HomePilihan RedaksiMereka yang Menemukan Jalan...

Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 3-Terakhir)

Dua nama berikut pernah memiliki gairah yang sangat menggebu-gebu untuk bisa terlibat dalam gerakan jihad di Timur Tengah. Tentu saja jihad dalam arti pertempuran fisik. Pasalnya, mereka menganggap bahwa umat muslim di beberapa negeri di Timur Tengah terzalimi oleh rezim kafir.

Namun takdir berkata lain. Choirul Ikhwan harus berurusan dengan hukum di Indonesia karena terbukti terlibat dengan kelompok yang merencanakan aksi teror. Sedangkan Iswanto, setelah menyalurkan hasrat jihadnya di Poso dan Ambon, malah diperintahkan oleh gurunya untuk berhenti dari aktivitasnya dalam kelompok ekstrem. Dari situlah keduanya justru menemukan jalan kembali kepada fitrah kemanusiannya: cinta damai.

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 1)

Choirul Ihwan

Choirul Ihwan pernah sangat mudah melabeli kafir kepada orang-orang yang berseberangan dengan pendapatnya, meski mereka jelas keislamannya. Bukan hanya kepada pemerintah dan aparatnya, Irul, demikiaan sapaan akrabnya, bahkan mengafirkan orang tua dan saudara kandungnya sendiri karena secara sukarela berpartisipasi dalam Pemilu.

Irul pernah bergabung dengan sejumlah organisasi yang misinya menegakkan syariat Islam secara formal di Indonesia. Namun karena kecewa dengan gerakan-gerakan tersebut, ia memilih merintis kelompok sendiri bersama sejumlah rekannya. Ia sempat berniat mengikuti pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho Aceh Besar, namun urung karena pelatihan tersebut lebih dulu terbongkar aparat.

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 2)

Walhasil ia harus bersembunyi di daerah Mamuju, Sulawesi Barat, demi menghindari kejaran aparat. Kala dalam persembunyian, ia mengalami pergulatan batin setelah bermimpi didatangi ibunya selama tiga hari berturut-turut. Dari hasil komunikasi dengan saudaranya di Madiun Jawa Timur, ternyata sang ibu baru saja meninggal dunia. Irul menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada ibunya.

Ketika kembali ke Jawa, Irul tertangkap dan harus menjalani hukuman penjara. Dari balik jeruji, ia terus merenungi dan menginstrospeksi pergerakan dan pemikirannya. Ia mendalami referensi keislaman lain di luar pemahaman kelompoknya dulu. Hal yang paling menggugah batinnya ketika ia dipertemukan dengan korban terorisme. Setelah mendengar derita hidup dan lika-liku kehidupan korban, ia merasa iba dan tak menyangka ternyata kehidupan korban terorisme sangat menderita.

Baca juga Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 1)

Lebih dari itu korban menyatakan telah memaafkan pelaku.  “Bagaimana mungkin orang yang menderita sebegitu besar, dengan mudahnya memaafkan kami?” katanya mengenang kesan pertamanya saat dipertemukan dengan korban.

Irul bersyukur belum sampai terlibat dalam aksi-aksi pengeboman. Selepas bebas dari hukuman, Irul berkomitmen terlibat dalam kegiatan pembangunan perdamaian.

Iswanto

Pertengahan dasawarsa 1990-an, ia berbaiat dengan Jamaah Islamiyah (JI), kemudian terlibat dalam konflik komunal di Poso Sulawesi Tengah dan Ambon Maluku. Iswanto mulai memertanyakan aksi-aksi kelompok ekstrem setelah terjadi ledakan besar yang menewaskan ratusan korban jiwa di Bali tahun 2002 silam.

Baca juga Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 2-Terakhir)

Iswanto merenung, benarkah aksi itu adalah perintah agama. Ia mengalami kegelisahan, terlebih ketika salah seorang guru yang dihormatinya, Ali Imron, terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002, memintanya untuk berhenti dari segala aksi kekerasan. Faktor guru memang sangat memengaruhi perjalanan hidupnya. Ia terlibat dalam kelompok ekstrem atas ajakan guru, kembali ke jalan perdamaian juga atas perintah guru.

Baca juga Pendidikan Kritis Mengentaskannya dari Ekstremisme

Tekad Iswanto untuk meninggalkan kelompok ekstrem makin bulat ketika AIDA memertemukannya dengan sejumlah korban terorisme. Hal yang membuatnya takjub adalah kebesaran hati korban. Meskipun telah banyak mengalami penderitaan, para korban mampu bangkit dan memaafkan orang-orang yang pernah terlibat dalam aksi pengeboman.

Bersama AIDA, Iswanto kini ikut berjuang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat luas. Dalam berbagai kegiatan, ia menegaskan bahwa cara-cara kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

Baca juga Dari Wilayah Konflik ke Ruang Pendidik

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...