HomeSuara KorbanBuah dari Kesabaran dan...

Buah dari Kesabaran dan Keikhlasan

ALIANSI INDONESIA DAMAI – Semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari kehendak Allah Swt. Ada kalanya kenyataan hidup tidak selalu sesuai dengan yang diinginkan. Berbagai cobaan bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja. Peristiwa teror bom misalnya.

Dalam sejarahnya, Indonesia telah berulang kali tertimpa musibah akibat tindakan pelaku terorisme. Ledakan bom bisa mengempaskan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Puluhan bahkan ratusan jiwa melayang. Sebagian ada yang selamat namun harus kehilangan anggota tubuh atau menderita sakit menahun.

Sarbini, salah seorang korban selamat dari tragedi teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada 9 September 2004, hingga saat ini harus rutin berobat karena luka yang dialaminya cukup parah. Saat kejadian, ia sedang memasang jaringan kabel di sebuah gedung tepat di seberang Kedutaan. Saat tengah bekerja mencari nafkah itulah, sebuah bom meledak, menyebabkan guncangan besar yang membuat tubuhnya terpental dan terbentur benda keras. Dia mengalami luka parah di bagian tubuh dan wajahnya. Ia harus mendapatkan puluhan jahitan di bagian kepala.

Peristiwa yang terjadi hampir satu setengah dekade silam itu tidak hanya menyisakan luka di sebagian anggota tubuhnya tetapi juga membuatnya trauma. Sarbini mengaku ketakutan untuk kembali bekerja. Bila berada di dalam gedung, ia merasa khawatir akan terjadi ledakan bom. “Saya tidak bekerja selama enam tahun. Saya takut bekerja di Jakarta lagi, saya takut ketika berada di dalam gedung. Kepala saya sering pusing, dan suka lupa,” tutur Sarbini dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bogor pekan lalu.

Sarbini, Korban Bom Kuningan 2004, Photo: Dok. AIDA 2018
Sarbini, penyintas Bom Kuningan 2004, berbicara dalam kegiatan AIDA di Bogor, Kamis (6/12/2018). Photo: Dok. AIDA 2018

Selama enam tahun Sarbini tidak bisa beraktivitas seperti sedia kala. Ia fokus terhadap pengobatan luka fisik dan psikis yang dialaminya. Karena biaya pengobatan mahal, ia menggadaikan rumah dan tanahnya. Bahkan saking mahalnya biaya yang harus ditanggung, beberapa tahun kemudian ia memutuskan untuk menjual rumahnya. “Ketika harus membayar tebusan obat, saya tidak punya uang. Obatnya sangat mahal, paling murah satu juta.  Akhirnya, saya menjadikan rumah dan tanah sebagai jaminan. Bertahun-tahun bingung membayar hutang, akhirnya rumah saya jual. Sampai sekarang pun saya harus berobat, minimal satu bulan dua kali,” ujar Sarbini.

Betapa pun beratnya musibah dalam perjalanan hidup, Sarbini tidak mudah menyerah dan berputus asa. Ia memilih bangkit dan berjuang kembali untuk menafkahi keluarganya. Enam tahun pascakejadian teror mengerikan itu, ia membuka usaha bengkel las. Meskipun sekolahnya tak pernah tamat, dia belajar autodidak untuk mengembangkan usahanya. Ia bersyukur karena masih diberikan kesempatan oleh Allah Swt. untuk bangkit dari musibah. “Setelah enam tahun itu, saya memutuskan bekerja lagi. Saya membuka usaha bengkel las. Alhamdulillah sampai sekarang tetap berjalan,” kata dia.

Dia berpesan kepada hadirin dalam kegiatan itu agar menjaga kedamaian Indonesia, sebab ancaman terorisme tak mengenal batas. Siapa pun, kapan pun, di mana pun, potensi teror terjadi selalu ada. “Pesan saya, musibah bisa datang kapan saja dan menimpa siapa saja,” kata bapak dua anak ini.

Selain itu, Sarbini mengajak hadirin agar tidak menjadi pribadi yang pendendam sebab sikap itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru bisa memperumit keadaan. Apabila seseorang menyimpan dendam atas perilaku buruk yang pernah orang lain lakukan, maka sama saja memperburuk keadaan dirinya sendiri dan menghambat terciptanya perdamaian. “Jangan pernah membalas kekerasan dengan kekerasan,” tandasnya. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...