HomeBeritaImam Prasodjo: Adaptasi Kunci...

Imam Prasodjo: Adaptasi Kunci Kemajuan

Aliansi Indonesia Damai- Tantangan memperkuat gerakan perdamaian makin nyata ketika dunia dihadapkan pada situasi pandemi Covid-19. Pagebluk semestinya tidak melemahkan gerakan perdamaian. Masyarakat harus beradaptasi dengan perubahan situasi ini.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, mengatakan hal itu saat menjadi keynote speaker dalam acara seminar sehari bertajuk “Halaqah Perdamaian: Belajar dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang digelar AIDA secara daring, akhir Februari lalu. Menurut Imam, perubahan dunia dan penemuan-penemuan baru harus menjadi pendorong untuk meraih kesejahteraan dan perdamaian, bukan menimbulkan konflik dan permusuhan.

Baca juga Terorisme Menyengsarakan Korban dan Pelakunya

“Dunia sudah melebihi revolusi industri. Seluruh dunia mengalami hal yang sama. Kita dituntut beradaptasi dan berkolaborasi. Saya berharap ayat-ayat qauliyah dapat berdampingan dengan ayat-ayat kauniyah sehingga perdamaian akan terus hadir di muka bumi ini,” ungkap Pembina AIDA itu.

Imam menjelaskan bahwa cara berpikir dan tindakan-tindakan lama tidak akan bertahan, namun sebaliknya perubahan akan terus terjadi. Terlebih melihat kemajuan teknologi dan informasi yang semakin pesat, generasi muda dituntut lebih inovatif dan menyikapi kemajuan dengan bijaksana. Pasalnya, bila tidak digunakan dengan baik dan benar, perubahan justru akan melahirkan malapetaka.

Baca juga Peran Perguruan Tinggi Menangkal Ekstremisme

Generasi sekarang tidak lagi mengandalkan media massa mainstream, akan tetapi mengandalkan media sosial. Hal ini memengaruhi jejaring masyarakat yang berkembang luas. “Temuan-temuan digitalisasi makin berkembang, pasar-pasar tradisional akan kalah dengan online shop. Bahkan kita dapat berkumpul melalui zoom ini dari berbagai daerah. Bisa jadi ini berkah atau musibah,” ucapnya.

Dalam hemat Imam, kemajuan dan perubahan ini harus terintegrasi dengan upaya-upaya membangun perdamaian di kalangan masyarakat. Hal-hal yang baru tidak menjadi musabab konflik dan perpecahan.

Baca juga Dekan FISIP Unsoed: Terorisme Tantangan Bersama

Bila tidak dikelola dengan baik, perubahan berpotensi dapat menimbulkan dampak negatif yang lebih besar, seperti munculnya kabar bohong dan kebencian di media sosial. “Ini harus terintegrasi, bukan menimbulkan pertentangan dan perpecahan. Belum lagi dampak hoaks,” katanya.

Imam menekankan bahwa adaptasi menjadi kunci untuk menyikapi perubahan-perubahan. Kecerdasan dalam situasi sekarang adalah kemampuan beradaptasi pada perubahan. “Orang yang tidak mampu beradaptasi akan menimbulkan emosional meningkat, karena perubahan begitu meningkat cepat. Ada ketidakpuasan, ada permusuhan, ada kecurigaan yang muncul karena perubahan ini,” tuturnya.

Baca juga Berjemaah Membangun Damai

Oleh karena itu, Imam mengajak generasi muda untuk terus berinovasi demi kemajuan bangsa dan negara . “Negara yang tidak mampu beradaptasi maka akan terseok-seok. Adaptasi tidak hanya dalam dunia digital, akan tetapi sekarang yang lebih penting dengan adanya Covid-19, semua negara berlomba-lomba untuk menyesuaikan diri,” katanya memungkasi. [AH]

Baca juga Menumbuhkan Semangat Persaudaraan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...