HomeBeritaJurnalisme Kemanusiaan, Bukan Clickbait

Jurnalisme Kemanusiaan, Bukan Clickbait

Aliansi Indonesia Damai – Sejumlah perusahaan media massa berbasis daring menuntut redaksi agar konten yang dihasilkan sejalan dengan algoritma mesin pencarian (search engine), seperti google dan media sosial. Padahal hingga kini belum ada bukti konkret keberhasilan perusahaan media dapat bertahan dalam jangka panjang dengan hanya mengikuti alur kerja platform tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers, dalam kegiatan Short Course Daring Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme yang digelar AIDA beberapa waktu lalu. Kegiatan diikuti oleh puluhan jurnalis wilayah Sulawesi.

Baca juga Tantangan Jurnalisme Berperspektif Korban

Pernyataan Agus merespons salah satu peserta yang curhat karena merasa tertekan oleh pihak perusahaan agar menulis berita-berita yang potensial dibaca, bukan sekadar penting sebagai informasi publik.

Menurut Agus, jika berkaca pada media-media besar seperti NY Times, Washington Times, ataupun The Guardian, mereka mampu bertransformasi secara digital, namun juga membatasi diri untuk bekerjasama dengan platform seperti google, youtube, atau facebook. “Mereka ingin melepas diri dari ekosistem yang tidak bisa memisahkan good news dan bad news,” katanya.

Baca juga Perspektif Etis Meliput Terorisme

Dalam hematnya, mengikuti tren media sosial bukanlah ide yang baik. Pasalnya platform tidak bisa memisahkan antara good journalism dengan media yang hanya mengejar clickbait. “Jurnalisme clickbait hanya bisa diandalkan untuk keuntungan jangka pendek saja,” ujarnya tegas.

Dalam konteks pemberitaan terorisme, banyak media yang “mengorbankan” keluarga pelaku untuk menciptakan berita clickbait. Banyak pula media yang menggunakan video kejadian untuk menarik audiens yang justru berdampak negatif bagi masyarakat. Padahal, larangan untuk menayangkan praktik kekerasan yang menimbulkan kengerian bagi masyarakat sudah diatur dalam kode etik jurnalistik.

Baca juga Bangkit Demi Masa Depan dan Keluarga

Seorang jurnalis bahkan mengaku terkena dampak psikologis dari penayangan serupa. “Banyak media televisi yang masih menayangkan kejadian yang menampilkan ledakan-ledakan yang justru menimbulkan ketakutan pada masyarakat. Termasuk saya sendiri. Mohon maaf, saya menjadi agak takut kepada pemakai cadar pascapenayangan pelaku pengeboman yang bercadar,” ujarnya.

Dalam pengamatannya, masih banyak media yang terus melanggar, mengabaikan teguran dari Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Ia mencontohkan penyebaran foto keluarga pelaku pengeboman di Surabaya yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Hal ini kemudian menimbulkan efek domino, karena media lain mengikuti konten pemberitaan yang ada. “Kita sudah tegas, tapi memang media tidak peduli, dan kemudian diikuti oleh media lain,” katanya.

Baca juga Menumbuhkan Perspektif Korban pada Jurnalis Sulawesi

Di sisi lain, Agus juga menyampaikan bahwa Dewan Pers di era demokrasi memang tidak memiliki banyak kuasa untuk memberikan sanksi tegas seperti mencabut izin media ataupun meminta media memecat wartawan yang tidak benar. Otoritas Dewan Pers sebatas untuk menegakkan kode etik dan memberikan sanksi normatif.

Oleh karena itu, jurnalisme sehat bisa dicapai jika jurnalis bisa lebih memertimbangkan dampak kepada korban dan juga masyarakat. Kebebasan pers harus diletakkan sebagai sarana untuk mencapai nilai yang lebih tinggi, yaitu kemanusiaan.

“Meskipun platform memiliki banyak keuntungan, media juga tetap harus mengambil jarak. Jangan following media sosial dalam menyebarkan konten yang belum diverifikasi kebenarannya. Sehingga bukan hanya menaati kode etik, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan dari segi korban dan masyarakat yang mengkonsumsi informasi terkait terorisme,” tuturnya memungkasi paparan. [WTR]

Baca juga Meneguhkan Jurnalisme Damai dari Celebes

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...