HomeInspirasiAspirasi DamaiPenyimpangan Pemahaman Agama Kelompok...

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian pertama)

Sikap dan perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya, termasuk soal keagamaan. Agama sebagai entitas keyakinan seseorang sangat membutuhkan pemahaman yang baik dan benar sehingga tidak ada penyimpangan dalam memahami dan mempraktikkannya. Ada sebagian pemeluk agama yang pernah mengalami penyimpangan dalam memahami ajaran agamanya, salah satunya Mukhtar Khairi.

Mukhtar Khairi ialah seorang mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur. Ia ditangkap dan dipenjara akibat terlibat kasus pelaksanaan pelatihan militer di Jalin Jantho, Aceh pada 2010 silam. Ia pernah memahami ajaran keagamaan yang keliru layaknya pemahaman keagamaan kelompok ekstrem.

Baca juga Miskomunikasi dan Empati

Namun, ketika tengah menjalani hukuman di Lapas, ia mengalami perubahan pemahamaan keagamaan yang lebih terbuka. Ia mempelajari kembali Alquran dan hadis, membaca buku-buku ulama, dan belajar kepada ustaz-ustaz yang lebih fakih.

Menurut Mukhtar ada penyimpangan sebagian ajaran keagamaan yang dilakukan kelompok ekstrem. Pemahaman tersebut pada akhirnya menjadi ideologi yang mengakar kuat pada mereka. Padahal Allah SWT melarang hamba-Nya bersikap ekstrem dan berlebihan dalam beragama atau bersikap ghuluw.

Baca juga Sosok Pendukung Kebangkitan Penyintas Terorisme

Bentuk penyimpangan awal kelompok ekstrem biasanya mereka mendukung tindakan kekerasan dengan anggapan mempraktikkan amar makruf nahi mungkar. Misalnya, aksi sweeping terhadap tempat hiburan menggunakan kekerasan bahkan melukai seseorang, juga perusakan sarana dan prasarana.

Dalam pandangan Mukhtar, kaidah agama dalam implementasi amar makruf nahi mungkar harus dilakukan melalui kebaikan. Jika seseorang ingin memerintahkan atau mengajak orang lain kepada kebaikan maka harus dengan cara yang baik, begitu pun jika ingin mencegah kemungkaran tidak boleh menimbulkan kemungkaran lain. Sebagaimana kisah ulama Ibnu Taimiyah yang melarang muridnya untuk menyerang tentara Tartar yang mabuk-mabukan, karena akan menimbulkan kemarahan dari tentara tersebut.

Baca juga Menerima untuk Mengikhlaskan

Di antara motif kelompok ekstrem melakukan tindakan ekstrem dan teror adalah ingin mengubah negara Indonesia menjadi negara berbasis agama tertentu, menunjukkan eksistensi kelompok, dan mengubah konstitusi negara serta menciptakan perang atas nama jihad atau berperang di jalan Allah SWT meskipun di negeri aman.

Mukhtar menjelaskan, terkait motif negara agama, sejarah membuktikan bahwa sejak zaman dahulu kelompok-kelompok ekstrem selalu mengusung isu agama dan ingin menjadikan sistem kekhalifahan sebagai sistem tunggal negara yang ditempuh dengan jalan kekerasan. Misalnya, maraknya sumpah setia (baiat) di berbagai tempat kepada Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS internasional sebagai satu-satunya khalifah yang dianggap benar. Sedangkan dalam sejarah Islam didapatkan sistem pemerintahan yang beragam namun tidak ada pertentangan di internal mayoritas umat Islam sendiri kala itu.

Baca juga Nasib Perdamaian di Gaza

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...