HomeBeritaMenggali Makna Ketangguhan dari...

Menggali Makna Ketangguhan dari Kisah Tim Perdamaian

Pekan terakhir bulan Januari 2017 Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan safari kampanye perdamaian di Bandung, Jawa Barat. Selama sepekan penuh AIDA menyapa para pelajar sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Bandung Raya untuk senantiasa menumbuhkan semangat cinta perdamaian.

Di wilayah yang terkenal dengan makanan khas peuyeum AIDA melakukan safari kampanye perdamaian kelima sekolah, yaitu SMAN 1 Padalarang, SMAN 1 Baleendah, SMAN 1 Katapang, SMAN 1 Ngamprah dan SMAN 1 Dayeuhkolot. Kegiatan di masing-masing sekolah dikemas dalam Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.

Nilai perdamaian dan ketangguhan di kalangan pelajar penting terus dilestarikan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, berpandangan bahwa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat banyak tantangan yang bila tidak disikapi secara hati-hati dapat menjerumuskan pelajar ke hal-hal yang tidak mendukung visi misi pendidikan dan perdamaian.

“Oleh karena itu kita penting untuk belajar tentang semangat ketangguhan ini agar bisa melakukan penyikapan yang tepat, akurat dan bermaslahat. Dalam agama kita diajarkan sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi umat manusia,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Baleendah, Selasa (24/1/2017).

Dalam melakukan safari kampanye perdamaian, AIDA menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri atas korban dan mantan pelaku kekerasan sebagai narasumber. Pada kesempatan Dialog Interaktif di lima sekolah di Bandung, anggota Tim Perdamaian yang dihadirkan adalah Suyanto (penyintas Bom Bali 2002), Tita Apriantini (penyintas Bom JW Marriott 2003) dan Ali Fauzi (mantan anggota kelompok teroris).

Di tiap-tiap sekolah Tim Perdamaian berbagi pengalaman dengan para siswa tentang hakikat ketangguhan. Suyanto mengisahkan bagaimana dia berjuang menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan akibat bom. Saat kondisinya lemah dan hampir menyerah, dia teringat akan anak-anaknya yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang. Setelah sembuh dari luka dia kembali bekerja keras agar dapat menyekolahkan buah hatinya.

“Saya ingin anak-anak saya itu lebih baik hidupnya dari pada saya, makanya saya dukung mereka untuk sekolah setinggi-tingginya. Alhamdulillah, anak saya yang pertama sudah lulus sarjana, dan yang kedua insya Allah tahun ini akan wisuda magister S2,” kata Suyanto dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Katapang, Rabu (25/1/2017).

Anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku, Ali Fauzi, juga membagi pengalaman hidupnya kepada para peserta kegiatan Dialog Interaktif. Dia membeberkan bahwa dirinya dahulu bergabung dengan kelompok teroris lantaran doktrin dari saudara-saudaranya yang ingin membalas ketidakadilan di suatu wilayah dengan cara membuat ketidakadilan lainnya di tempat baru. Setelah sekian lama berkecimpung dalam dunia kekerasan dia menyadari bahwa perjuangan yang ditempuh kelompoknya tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama. Dia mengakui salah satu faktor yang membuatnya sadar untuk meninggalkan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban terorisme.

“Para korban adalah orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan tujuan para teroris. Ada yang cuma sekadar lewat atau sedang bekerja mencari nafkah tiba-tiba bom meledak di dekatnya. Saya sungguh meminta maaf kepada kawan-kawan korban bom atas aksi-aksi yang dilakukan kelompok saya dulu,” kata dia dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Padalarang.

Suyanto dan Tita sebagai korban terorisme telah memaafkan kekeliruan masa lalu Ali Fauzi. Kini mereka bersatu menjadi satu tim dan bergerak bersama untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat. Rangkaian kegiatan Dialog Interaktif di Bandung mendapatkan sambutan positif dari para peserta.

Seorang peserta dari SMAN 1 Dayeuhkolot mengatakan mendapatkan pelajaran berharga dari penuturan kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Dari kisah korban dia mengambil pelajaran bahwa kekerasan yang ditimbulkan perbuatan orang lain tidak baik bila dibalas dengan kekerasan pula. “Kalau dari mantan pelaku, Pak Ali Fauzi, pelajaran yang dapat diambil adalah jangan membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan,” ujarnya. (MLM)[SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...