HomePilihan RedaksiPeringatan Bom Bali: Momentum...

Peringatan Bom Bali: Momentum Penguat Persaudaraan

Bulan Oktober menjadi ingatan khusus bagi penyintas terorisme. Ledakan bom terbesar sepanjang sejarah aksi teror di Indonesia terjadi di bulan ini, tepatnya 12 Oktober 2002, di kawasan Legian, Kuta, Bali. Tiga tahun berselang di bulan yang sama, di Pulau Dewata pula, serangan teror bom kembali terjadi. Dikenal dengan peristiwa Bom Bali II 1 Oktober 2005.

Di luar bulan Oktober, di wilayah yang lain, aksi teror juga melanda. Ratusan nyawa telah melayang, ratusan lainnya menderita sakit seumur hidup serta menjadi yatim piatu akibat terorisme. Memeringati 19 Tahun Tragedi Bom Bali, mari jadikan momentum ini sebagai penguat persaudaraan dan perdamaian.

Baca juga Memastikan Kehadiran Negara bagi Korban

Walaupun mengalami penderitaan sangat buruk akibat aksi teror, tidak semua korban lantas terpuruk. Sebagian mereka justru sintas dan menunjukkan daya lenting yang luar biasa untuk bangkit dari musibah. Alih-alih terus meratapi nasib, mereka memupuk semangat ketegaran dan keikhlasan dalam diri, meningkatkan kapasitas, serta senantiasa optimis menatap masa depan.

Kebangkitan penyintas semakin kukuh dengan adanya perhatian negara terhadap pemenuhan hak-hak korban yang semakin baik, salah satunya berupa kompensasi yang telah diberikan kepada mereka setelah belasan tahun masa penantian. Para penyintas pun memahami bahwa sebagian pelaku telah bertobat, menyadari kesalahan mereka terlibat dalam jaringan terorisme.

Baca juga Tantangan Baru Perlindungan Korban Terorisme

Saat ini adalah momentum yang tepat untuk menguatkan persaudaraan di antara sesama anak bangsa. Sebagian penyintas dan sebagian mantan pelaku telah menjalin rekonsiliasi. Telah terjadi proses dialog dari hati ke hati, terlontar permintaan maaf dan telah tersampaikan pemberian maaf di antara penyintas aksi teror dan orang-orang yang pernah terjerumus ke dalam kelompok teroris. Proses itu berlangsung tanpa ada paksaan dalam bentuk apa pun dan dari siapa pun.

Penyintas dan mantan pelaku telah melampaui tantangan masa lalu masing-masing dan kini bahu membahu menyuarakan perdamaian kepada masyarakat luas. Rekonsiliasi penyintas dan mantan pelaku terorisme bahkan tidak berhenti di situ. Baik penyintas maupun mantan pelaku sama-sama mencoba meregenerasikan semangat perdamaian tersebut kepada anak masing-masing. Hal itu sebagaimana yang ditunjukkan oleh Hayati Eka Laksmi, penyintas Bom Bali 2002, dan Ali Fauzi Manzi, mantan anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah (JI).

Baca juga Menyegerakan Kompensasi Korban Masa Lalu

Eka kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya, Imawan Sardjono, akibat Bom Bali 2002. Sementara Ali Fauzi harus merelakan dua kakaknya dieksekusi mati, serta seorang lainnya dihukum penjara seumur hidup, karena terlibat aksi Bom Bali pula. Di balik semua itu, Eka dan Ali berinisiatif menularkan semangat ketangguhan, keikhlasan, serta meredam dendam kepada generasi penerus mereka.

Puncaknya terjadi ketika Eka mengajak putra sulungnya, Alif, dan Ali Fauzi mengajak keponakannya, Zulia Mahendra, yang merupakan putra dari pelaku Bom Bali, Amrozi, untuk merajut semangat persaudaraan. Satu pesan yang pasti terwujud dari pertemuan Alif dan Mahendra adalah, “Mari kita move on dari masa lalu, demi masa depan Indonesia yang lebih damai.”

Baca juga Mengawal Implementasi PP Hak Korban

Di samping Bom Bali atau rentetan aksi teror lainnya, di Indonesia pernah terjadi konflik komunal dan kekerasan massal yang juga memakan sangat banyak korban. Segala peristiwa yang terjadi di masa lalu wajib diserap ‘ibroh-nya dan dijadikan ingatan. Tentu bukan untuk mengungkit luka atau memupuk dendam, melainkan agar kita mengambil pelajaran berharga dari setiap peristiwa.

Masyarakat penting untuk merefleksikan rekonsiliasi penyintas dan mantan pelaku terorisme menjadi prinsip dalam kehidupan sehari-hari. Kedua pihak ibarat sepasang sayap yang bergerak sinergis melambungkan Indonesia menjadi negeri yang lebih damai. Rekonsiliasi tidak mustahil, walaupun memang sangat tidak mudah.

Baca juga Mendorong Terobosan Pemenuhan Hak Korban Lama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...