HomeBeritaDua Tahun Bom Surabaya:...

Dua Tahun Bom Surabaya: Ikhlas Obat dari Segala Obat

Aliansi Indonesia Damai- Tepat dua tahun silam, Surabaya diguncang rentetan teror bom. Minggu pagi 13 Mei 2019, tiga gereja di Surabaya diserang oleh enam orang pelaku secara beriringan. Pada malam harinya, bom rakitan meledak di rumah susun Wonocolo Sidoarjo. Sehari setelahnya, giliran Markas Polrestabes yang menjadi target serangan.

Lima belas orang tak bersalah menjadi korban jiwa akibat serangan ini, puluhan orang lainnya mengalami cedera. Semua korban yang meninggal dunia diakibatkan teror yang menyasar gereja. Di antara korban yang meninggal adalah Vincentius Evan Hudojo atau Evan (11) dan Nathanael Ethan Hudojo atau Nathan (8). Keduanya buah cinta semata wayang pasangan Erry Hudojo dan Wenny Angelina.

Baca juga Berdamai dengan Kekhawatiran

Saat kejadian, Wenny Angelina bersama keponakan dan kedua putranya diantar ke Gereja Santa Maria Tak Bercela (GSMTB). Saat hendak masuk ke area gedung, terlihat sepeda motor menerobos kencang masuk ke pelataran parkir. Beberapa detik setelahnya terdengar suara ledakan sangat keras. Ia  terpental dan terpisah dari anak-anaknya. Nyawa dua anaknya tak terselamatkan, sementara keponakannya mengalami cedera berat.

Bagi Wenny, kehilangan Evan dan Nathan adalah hal terberat dalam hidup yang meninggalkan luka menganga dalam dirinya. Menjelang pemakaman keduanya kala itu, Wenny menyampaikan maaf di depan jasad mereka. “Mama minta maaf karena tidak bisa jagain kalian pada waktu kejadian. Kalian harus ke surga, jangan lihat Mama dan Papa di sini,” tutur Wenny mengenang ucapannya dua tahun silam dalam kegiatan AIDA beberapa waktu lalu.

Baca juga Wenny Angelina Tegar Walau Bom Telah Renggut 2 Anaknya

Meski sangat perih, Wenny memilih mengikhlaskan kepergian dua buah hatinya itu supaya jalan mereka ke surga terbentang lebar. Baginya ikhlas adalah obat dari segala obat. Karena keikhlasan, tak butuh waktu lama bagi perempuan 40 tahun ini untuk memaafkan para pelaku pengeboman. Beberapa hari setelah musibah ia mengaku telah memaafkan. “Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat, mereka punya hukuman sendiri dari Tuhan,” ujarnya.

Belajar dari tragedi kemanusiaan di Kota Pahlawan yang melibatkan anak-anak sebagai pelaku, Wenny berharap agar setiap keluarga menanamkan kasih sayang, meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan moral, serta membekali anak-anak mereka dengan pengetahuan yang baik.

Baca juga Mengajak Korban Lain Memaafkan

Selain keluarga, Wenny menyatakan Negara mesti lebih sigap menghadapi kejahatan-kejahatan luar biasa. Karena tanggung jawab Negara adalah melindungi rakyatnya. “Kita bersama-sama gotong royong untuk membangun Negara yang damai penuh kasih sayang tanpa membedakan agama dan ras,” tambah Wenny dalam perbincangan melalui sambungan telepon.

Cerita keikhlasan juga datang dari Desmonda Paramartha. Gadis yang kini berusia 21 tahun ini masih ingat betul aksi pengeboman. “Saya lihat ada sepeda motor berkecepatan cukup tinggi nyelonong masuk ke halaman gereja. Pengendaranya dua orang laki-laki berpakaian serba hitam, mengenakan helm full face, serta membawa kardus di bagian tengah. Tak lama setelah itu ledakan terjadi,” ujarnya mengenang.

Baca juga Silahturahmi Penyintas, Mengenang 2 Tahun Bom Kampung Melayu

Peristiwa tersebut menorehkan luka yang tak terlupakan baginya. Namun ia memilih untuk  berdamai dengan keadaan dengan memaafkan pelaku. “Kalau saya tidak memaafkan, para pelaku akan merasa senang. Mereka berhasil membuat saya merasa tersakiti dan mendendam,” tuturnya.

Bagi mahasiswa tingkat akhir salah satu perguruan tinggi swasta di ibu kota Jawa Timur ini, menyimpan dendam tidak akan pernah membawanya pada kebaikan. Kini setelah dua tahun berlalu, ia justru semakin memahami bahwa tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kekerasan.

Baca juga Silaturahmi, Upaya Penyintas Untuk Saling Menguatkan

“Semua agama mengajarkan  kebaikan dan cinta kasih. Kalau kita mampu belajar memahami ajaran kebaikan tersebut, tentu tidak akan pernah timbul dendam, tidak akan pernah timbul pemikiran yang buruk terhadap agama lain,” ujarnya tegas.

Senada dengan Wenny, Desmonda berharap tak akan ada lagi peristiwa pahit seperti yang dialaminya. “Mari bersama menghargai perbedaan dan menyebarkan cinta kasih, bekerja bersama mewujudkan Indonesia yang lebih aman, lebih damai bagi kita semua,” katanya. [NOV]

Baca juga Keluarga Berperan Penting dalam Menjaga Kedamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...