu guru melaksanakan tugasnya yang mahaberat dalam mempersiapkan generasi muda bangsa untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional.

Baca juga Zaman Ruwaibidhah

Investasi pada guru merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting dan vital dalam peningkatan kualitas pendidikan dibandingkan investasi pada sarana prasarana semata. Investasi pada guru akan berdampak besar dalam pembangunan sumber daya manusia karena melalui pendidikan yang berkualitas akan terbangun generasi masa depan yang unggul dan mampu berdaya saing.

Jangan menimbang untung dan rugi dalam berinvestasi pada guru di dunia pendidikan karena perannya yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Tanpa guru yang berkualitas, pendidikan bermutu hanyalah impian.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Senin 26 Februari 2024

Baca juga Menjadi Guru yang Humanis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...