HomeInspirasiAspirasi Damai‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah berbondong-bondong menuju jalan utama desa. Tangan mereka menenteng makanan yang telah disiapkan dari rumah. Karpet panjang terbentang. Ratusan orang duduk bersila. Usai merapal doa, warga saling bertukar makanan dan kemudian makan bersama.

Tradisi masyarakat Genito ini adalah ekspresi syukur kepada Allah SWT karena telah diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadan yang penuh kemuliaan. Hingga pada akhirnya dapat merayakan hari raya. Dalam tradisi Jawa, hari raya selalu identik dengan makan besar bersama atau ‘Kepungan’.

Baca juga Massiara’: Tradisi Bugis Menjaga Damai

Mulanya makan besar ini dilakukan di masjid atau mushala setempat dengan diikuti oleh jamaah laki-laki. Sementara jamaah perempuan berada di halaman rumah warga. Namun karena semakin banyak warga yang antusias mengikuti, sejak tahun 2016 masyarakat mengalihkannya ke jalan utama desa. Tentu saja demi kelancaran acara dan tidak mengganggu pengguna jalan, rekayasa lalu lintas dilakukan dengan mengalihkan jalur kendaraan ke jalan alternatif.

Masyarakat bersuka cita saling mencicipi masakan masing-masing. Canda tawa pun tak luput menjadi penghias bahagia mereka pada Kamis, 13 Mei 2021/1 Syawal 1442, pekan lalu. Cuaca cerah menyertai hangatnya kebersamaan.

Baca juga Berdamai dengan Ketidaksukaan

Usai melaksanakan ‘Kepungan’, warga kembali ke rumah masing-masing untuk selanjutnya melakukan ‘sungkem’ memohon maaf lahir dan batin kepada orang tua, lalu dilanjutkan dengan berkeliling dari rumah ke rumah, bersalam-salaman. Riuhnya petasan di sepanjang jalan turut mewarnai suka cita warga di hari kemenangan.

Tradisi yang berubah menjadi ritual sosial ini tentu saja memberikan dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu jarang, bahkan belum penulis temukan di masyarakat perkotaan. Semangat berbagi dan ramah berinteraksi terlihat kuat. Semuanya cair menjadi satu dalam kebersamaan untuk menyambung tali silaturahmi dan dengan segala kerendahan hati untuk saling memaafkan.

Baca juga Falsafah Bugis untuk Perdamaian Bangsa

Dampak positif dari semangat berbagi adalah kepedulian. Tentu hal ini dapat menciptakan masyarakat yang rukun dan bermuara pada terjaganya perdamaian. Damai adalah kebutuhan dasar manusia untuk bisa melangsungkan aktivitas sehari-hari dengan aman dan lancar.

Berkat media sosial, ritual sosial ini menginspirasi beberapa desa sekitar Genito. Setidaknya  ada empat desa, yaitu Dobrasan, Gopaan, Ngaglik, dan Mangun Sari yang kini juga melaksanakan ‘Kepungan’. Tradisi kebaikan yang berkolaborasi dengan publikasi strategis di media sosial mampu menggugah semangat masyarakat dari desa lainnya untuk melakukan gerakan yang sama.

Baca juga Siri’: Filosofi Perdamaian Bugis-Makassar

Besar harapan tradisi serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi inspirasi kepada masyarakat yang lebih luas. Sehingga ikhtiar-ikhtiar merekatkan kerukunan dan merawat perdamaian dapat tersebar dalam cakupan yang lebih luas. Peran pengguna media sosial sangat berpengaruh dalam tersebarnya kebiasaan-kebiasaan positif ini.

Ritual sosial ini menjadi aset budaya yang harus kita lestarikan bersama. Di mana kearifan lokal dengan aneka ragam kegiatannya mampu menguatkan kerukunan dan menjaga perdamaian bangsa.

Baca juga Kritik Diri Bekal Pertobatan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa...

Ujian Ketangguhan Iman

Aliansi Indonesia Damai- Josuwa Ramos masih menikmati status barunya sebagai seorang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...