HomeInspirasiAspirasi DamaiMiskomunikasi dan Empati

Miskomunikasi dan Empati

Miskomunikasi terkadang menjadi pemicu konflik, baik dalam hubungan pribadi, profesional, maupun hubungan sosial. Karena itu, sangat penting seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi yang jelas dan efektif. Apalagi di era digital, melalui kecanggihan teknologi informasi kita dapat berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain kapan pun dan di mana pun tanpa sekat geografis maupun waktu (borderless). Bahkan, termasuk berkomunikasi dengan orang yang tak diketahui secara jelas seperti apa rupanya.

Terjadinya miskomunikasi dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, kesalahan persepsi, di mana setiap individu memiliki pandangan tersendiri terhadap dunia (point of view) yang dibentuk atau dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, pendidikan, nilai-nilai kehidupan yang dianut atau lainnya. Semua itu bisa menyebabkan pesan dalam komunikasi dua arah tidak dipahami sebagaimana mestinya karena dua pihak tersebut terpaku pada sudut pandangnya sendiri.

Baca juga Sosok Pendukung Kebangkitan Penyintas Terorisme

Kedua, keterbatasan diksi, di mana kata-kata memiliki banyak arti, dan penafsirannya bisa berbeda antara satu individu dan lainnya. Kesalahpahaman dalam komunikasi banyak terjadi akibat kata-kata atau bahasa yang digunakan tidak sefrekuensi bahkan ambigu. 

Faktor lainnya adalah kondisi emosional pelaku komunikasi yang tidak stabil. Emosi kejiwaan orang yang berkomunikasi, seperti rasa marah, sedih, bahagia, atau frustrasi berpeluang membuat samar kemampuan individu dalam mendengarkan, menyimak dan memaknai kalimat atau bahasa yang disampaikan orang lain hingga tidak mampu merespons secara rasional. Ditambah lagi, kondisi eksternal seperti kebisingan dan gangguan teknologi informasi sangat mungkin memengaruhi seseorang dalam proses berkomunikasi dan mengganggunya untuk menangkap pesan komunikasi dengan baik.

Baca juga Menerima untuk Mengikhlaskan

Untuk menghindari miskomunikasi, dibutuhkan penguatan aspek psikologis setiap individu. Caranya, salah satunya dengan memperkuat kemampuan berempati. Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Misalnya pada saat berkomunikasi, kita mendengarkan terlebih dahulu mitra bicara kita tanpa memikirkan respons seperti apa yang akan kita sampaikan. Komunikasi yang demikian ternyata berguna untuk menciptakan rasa saling dipahami dan dihargai.

Riset awal tentang empati dilakukan Davis pada tahun 1983 saat mengembangkan Interpersonal Reactivity Index (IRI), yang mengukur berbagai aspek empati, termasuk perspektif pengambilan dan perhatian empatik. Studi ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki skor tinggi pada perhatian empatik lebih mampu memahami perasaan dan kebutuhan orang lain, yang membantu dalam mengurangi konflik antarindividu.

Baca juga Nasib Perdamaian di Gaza

Dalam artikel psikologi, Empathy Is the Key to Conflict Resolution or Management, Mark B. Baer, menemukan bahwa empati adalah kunci untuk resolusi konflik, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional. Komunikasi yang tidak dipahami dengan sempurna tapi diterima dengan cara berempati akan mendorong munculnya pemahaman yang lebih dalam dan penyelesaian miskomunikasi lebih damai daripada sekadar memenangkan argumen​ salah dan benar.

Lalu, bagaimana caranya agar mampu mendapatkan informasi yang utuh dari miskomunikasi? Pertama, klarifikasi dan verifikasi, yakni meminta kejelasan (konfirmasi) atau memastikan apa yang didengar kepada sumber informasi agar persepsi kita tidak keliru. Kedua, kejujuran dan rendah hati, yakni mengakui bila ada kesalahan dan meminta maaf bila salah dalam mengambil kesimpulan, mempersepsikan, atau menyebarkan informasi keliru. Kejujuran akan membuat komunikasi yang rusak dapat menjadi lebih baik.

Baca juga Mensyukuri Hari Kemenangan, Memperkuat Solidaritas

Ketiga, pentingnya mengelola emosi dengan baik. Ketika mendapatkan informasi yang kurang baik maka hendaknya kita mampu menahan diri untuk tidak reaktif. Hal ini selain untuk menjaga kondusifitas hubungan, juga merupakan bentuk latihan mindfulness agar bisa mengurangi stres dan meningkatkan kontrol emosi.

Pada akhirnya, miskomunikasi tak terhindarkan dalam interaksi manusia sebagai makhluk sosial. Namun, bila kita menumbuhkan empati, melakukan klarifikasi, verifikasi, jujur dan rendah hati maka dapat mengurangi dampak negatif dalam berkomunikasi. Semoga dengan komunikasi yang baik, kita mampu menciptakan suasana harmonis dan damai di mana pun kita berada.

Baca juga Menguatkan Semangat Damai Pelajar Melalui Sanlat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...