HomePilihan RedaksiMemaafkan untuk Penyembuhan Diri

Memaafkan untuk Penyembuhan Diri

Aliansi Indonesia Damai- Desmonda Paramartha mengalami luka di sekujur tubuhnya akibat pengeboman yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela (GSMTB) Surabaya, 13 Mei 2018. Sebelumnya tak ada firasat apa pun hingga ia mengalami peristiwa yang nyaris mustahil terlupakan sepanjang hayatnya.

Pagi itu Desmonda datang seperti biasa ke GSMTB untuk mengikuti Misa. Kegiatan ibadat belum berlangsung saat dua orang pengendara sepeda motor nyelonong ke pelataran parkir. Tak lama berselang, bom meledak. Titik ledakan dengan posisi Desmonda cukup dekat, sekira 3 meter. Desmonda merasa bersyukur bahwa luka fisik yang dialaminya tidak berdampak besar, “Puji Tuhan, saya tidak terlalu mengalami luka yang parah,” ujarnya dalam salah satu kegiatan AIDA.

Baca juga Penderitaan Ganda Korban Terorisme

Dari hasil pemeriksaan medis, ada tiga titik luka, yaitu di leher, paha, dan betis kanan. Awalnya luka di leher tidak diketahui. Namun setelah dilakukan rontgen, ada serpihan bom yang menancap di lehernya. Selama lima hari Desmonda menjalani rawat inap di rumah sakit sambil terus memantau pemberitaan pengeboman di beberapa lokasi di Kota Pahlawan melalui layar televisi. “Saat melihat berita itu, diri saya sudah menerima dengan lapang dada. Keluarga menganggap saya ini pulih dengan cepat tanpa adanya trauma yang mendalam,” katanya.

Desmonda mengaku, dalam proses pemulihan selama tiga bulan setelah kejadian sempat terbersit amarah. Namun ia terus berupaya menetralisasinya dengan pikiran positif bahwa musibah itu memang harus dijalaninya. Lebih jauh ia malah berusaha memaafkan pelaku. “Karena jika saya tidak memaafkan pelaku, maka mereka akan merasa senang karena tujuan mereka telah tercapai,” katanya.

Baca juga Refleksi 2 Tahun ‘Peristiwa Iman’ 13 Mei 2018

Desmonda tidak butuh lama untuk bangkit dari rasa trauma hingga ia mampu untuk berdamai dengan diri sendiri sembari memaafkan para pelaku yang telah tewas. Sepekan usai peristiwa, ia mengikuti Misa di GSMTB dan mendapatkan pertanyaan dari jemaat lain, bagaimana ia bisa bangkit dari trauma. “Saya tidak ada trauma. Bahkan pada saat di rumah sakit saya masih memikirkan bagaimana keadaan gereja. Masih sakit saja, saya masih menanyakan keadaan Gereja,” tuturnya mengenang.

Kini kondisi fisiknya telah pulih nyaris seperti sediakala. Kendati ada sedikit gangguan pendengaran, namun tidak terlalu ia persoalkan. Desmonda aktif menyuarakan pentingnya menjaga perdamaian dan menjunjung tinggi toleransi beragama. Dalam hematnya, setiap agama pasti mengajarkan kasih sayang kepada sesama.

Baca juga Dua Tahun Bom Surabaya: Ikhlas Obat dari Segala Obat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...