HomeInspirasiAspirasi DamaiKetangguhan Penyintas Bom Kuningan,...

Ketangguhan Penyintas Bom Kuningan, Ram Mahdi Maulana: dari Amarah Menuju Pemaafan

“Saya depresi luar biasa. Setiap hari marah, emosi, benci, dan dendam. Dulu sehat tapi kini harus tidur dan makan di kursi roda. Bahkan setelah satu tahun, saya masih ingin mencari pelakunya. Kemudian saya sering beriktikaf di masjid dan menenangkan diri. Saya dapatkan hal luar biasa. Perlahan saya hilangkan kebencian dan rasa dendam itu.”

Aliansi Indonesia Damai- Sepotong penuturan di atas disampaikan oleh Ram Mahdi Maulana, penyintas Bom Kuningan 2004. Meski peristiwa itu sudah berlangsung lama, tetapi tidak mudah melupakan kejadian tragis yang mengguncang perjalanan hidupnya. Mahdi, sapaan akrabnya, mengalami luka fisik yang parah dan trauma psikis selama bertahun-tahun. Setelah tujuh belas tahun, ia masih harus berobat dan menggunakan penyangga leher sampai sekarang.

Mulanya ia sama sekali tak menyangka bom akan terjadi di tempatnya bekerja. Saat itu, Mahdi adalah bujangan yang tengah bersemangat  meniti karir.Ia hampir selalu berangkat kerja pada pagi buta dengan sepeda motor, menempuh waktu sekira satu setengah jam dari rumahnya di Bogor menuju kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Tak seperti biasanya, 9 September 2004, setelah shalat subuh ia merasa sangat nyaman berzikir di atas sajadahnya.

Baca juga 16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Ia baru sadar kalau harus berangkat saat matahari mulai merekah. Meski begitu ia tidak telat tiba di kantornya, Kedubes Australia. Mahdi lekas menempatkan diri di pos jaga petugas keamanan. Keadaan kantor hari itu tampak normal dan biasa-biasa saja, bahkan masih sempat bercanda dan menyapa rekan-rekan kerjanya. Sekitar pukul 10.00 WIB, saat ia selesai memeriksa sudut-sudut kantor, ledakan sangat keras tiba-tiba terjadi.

Ia terhempas dan kepalanya terbentur. Pikirannya menjadi kosong, telinganya sudah tidak mendengar apa-apa, dan beberapa saat kemudian kehilangan kesadaran. Namun Mahdi masih mampu bangkit dan segera memeriksa keadaan dan kondisi rekan-rekannya. Sebagian besar dari mereka mengalami luka parah dan lainnya meninggal dunia. Dengan panik ia keluar gedung dan melihat suasana sudah tampak putih dan berasap.

Baca juga Tangis Ketangguhan Penyintas

Ia berjalan tanpa arah dan meraba-raba. Alarm mobil berbunyi di mana-mana. Di luar gedung ia melihat banyak korban berjatuhan dan tergeletak di jalanan sehingga suasana saat itu ia gambarkan sangat kacau. “Saya mendengarkan rintihan orang meminta tolong, merintih sakit dan panas. Saya panik, pikiran saya terpecah, dan tak bisa memprioritaskan siapa yang harus saya selamatkan,” ucap Mahdi dalam salah satu kegiatan AIDA.

Saat itu ia merasa tidak mengalami cedera yang berarti. Mungkin karena fisiknya yang sudah terlatih sebagai tim keamanan, ia merasa tak ada cedera berarti. Ia lantas memilih tetap berjaga di kantor untuk mengamankan kekacauan. Selama tiga hari setelah ledakan, ia masih berjaga di kantor dan mengawal kunjungan para pejabat. Ia sempat merasa sedikit pusing, tetapi berpikir hanya efek kelelahan karena tiga hari bekerja lebih padat.

Baca juga Mengelola Amarah

Ia bahkan lupa mengabari keluarganya, terutama karena telepon selulernya hilang saat kejadian. Pihak keluarga pun menduga Mahdi menjadi salah satu korban tewas sehingga sempat menggelar kenduri tahlilan. Baru pada hari keempat pascamusibah, ia memutuskan pulang ke rumah dan disambut dengan tangis haru keluarga. Mereka tak menyangka Mahdi ternyata masih selamat. Namun selang beberapa jam kemudian, saat berkumpul dengan keluarga besarnya, tiba-tiba matanya memerah, kepalanya terasa sangat sakit, dan tak lama setelah itu pingsan.

Ia dilarikan ke rumah sakit dan selama dua hari tak sadarkan diri. Pihak keluarga lantas melaporkan kondisi itu kepada atasannya. Pihak Kedubes kemudian merujuknya ke salah satu rumah sakit di Karawaci Tangerang. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, ia mengalami benturan di bagian kepala sehingga menyebabkan adanya gumpalan darah di otak. Bagian gendang telinga kanannya rusak dan sampai saat ini masih sering berdenging. Ia juga mengalami patah tulang rahang sebelah kanan, dan rahang sebelah kiri lepas.

Baca juga Beragama yang Bermaslahat

Walhasil Mahdi harus menjalani serangkaian operasi pemulihan dan terus mengonsumsi 14 jenis obat untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Ia juga mengalami gangguan saraf dan penurunan fungsi tubuh. Kondisi itu diperburuk oleh emosi yang tak stabil, amarah, depresi, dan kebencian serta dendam terhadap pelakunya. Ia menjalani fisioterapi untuk memulihkan tangan yang tak bisa bergerak dan kaki yang harus dilatih berjalan lagi. Selain itu, ia mesti rutin cek darah dan memulihkan emosinya ke psikolog.

Dua tahun setelah kejadian itu berlalu, Mahdi mulai pulih dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Tetapi dirinya masih saja mengalami depresi. Musababnya, ia tak mampu bekerja secara maksimal seperti dulu. Rekan-rekan kerjanya menilai, Mahdi tak mungkin mampu bekerja seperti dulu dan karena itu ia merasa diremehkan. Mahdi sempat berniat untuk keluar dari pekerjaannya. Ia merasa sakit hati, dendam, kecewa, dan tak bisa menerima keadaan. Sejak itu ia merasa masa depannya tak tertolong lagi.

Memilih memaafkan

Memendam dendam ternyata malah menjadi beban bagi pikiran Mahdi. Suatu saat ia merenung, bertanya-tanya sampai kapan mesti menyimpan rasa benci. Ia kemudian rutin beriktikaf di masjid. Ia bertemu seorang ulama yang mengatakan, “Saya tahu apa yang kamu rasakan. Kebencian itu akan terkikis dan kebaikan tidak akan pernah habis. Di mana pun kamu berdiri di situlah lahan dakwahmu,” ucap Mahdi mengulangi ucapan orang yang tak dikenalnya itu.

Selama belum bisa manunggaling kersane gusti (tidak menyatu dengan kehendak Allah), maka Mahdi akan terus berkeluh kesah. Peristiwa dan nasehat ulama itu menohok kesadaran Mahdi. Rupanya musibah yang menimpanya adalah bagian dari takdir Allah. Ia lantas memanjatkan syukur kepada Allah karena masih memberinya kesempatan hidup. Hatinya jauh menjadi lebih ikhlas, tenang, dan damai. Ia pun mengurungkan diri untuk keluar dari pekerjaannya.

Baca juga Beragama dengan Aman

Selain peristiwa itu, ia juga memergoki seorang perempuan tengah memberi makan kucing yang kakinya patah. Ia mendengar perempuan itu mendoakan orang yang telah menyakiti kucing itu. Ia menganggap pengalaman itu sebagai pembelajaran yang sangat berarti. Hatinya mulai terbuka untuk memaafkan orang lain. Ia sangat terkesan dengan ketulusan perempuan itu. Menurut Mahdi itulah ajaran Islam yang sesungguhnya, yaitu memaafkan kesalahan orang lain, termasuk orang yang sudah berbuat jahat sekalipun.

Dua tahun lalu dalam kegiatan AIDA, Mahdi dipertemukan dengan mantan narapidana terorisme. Dari perjumpaan itu, ia menyadari bahwa mantan pelaku ternyata mengalami keadaan hidup yang tidak mudah, apalagi setelah mengakui kesalahannya. Ia lantas memaafkannya dan berkomitmen untuk mensyiarkan perdamaian bersama. “Saya dipertemukan dengan apa yang dulu saya anggap musuh. Ternyata setelah mendengar kisah mantan pelaku, mereka pun dalam hatinya bergejolak. Kami akhirnya bisa berangkulan dan saling memaafkan,” terang Mahdi.

Baca juga Mengarifi Konflik

Ia berharap rekonsiliasi dengan mantan pelaku terorisme dapat menjadi puncak dari keikhlasannya menerima seluruh ujian yang dihadapi. Ia juga berharap tidak ada lagi kekerasan-kekerasan mengatasnamakan agama. “Mari kita saling menghargai dan bersama-sama menyebarkan perdamaian,” ujarnya. Ia menyatakan bahwa peristiwa buruk yang menimpa seseorang bukanlah alasan untuk terpuruk dan meratapi keadaan. Sebaliknya ujian selalu ada agar setiap orang mampu bangkit dan menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.

Lika-liku kehidupan membuat Mahdi merasakan banyak peristiwa yang mengajarinya tentang ketangguhan hidup. Ia tak pernah lagi meratapi kekurangannya. Ia juga tak lagi bicara tentang baik dan buruk, positif dan negatif, karena hal itu menurutnya bersifat relatif. Ia lantas merenungi makna dari sebuah cinta yang sifatnya absolut dan selalu memberi. Ia merasa apa yang menimpanya adalah takdir Ilahi yang harus diterima, dan bukan diratapi.

Baca juga Meneladani Penyintas Bom

Ia belajar menghilangkan dendam dan kebencian melalui berbagai tempaan spiritualitas dan perenungan. Ia kemudian menularkan arti keikhlasan kepada anak-anaknya. Ia selalu meminta buah hatinya agar tidak pernah menyimpan dendam kepada orang lain. Menurut Mahdi, seseorang yang memberi maaf tidak cukup sekadar mengulurkan tangan semata. Lebih dari itu, yang penting adalah kesediaan melapangkan dada sebagai tanda bahwa ganjalan hati akibat kesalahan orang lain telah lepas dari dalam diri.

Baca juga Penyintas Bom Melampaui Ketangguhan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....