HomeBeritaDialog Mantan Napiter dengan...

Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMKN 3 Surakarta

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melanjutkan kampanye perdamaian di kalangan pelajar dengan menggelar Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMKN 3 Surakarta, dua pekan lalu. Dalam kegiatan ini, hadir salah satu narasumber inspiratif dari unsur mantan narapidana terorisme (napiter), Sumarno alias Asadullah.

Ia dihukum karena terbukti menyembunyikan senjata dan bahan peledak milik kelompok terorisme. Ia menceritakan awal mula dirinya bisa terjerumus ke dalam kelompok ekstremisme kekerasan. Salah satu faktor pendorongnya adalah lingkungan terdekat. Sumarno tumbuh dan belajar di lingkungan yang eksklusif dan menganjurkan kekerasan.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 1 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Namun itu semua telah menjadi masa lalu. Saat ini Sumarno telah bertobat. Ia menyadari bahwa aksi kekerasan bukanlah langkah yang bijak, karena telah menciptakan ketidakadilan baru. Banyak orang tak bersalah menjadi korban. Sebagai bentuk ‘penebusan dosanya’, Sumarno kini aktif mengampanyekan perdamaian bersama dengan korban bom.

Merespons kisah Sumarno, salah satu peserta bertanya perihal ketidakadilan yang disinggung oleh Sumarno. “Jika ketidakadilan tidak boleh dibalas dengan ketidakadilan, lalu langkah seperti apa yang harus diambil agar tidak tercipta spiral kekerasan,” ujarnya bertanya.

Baca juga Siswa SMAN 1 Surakarta Belajar Ketangguhan dari Penyintas Bom

Sumarno menegaskan, Indonesia adalah negara hukum. Oleh sebab itu, apabila seseorang melihat atau merasakan ketidakadilan, maka hendaklah ia menyerahkannya ke ranah hukum. Ini dilakukan agar asas keadilan dapat diraih, sekaligus menghindari jatuhnya korban ketidakadilan yang baru.

“Agama kita (Islam) mewanti-wanti agar kita tidak membalas orang lain secara berlebihan. Apabila kita menjatuhkan hukuman, haruslah adil dengan apa yang kita derita. Oleh sebab itu, kita harus ingat bahwa kita ini berada di negara hukum, maka kembalikan persoalan itu ke ranah hukum. Pendekatan itulah yang lebih baik,” ujar Sumarno.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 1)

Peserta lain menanyakan kiat membentengi diri dari virus ekstremisme. Sumarno mengingatkan, generasi muda saat ini kian rentan terpapar ekstremisme. Musababnya, generasi milenial hidup di masa masifnya penggunaan media sosial. Kelompok ekstrem pun menggunakan media sosial untuk mempropagandakan pemikiran mereka.

“Di dunia maya itu sangat banyak narasi-narasi yang sangat mudah kita akses, namun justru menjerumuskan. Kita harus berusaha menelaah informasi dari sana. Makanya kita perlu bertanya kepada yang lebih tahu, bisa guru atau ulama kita. Sehingga kita terhindar dari pengaruh yang menyeret kita ke arah radikalisme,” demikian pesan Sumarno.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 2- Terakhir)

Di akhir paparan, Sumarno bercerita tentang dukungan warga sekitar terhadap perubahannya kini. Saat masih aktif di jaringan, Sumarno tidak pernah memedulikan masyarakat yang mengucilkan dirinya dan kelompoknya. Namun ketika Sumarno bertobat, warga sekitar menerimanya kembali dengan tangan terbuka. Ia pun sadar betapa pentingnya kehadiran mereka. Sumarno bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik. [FAH]

Baca juga Hikmah dari Kehidupan Penyintas dan Pelaku Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...