HomePilihan RedaksiMenepis Dendam Mengikis Trauma...

Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- Andi (48 tahun) mengaku pernah sangat marah dan dendam terhadap para pelaku pengeboman di depan kantor Kedubes Australia, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, 9 September 2004. Bukan pasal luka yang dideritanya, tapi kecewa lantaran tak bisa mengevakuasi para korban yang meminta pertolongan padanya.

“Dalam hati saya bilang, ‘Maaf pak, saya nggak bisa tolong bapak.’ Saya sendiri luka, menggendong teman saya, Pak Sarbini, yang luka parah,” ujar Andi di hadapan puluhan siswa SMAN 1 Makassar peserta kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA, Selasa (24/05/2022).

Baca juga Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 1)

Pada hari kejadian, Andi bersama Sarbini mendapatkan tugas dari kantornya untuk mengerjakan instalasi kelistrikan di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Tak lama di sana ia ditelepon oleh pihak perusahaan agar bergeser ke Plaza 89 yang letaknya berseberangan dengan kantor Kedubes Australia. “Meski cuma lulusan SMP saya sudah mengenal dengan baik bidang kelistrikan dan instalasi internet berdasarkan pengalaman,” ujarnya.

Bersama Sarbini ia tiba di tempat tujuan sekira jam 9 pagi tanpa memendam firasat apa pun. Keduanya langsung menuju ke lantai 7 untuk menjalankan kewajiban. Belum usai pekerjaan mereka, terdengar ledakan sangat keras yang mengguncang tempat mereka berada. Andi terhempas dari posisinya. Spontan ia berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menuruni tangga. Baru beberapa langkah, ia mendengar suara Sarbini yang memanggil namanya.

Baca juga Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 2-Terakhir)

“Akhirnya saya balik lagi. Dia sudah terkapar. Lukanya parah. Saya menggendongnya dari lantai 7 sampai lobi,” ucapnya mengenang.

Saat di lobi itulah hatinya merasa sangat hancur. Di hadapannya, darah berceceran dan puluhan orang mengalami cedera parah, tapi ia tak sanggup menolong mereka. Belum lagi di trotoar jalanan depan gedung, banyak orang tergeletak.

Ia membawa Sarbini ke rumah sakit terdekat. Keduanya langsung mendapatkan pertolongan pertama. Berbeda dengan Sarbini yang pingsan saat tiba di rumah sakit, Andi sepenuhnya dalam kondisi sadar. Hal pertama yang ia pikirkan adalah soal biaya. “Ini rumah sakit besar dan mewah. Gimana saya harus bayar,” katanya.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

Dalam situasi pikiran yang kalut. Datanglah sejumlah awak jurnalis yang mewawancarainya. Ia ditanya mengenai peristiwa pengeboman, siapa saja yang selamat, dan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya kian panik. Meski demikian ia mengaku beruntung atas pemberitaan di media massa. Karena namanya terpampang di televisi sebagai salah satu korban bom, keluarga tahu keberadaannya. Malam hari usai kejadian, pihak keluarga datang membesuknya ke rumah sakit.

Namun kedatangan keluarga tak membuatnya tenang. Ia masih dilanda kekhawatiran soal pembiayaan. Walhasil, esok harinya saat wartawan datang, ia bersembunyi. Andi takut ditagih oleh pihak rumah sakit.  ”Hari ketiga di rumah sakit, saya kabur. Karena takut bayarnya gimana,” ujarnya. (bersambung)

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. II)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 4-Terakhir)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 2)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 1)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Aliansi Indonesia Damai- Senja kian larut, rombongan yang ditunggu sejak matahari...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...