HomeOpiniAgen Sosialisasi Perdamaian

Agen Sosialisasi Perdamaian

Oleh: Novi
Mahasiswa Kajian Terorisme Universitas Indonesia

Sosialisasi adalah proses individu melebur ke dalam masyarakat seutuhnya. Seseorang melakukan sosialisasi untuk memeroleh pengetahuan mengenai nilai, norma, dan tradisi dalam masyarakat. Ada pihak yang mengajarkan nilai dan norma, yakni agen sosialisasi primer dan sekunder. Agen-agen sosialisasi tersebut di antaranya adalah keluarga, sekolah, dan media massa.

Agen sosialisasi primer dan yang utama adalah keluarga, secara khusus keluarga inti. Orang tua dan anak memiliki kontak intim berdasarkan komitmen, kepercayaan, rasa hormat, dan kewajiban dalam mengasuh. Beberapa bentuknya adalah kasih sayang, pendidikan moral, dan memberikan waktu luang. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab orang tua untuk menanamkan bibit baik yang akan berguna untuk membentuk pribadi yang damai.

Baca juga Guru sebagai Penggerak Perdamaian

Dalam jurnal Parental Influence on Radicalization and Deradicalization (2017) dijelaskan bahwa keluarga bisa memengaruhi kepribadian individu berdasarkan nilai dan norma yang dianut. Dengan memberikan pengetahuan mengenai sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, tenggang rasa, komunikasi yang baik, jujur, dan terbuka untuk berpendapat niscaya akan terbentuk pribadi individu yang baik.

Selain keluarga, sekolah menjadi lembaga pendidikan yang bertanggung jawab untuk mensosialisasikan anak, remaja, dan dewasa mengenai keterampilan, pengetahuan tertentu, dan pembelajaran dalam banyak hal. Sosialisasi di sekolah paling intensif dilakukan oleh remaja bersama guru dan juga teman sebaya. Sekolah berperan besar dalam pembentukan pribadi individu.

Baca juga Kompensasi dalam Etika Keadilan

Jurnal School as a Space of Socialization and Prevention menjelaskan, guru berperan melakukan penguatan positif, memberikan hukuman terhadap siswa, dan pujian untuk siswa yang berprestasi (Theimann, 2016: 72). Sebelum mengambil peran tersebut, guru harus bertransformasi menjadi pendidik dengan misi kebangsaan; menampilkan keterampilan mengajar yang terkini; sementara di sisi lain pemerintah merumuskan model pembelajaran yang bernilai perdamaian.

Jika para pemeran utama sudah bisa memberikan teladan yang baik berdasarkan misi kebangsaan, maka peran penguatan positif, pemberian pengetahuan akan berdampak besar pada Indonesia yang lebih damai dan sekolah sebagai agen sosialisasi berjalan dengan semestinya.

Baca juga Desisten dari Terorisme

Sosialisasi tidak pula dibatasi pada pengaruh keluarga dan sekolah, karena saat ini media massa berpengaruh besar dalam pembentukan individu. Media massa memainkan peran yang sentral dalam komunikasi kepada publik mengenai peristiwa yang terjadi. Banyak individu yang belum memiliki pengetahuan atau pengalaman tentang apa yang terjadi. Ketika tidak mengetahui informasi tersebut, mereka akan mendapatkan pengetahuan baru (Catherine, 2013: 321). Informasi tersebut mengikat dan bisa membentuk pribadi. Teks-teks media memberi kita pengalaman positif dan atau negatif.

Dalam pengamatan penulis, remaja adalah pihak yang paling rentan dalam penyebaran paham ekstremisme. Mereka dianggap sebagai individu yang labil, mudah dipengaruhi, memiliki keingintahuan yang sangat tinggi, kelompok terdidik, serta pengguna media sosial dan internet terbanyak.

Baca juga Mewaspadai Propaganda Ekstremisme Saat Pandemi

Oleh karena itu, media massa punya peranan penting dalam mendukung perdamaian dengan melakukan jurnalisme damai. Peranan media menurut konsepsi jurnalisme damai yang dipaparkan oleh Johan Galtung, yakni mengikuti etika jurnalistik, humanis, dan tidak memberikan berita palsu. Akan tetapi ini juga harus dibarengi oleh individu untuk selalu berpikir kritis atas informasi yang diperoleh, tidak menyebarkan berita bohong, dan selalu bertanggung jawab atas informasi yang sudah disebar luaskan.

Baca juga Nalar Kritis Benteng Ekstremisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai – Masih melekat dalam ingatan para korban suara...

Anakku Penguatku

Aliansi Indonesia Damai – “Saya langsung menyalakan televisi dan muncul berita...

Dampak Berlipat Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Anggun Kartikasari mencoba mengingat kembali peristiwa pilu yang...

Berbagi Cerita Melawan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- “Saya belum siap untuk menceritakan pengalaman pilu serangan...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...