HomeOpiniTerang Peradaban melalui Buku

Terang Peradaban melalui Buku

Oleh: Anggi Afriansyah,
Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Ibu dan bapak saya merupakan guru yang mengabdi puluhan tahun di dunia pendidikan. Ketika saya masih kanak-kanak, kami tinggal di perumahan sekolah tempat ibu mengabdi. Kondisi tersebut membuat saya mendapat privilese kecil, membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka dengan label di kover “Milik Negara, Tidak Diperjualbelikan” yang merupakan milik sekolah, yang bahkan sering kali teronggok di kardus, tak menarik dijamah orang lain, sebab ketika itu perpustakaan sekolah tak berfungsi dengan baik.

Selain itu, bapak dan ibu saya juga menyisihkan gajinya yang tak seberapa itu untuk berlangganan majalah Bobo yang legendaris. Juga sesekali mengajak saya dan adik ke toko buku untuk mencari bahan bacaan menarik. Dengan keterbatasan finansial, tak banyak bahan bacaan yang dapat dibeli.

Baca juga Negara dan Peran Akademisi

Membaca buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah dan membaca majalah Bobo menjadi salah satu penghiburan terbaik di masa kecil, menjadi pintu masuk pertama untuk mengenal dunia yang kompleks. Pengalaman tumbuh bersama buku sangat penting untuk diri saya.

Berkaca dari pengalaman tersebut, saya berpendapat bahwa anak-anak Indonesia harus tumbuh bersama buku-buku berkualitas. Namun, sudah pengetahuan umum, buku-buku bukan hal yang dapat ditemukan dengan mudah di perpustakaan sekolah-sekolah di Indonesia, apalagi di rumah-rumah.

Baca juga Beragama Maslahat

Jika melakukan riset di sekolah, pertanyaan yang sering saya tanyakan adalah di mana perpustakaan sekolah? Tak banyak kepala sekolah atau guru yang menjawab dengan cepat. Mereka biasanya menyampaikan bahwa ada perpustakaan, tetapi ketika ditelusur, perpustakaannya tutup dan tidak dimanfaatkan anak-anak untuk membaca.

Menghadirkan buku

Tahun lalu saya berkesempatan melakukan riset terkait literasi di Papua Barat Daya. Oleh sahabat saya, Dayu Rifanto, yang juga aktivis literasi, saya diajak ke Pinjam Pustaka yang dikelolanya di Sorong. Ketika saya datang, ada beberapa anak yang sedang membaca bersama dengan salah satu fasilitator yang menemani. Pinjam Pustaka memiliki ragam koleksi buku anak dan berbagai aktivitas yang mendekatkan anak-anak dengan buku.

Dari informasi yang diberikan Dayu, Pinjam Pustaka memiliki 744 buku bacaan anak dan 459 buku bacaan remaja dan umum. Buku-buku koleksi Pinjam Pustaka didapat dari donasi masyarakat umum sebab Pinjam Pustaka memanfaatkan pengelolaan sosial media secara efektif, konsisten membuka layanan, membuat beragam kegiatan, memublikasikan dan mengomunikasikan berbagai kegiatan secara teratur, serta membuka peluang dukungan buku dari beragam donatur. Yang menarik, buku-buku bacaan awal yang ada merupakan donasi dari BTS Army Indonesia.

Baca juga Bagaimana Menangani Perundungan Anak

Posisi Pinjam Pustaka sangat unik, berada di atas sebuah toko pakaian “Tokitoki”. Dayu bercerita, sang pemilik toko, Danarti Wulandari yang juga aktivis yang peduli pada pendidikan di Tanah Papua, turut berkontribusi memberi ruang bagi anak-anak untuk membaca buku dan melakukan ragam aktivitas literasi di Pinjam Pustaka, di atas tokonya tersebut. Jadi untuk membaca buku-buku, anak-anak masuk melalui toko pakaian yang ramai, baru menjumpai koleksi buku yang ditawarkan Pinjam Pustaka. Tidak lazim memang, tetapi itulah keunikan lokasi Pinjam Pustaka.

Dari cerita Dayu, tak mudah membuat anak-anak Papua yang ada di sekitar Pinjam Pustaka datang membaca. Pada tahap awal, membuat mereka merasa nyaman datang berkunjung menjadi utama. Selanjutnya, meyakinkan anak-anak bahwa membaca merupakan bagian penting dalam kehidupan mereka.

Baca juga Titik Buta Kekerasan di Sekolah

Untuk membuat anak-anak nyaman membuka buku, memilih yang mereka suka, dan menjadikan mereka kasmaran terhadap buku (meminjam istilah dari Iwan Pranoto “kasmaran berilmu pengetahuan”) butuh proses panjang. Demikian juga menghadirkan fasilitator tangguh yang menemani anak-anak untuk tekun membaca bukan perkara mudah.

Dua fasilitator lokal, Grace Burdam dan Gres Titiahy, yang baru saja lulus dari salah satu universitas di Sorong, setia menemani anak-anak yang membaca. Kehadiran mereka memberi warna pada penguatan literasi yang dilakukan Pinjam Pustaka.

Baca juga Polarisasi dan Pentingnya Akal Sehat

Ruang tumbuh anak-anak Indonesia perlu diwarnai buku-buku bacaan yang menjadikan mereka kaya perspektif. Selain mendapatkan pengetahuan, melalui membaca, anak-anak mendapatkan penghiburan.

Ada kisah menarik yang diceritakan Azar Nafisi dalam bukunya Read Dangerously: The Subversive Power of Literature in Troubled Times. Ia menulis, “Membaca dan menulis telah melindungi saya melalui momen-momen terburuk dalam hidup saya, melalui kesepian, teror, keraguan, dan kecemasan. Dan mereka juga memberi saya mata baru untuk melihat, baik tanah air saya maupun negara yang saya pilih saat ini.” Nafisi, penulis asal Iran yang menetap di Amerika Serikat, memiliki kisah pilu di masa lalu. Ia berkisah bahwa melalui membaca dan menulis, dirinya dapat melalui masa-masa sulitnya.

Baca juga Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Anak-anak yang didampingi Pinjam Pustaka, misalnya, yang memiliki keterbatasan sosial ekonomi. Anak-anak itu menghadapi hidup yang tak mudah. Namun, ketika membolak-balik buku, membaca ceritanya dengan lantang, tertawa akibat buku-buku yang lucu, mewarnai, atau berkenalan dengan teman-teman lain yang datang, mereka mendapat kebahagiaan-kebahagiaan kecil dan mampu melupakan sejenak kesulitan hidup mereka. Pertemuan-pertemuan kecil anak-anak dengan buku menjadi bagian dari aktivitas kebudayaan penting untuk membangun peradaban.

Upaya yang harus dilakukan

Secara struktural, untuk menopang budaya baca di masyarakat, intervensi pemerintah menjadi utama. Jika diamati, berbagai program sudah hadir untuk penguatan literasi masyarakat, tetapi memang masih sangat memerlukan penguatan. Di level sekolah, misalnya, sudah ada Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah yang bertujuan menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran berbudaya literasi dan membentuk warga sekolah yang literat dalam baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya, dan kewargaan.

Selain itu, terdapat Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional (2017) yang berupaya menjadikan literasi sebagai kecakapan hidup dan gerakan nasional melalui Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Masyarakat. Terbaru, kebijakan Merdeka Belajar Episode 23 “Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia” berfokus pada pengiriman buku bacaan bermutu untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) yang disertai dengan pelatihan bagi guru. Namun, tantangannya adalah membuat program-program tersebut mengakar dan terimplementasi dengan optimal dan konsisten.

Baca juga Kenapa Orangtua Menganiaya Anaknya?

Secara personal dan kelembagaan, peluang untuk mendapatkan donasi buku sangat terbuka. Beberapa kali teman baik yang bekerja di penerbitan memberi peluang untuk membantu rekan-rekan guru atau komunitas yang membutuhkan buku-buku bacaan untuk sekolah atau komunitasnya.

Secara personal, saya kenal beberapa rekan yang tekun membantu komunitas perbukuan dengan kocek pribadinya. Saat ini yang dikeluhkan adalah mahalnya ongkos kirim sebab program free cargo literacy yang menjadi penghubung bagi terkirimnya buku-buku ke berbagai pelosok Tanah Air sudah terhenti. Akan sangat baik jika program tersebut dihidupkan kembali.

Baca juga Perluas Hak Korban dalam Proses Peradilan Pidana

Perspektif baru salah satunya bisa hadir ketika anak-anak berkesempatan membaca beragam buku bermutu. Menyiapkan perpustakaan dengan buku-buku yang menarik berarti membangun peradaban bangsa ini. Seperti dikutip Nafisi dalam bukunya, “Membaca, seperti diungkap Ray Bradbury dalam sebuah wawancara, berada di pusat kehidupan kita. Perpustakaan adalah otak kita. Tanpa perpustakaan, Anda tidak memiliki peradaban”,

Maka, jika pemerintah serius ingin mengkreasi peradaban terbaik, Generasi Emas Indonesia 2045, maka menghadirkan buku-buku berkualitas bagi setiap anak bangsa menjadi kewajiban yang tak bisa ditinggalkan dan harus ditunaikan. Buku-buku ini yang akan membawa terang peradaban Indonesia.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, Rabu 24 Januari 2024

Baca juga Rekayasa Media Sosial yang Meresahkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran....

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...