HomePilihan RedaksiKala Penyintas Bom Memerjuangkan...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan Ibu seperti apa. Hanya bengong, tidak bisa berpikir apa-apa.” Demikian Nyoman Rencini mengenang suasana batin dirinya usai kehilangan suami tercinta akibat peristiwa Bom Bali, Oktober 2002.

Suaminya, Ketut Sumerawat, bekerja sebagai sopir salah satu restoran di kawasan Legian Kuta Bali. Ia sempat dinyatakan hilang karena tidak pulang dan absen bekerja selama 2 hari usai peristiwa ledakan bom. Namun dua bulan setelahnya, melalui tes DNA, jenazah Sumerawat berhasil teridentifikasi. Jasadnya nyaris tak dapat dikenali lagi.

Baca juga Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian I)

Peristiwa duka itu membuat Rencini sangat terpuruk. Namun perlahan ia menyadari bahwa yang telah pergi tak akan pernah kembali. Kematian suaminya adalah kehendak Tuhan yang tak terhindarkan. Karena semua makhluk yang ada di dunia ini pasti akan kembali ke haribaan Tuhan Sang Pencipta. Ia berupaya mengikhlaskan kepergian sang suami, meski kala itu ketiga putri mereka yang masih sangat belia sangat membutuhkan sosoknya.

Ujian hidup Rencini tak berhenti di situ. Keluarga dari pihak suami meminta hak asuh ketiga buah hatinya. Pasalnya mereka meragukan kemampuan Rencini membesarkan ketiganya. Namun permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Rencini.

Baca juga Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian II)

”Saya sebagai orang tua merasa sakit sekali. Baru saja saya kehilangan suami, saya hampir kehilangan ketiga putri saya, karena dianggap tidak mampu membesarkan mereka. Dari sanalah tumbuh tekad saya untuk berjuang. Saya tidak ingin dipisahkan dari anak-anak saya,” ucapnya dengan suara terisak dalam salah satu kegiatan AIDA.

Ia bertekad membuktikan kepada semua orang bahwa ia mampu mendidik dan membesarkan ketiga buah hatinya. Baginya apa pun yang terjadi ia harus mendampingi tumbuh kembang mereka. Semangat juangnya bangkit. Seluruh waktunya ia curahkan demi anak-anak.

Baca juga 18 Tahun Bom Bali: Cinta untuk Mereka yang Tiada (Bag. I)

Hasil berdagang keliling di Dermaga Benoa pada malam hari bisa mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan ketiga buah hatinya. Waktu pagi hari ia biasa gunakan untuk mengantar anak-anak ke sekolah, siang untuk bekerja, sore hari menjemput anak-anak dan bermain bersama mereka.

Ia sangat bersyukur karena anak-anaknya mau mengerti perjuangannya dan patuh terhadap nasehat-nasehatnya. Kini mereka telah menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Ketiga putrinya pun mewarisi semangat juang sang Ibu, di mana selain kuliah mereka juga bekerja. Cita-cita mendiang ayah untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang sarjana telah terwujud.

“Pendidikan sangatlah penting, karena orang yang berilmu kelak bisa menolong dirinya sendiri dan juga bisa menolong orang lain,” ucap Rencini dalam salah satu kegiatan kampanye perdamaian virtual AIDA di SMAN 5 Surakarta belum lama ini.

Baca juga 18 Tahun Bom Bali: Cinta untuk Mereka yang Tiada (Bag. II-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa...

Ujian Ketangguhan Iman

Aliansi Indonesia Damai- Josuwa Ramos masih menikmati status barunya sebagai seorang...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...