HomePilihan RedaksiEkstremisme dan Filosofi Sandal

Ekstremisme dan Filosofi Sandal

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto tampak cukup berhati-hati menyampaikan paparannya di hadapan siswa-siswi SMAN 1 Palimanan, Cirebon beberapa waktu silam. Ia berkali-kali mengingatkan mereka untuk tidak mengikuti masa lalunya karena hal tersebut adalah kekeliruan. Terlebih karena perbuatannya, ia pernah masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO) kepolisian pada tahun 2000.

“Dari Kekerasan Menuju Perdamaian: Belajar dari Pengalaman Pribadi,” itulah judul presentasinya. Kisahnya terlibat dalam kelompok ekstremisme hingga akhirnya memutuskan sepenuhnya keluar dari jaringan diungkapkannya dengan detail. Saat remaja, Iswanto tertarik dengan cerita heroik guru mengajinya yang pernah terlibat langsung dalam perang Afghanistan.

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 1)

Pria asli Lamongan ini bahkan merasa hubungannya dengan sang guru, Ali Imron (kini terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002), lebih dekat ketimbang dengan nenek yang mengasuhnya, apalagi dengan kedua orang tuanya yang kala itu tinggal di Surabaya. Dari gurunya pula ia memahami ideologi-ideologi jihad ekstrem dan menerimanya sebagai kebenaran tanpa ragu.

Sekitar usia 19 tahun, Is, demikian sapaan akrabnya, berbaiat kepada Jama’ah Islamiyah (JI) wilayah Jawa Timur. Saat konflik komunal di Poso dan Ambon meletus, ia bergabung dengan Komite Aksi Penanggulangan Akibat Krisis (KOMPAK) dan terlibat langsung dalam konflik kekerasan di kedua daerah beda pulau itu.

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 2)

Keyakinannya terhadap doktrin jihad ekstrem membuatnya sangat bersemangat untuk berjihad perang. “Kalau yang dulu-dulu memang saya tidak pernah untuk berpikir kepada pendidikan. Yang ada dalam pikiran saya, bagaimana bisa perang, terlibat konflik, dan membuat kerusuhan, itu saja,” ujarnya mengenang.

Namun itu dulu. Sambil tersenyum dan sedikit tertawa, Is mengatakan bahwa dirinya yang sekarang sudah berbeda. Kini ia telah menjadi Iswanto yang lunak, yang tidak lagi memandang segala sesuatu secara hitam dan putih.

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 3-Terakhir)

“Saya dulu paling kuat tentang ideologi, keyakinan saya ini. Orang tua, saudara saya pun sama sekali tidak mampu mengubah saya pada waktu itu tentang pemahaman jihad amar ma’ruf nahi munkar. Tapi ketika saya balik kepada dunia perdamaian maka saya pahami betul, saya juga pahami kembali bagaimana jihad kita,” jelasnya.

Perubahan tersebut ia tunjukkan melalui aktivitasnya sekarang. Bekerja sebagai guru dan pembimbing haji-umrah, ia mengajak banyak orang untuk melakukan kebaikan, alih-alih membimbing mereka untuk melakukan kekerasan seperti dulu.

Baca juga Pendidikan Kritis Mengentaskannya dari Ekstremisme

Selain itu ia juga mengelola toko di dekat rumahnya. Salah satu barang yang mendominasi tokonya adalah sandal. Menurut dia, sandal memiliki filosofi yang bagus untuk menandai perubahannya, yaitu tentang konsep hidup damai dan fleksibel seperti sandal.

“Kalau saya bandingkan dengan dulu, maka sandal ini di antaranya sarana (untuk menunjukkan: red) saya mempunyai sifat yang sangat tunduk. Beda dengan dulu yang sehari-hari hanya memegang besi, bom, dan semacamnya. Tetapi sekarang, di antaranya sandal ini yang menjadikan saya mempunyai pikiran tidak sekeras yang dulu,” katanya.

Baca juga Dari Wilayah Konflik ke Ruang Pendidik

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...